2.9.08

tikungan sejarah

Setidaknya ada 2 tikungan panjang dalam sejarah dunia. Pertama, ketika Hulagu Khan menyerang Baghdad (1258) dan Damaskus, pusat-pusat peradaban muslim persis ketika dinasti-dinasti muslim di Timur Tengah sedang lemah. Pemimpin militer buta huruf itu menjarah Kota 1001 Malam di Lembah Mesopotamia itu; membuang seluruh isi perpustakaan ke sungai Efrat. Perpustakaan itu tidak hanya menyimpan karya-karya peradaban Islam, tapi juga manuskrip-manuskrip berharga dari peradaban Yunani. Saking banyaknya buku-buku yang dibuang, sungai Efrat menghitam karena tinta yang luntur.

Sungguh ironis! Sebuah peradaban besar yang dibangun selama lebih dari 6 abad dihancurkan oleh Hulagu yang bahkan namanya sendiri tak mampu ia tulis. Peradaban Islam tak lagi mampu bangkit karena kehilangan buku-buku yang menjadi mercusuarnya. Kaum muslim kehilangan hampir seluruh kekayaan intelektualnya di tangan seorang barbar.

Namun alhamdulillah, serangan Hulagu Khan ke Mesir bisa ditahan oleh Dinasti Mamluk. Kalau tidak, mungkin generasi kita tidak bisa membaca Muqaddimah, masterpiece Ibn Khaldun yang mengukuhkannya sebagai Bapak Ekonomi Islam, Sejarah dan Sosiologi. Dinasti Mamluk berhasil menyelamatkan perpustakaan-perpustakaan
terakhir di Cairo (al-Qahirah), Alexandria (Iskandariyah), dan mercusuar-mercusuar peradaban Islam terakhir di Afrika Utara.

Tikungan kedua, adalah ketika penaklukan-penaklukan kaum muslim sampai ke Wina, jantung peradaban Eropa. Tapi kaum muslim gagal menembus pertahanan kota itu. Kegagalan yang sama ketika pasukan Abdurrahman al-Ghiffari dari Dinasti Umayyah di Andalusia (Spanyol sekarang), gagal menaklukkan Perancis Selatan. Para sejarawan berandai bahwa jika kedua penaklukan itu berhasil maka generasi kita akan menjumpai Eropa yang muslim. Takbir akan berkumandang di London, Paris, Berlin seperti biasanya berkumandang di kota seribu menara, Kairo dan Istanbul (Konstatinopel).

Ah andai saja kedua tikungan itu tidak pernah ada, mungkin generasi kita akan memiliki peradaban yang amat kaya, amat harmoni. Tabiat sekular-gnosis peradaban Barat akan bisa diimbangi dengan tabiat relijius peradaban Islam. Ilmu kedokteran Barat yang menyisihkan unsur-unsur spritual, seperti kepercayaan terhadap kekuatan doa, akan bisa diimbangin dengan ilmu kedokteran Islam yang berakar hingga ke Nabi Muhammad dan generasi muslim pertama. Kapitalisme dan Sosialisme mungkin tak pernah laku dijual. Kaum muslim akan mempunyai modal dan elan vital untuk merevitalisasi peradabannya dengan modal buku-buku
yang dibuang oleh Hulagu itu. Tapi Allah berkehendak. Rahasia Allah siapa yang tahu..


Catatan kecik :
  • Karena keterbatasan waktu saya tidak menyertakan referensi, tanggal dan waktu penaklukan kaum muslim ke Wina dan ke Perancis Selatan. Pembaca mungkin ada yang tahu. Silahkan ditambahkan.
  • Hulagu Khan yang barbar itu mempunya saudara (tiri) yang terpelajar: Khubilai Khan. Andai Khubilai Khan yang ditugaskan menyerang Baghdad, mungkin ia lebih arif.
  • Apa yang dilakukan Pasukan Sekutu ketika menaklukkan Baghdad pada Perang Teluk II, mirip dengan Hulagu yang Barbar. Para penjarah benda-benda antik dibiarkan berkeliaran bebas menjarah musium-musium / perpustakaan Baghdad. Maka jangan heran, sejak zaman perang salib & kolonialisme+orientalisme; musium-musium, perpustakaan-perpustakaan di Barat, baik yang publik maupun pribadi banyak menyimpan benda-benda / buku-buku dari zaman keemasan Islam

1.9.08

kerendahan hati

Akhirnya si dia datang juga. Bagi saya, Ramadhan adalah bulan untuk belajar tentang kerendahan hati. Banyak ceramah agama yang akan saya dengar di masjid. Penceramahnya pun beragam latar belakangnya. Ada yang benar-benar berasal dari pendidikan agama, ada juga orang-orang dari fakultas umum yang tercerahkan dan berani berdiri di mimbar itu. Beberapa di antaranya ada juga yang berasal dari fakultas umum tapi pernah nyantri. Agama Islam memang satu-satunya yang tak mengenal sistem kependetaan. Jadi setiap muslim adalah da'i. Nabi juga pernah bersabda: "sampaikan tentangku walau hanya satu ayat." Itu juga yang membuat Islam menyebar dengan cepat ke seantero nusantara karena tanggungjawab dakwah tidak hanya diemban pemuka agama, tapi didistribusikan ke setiap muslim.

Allah berfirman bahwa umat Muhammad adalah sebaik-baik umat yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Semuanya tanpa terkecuali punya hak/kewajiban untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Meskipun Nabi pernah berfirman bahwa ulama adalah pewaris Nabi. Namun yang harus kita pahami bahwa yang mereka warisi bukan otoritas kenabian yang kemudian memberikan legitimasi bagi para ulama untuk membentuk hirarki kepemimpinan ala Vatikan. Yang diwariskan pada ulama adalah otoritas keilmuan beserta dedikasi dan tanggungjawab yang menyertainya. Jadi lebih bermakna tanggungjawab ketimbang hak.

Lebih jauh lagi, pengertian ulama dalam bahasa Arab lebih luas cakupannya ketimbang yang diadopsi oleh bahasa Indonesia. Ulama tidak hanya sebatas mereka yang mendedikasikan hidupnya pada pengetahuan keislaman, tapi juga mereka yang mendedikasikan hidupnya pada samudera ilmu yang Allah turunkan ke muka bumi. Maka dalam bahasa Arab, fisikawan yang bergelut dengan ayat-ayat kauniyyah, sosiolog yang berusaha memahami ayat-ayat Allah di tengah hiruk pikuk masyarakat dan membentuknya menjadi postulat dan teori sosial bisa juga disebut ulama. Maka tak heran, para astronom, dokter dan fisikawan di zaman keemasan Islam adalah juga orang-orang yang taat beragama. Berbeda dengan fisikawan Barat zaman sekarang yang hampir 70% gnosis / ateis. Konsep Newtonian yang mekanis dan Cartesian yang dikotomis tidak memberi ruang bagi Tuhan di jagat raya. Physics present in the absence of the Omni Present.

Kembali ke Ramadhan. Duduk diam mendengar ceramah agama, terkadang tidak mudah bagi saya. Tak jarang si penceramah salah atau kurang fasih dalam melafalkan ayat dan hadits. Atau kurang baik dalam menerjemahkannya ke bahasa Indonesia. Apa yang saya rasakan, mirip dengan apa yang dirasakan tukang stel piano. Sedikit nada sumbang amat tidak menyenangkan.

Tapi lagi, mungkin dengan cara itu Allah memberi saya jalan untuk belajar kerendahan hati. Berusaha menjadi pendengar yang baik, berempati dengan keterbatasan pengetahuan agamanya, dan menghargai keberaniannya berdiri di mimbar itu. Yup, keberanian. Mungkin hanya itu yang saya tidak miliki. Bagi saya berdiri di mimbar mesjid seperti ujian disertasi doktor dimana saya harus mempertanggungjawabkan (otoritas) keilmuan saya di depan pemirsa. Karenanya mungkin bisa dihitung dengan lidi berapa kali saya pernah berdiri di mimbar. Mungkin 2 - 4 tahun lagi saya bisa berdiri dengan baik di atas mimbar itu.

Tak lupa saya ucapkan, "Selamat beribadah di bulan Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin. Ya Allah, terimalah shalat, puasa, rukuk, sujud, khusyuk, taabbud, dan sempurnakanlah takaran (pahala) kami." [ ]

recent post