Kedua, buku ini disadur dari karya al-Ghazali, al-mahabbah wa al-uns wa as-syawq wa ar-ridho. Saya memang dialektis, aristotelian, lebih dekat kepada Ibn Rusyd. Membaca buku ini seperti menziarahi seorang "kawan" lama. Berkunjung ke alam pikiran intuitif, alternatif dari cara berpikir rasioanal. Sebuah upaya untuk menerima kebenaran tidak dengan akal. Tidak melawan akal, tapi melampauinya. Tidak anti-rasional, tapi supra-rasional.
Ketiga, dalam buku ini, saya menemukan bahwa ujung cinta adalah ridho, kerelaaan, ketulusan, keikhlasan. Ia menjelma kesadaran tertinggi. Mungkin itu sebabnya surat yang menyatakan konsep tauhid, dinamakan surat al-Ikhlas. Dalam ayat-ayat lain diungkapkan bahwa hubungan Allah dengan hamba-hambanya adalah ridho yang resiprokal, yang dua arah. Saya kira inilah bagian intim dari ajaran Islam.
Al-Ghazali menyatakan bahwa bukan ketaatan yang melahirkan cinta. Tapi cinta-lah yang melahirkan ketaatan. Jadi, awalnya bukan ketaatan, tapi cinta. Buku ini mengapresiasi sisi lembut Sang Pencipta: Maha Indah, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Maha Cinta.
Saya rasa cara mencintai sesama manusia adalah tetesan dari ajaran mencintai Sang Maha Cinta. Bahwa mencintai seorang makhluq, katakanlah, seorang lawan jenis, tak lain adalah pendaran, illuminasi dari cinta kepadaNya.
Catatan kecik:
- Islam sendiri secara harfiah berarti keselamatan, kedamaian, penyerahandirian total. Bukan kepasrahan pasif tapi ke-berserahdiri-an aktif. Itulah sejatinya pengertian tawakkal. Dalam bahasa populer, kita mengenal istilah "doa dan usaha"
- Buku itu saya hadiahkan kepada seorang gadis yang mungkin takkan saya jumpai 1-2 tahun mendatang. Saya menyukainya sejak pertama kali melihatnya dengan jilbab putih dan kaos orange, ketika datang terlambat. Saya masih ingat dengan baik hari itu. Seperti bab pertama dari Laskar Pelangi. Atau bab pertama dari Negeri Hujan, sebuah novel Thailand yang pernah diajukan untuk mendapat nobel sastra.
