14.2.10

Karmic Koala payah ! Lucid Lynx ..?

Sudah lama pengen nge-review Ubuntu Linux 9.10 Karmic Koala. Kalau para maniak film berbondong-bondong ke bioskop ketika ada film bagus, nah gw ikut rombongan yang berbondong-bondong tanggal 1 November 2009 ke warnet ngedownload (sampai mampus!) 678 MB ISO Karmic Koala.

Thanks to TelkomSpeedy yang udah memperlebar bandwith-nya. Hanya butuh 4 - 5 jam plus uji traffic bandwith berbagai mirror kira-kira 20 menit. Sempet juga nge-daftar di https://shipit.ubuntu.com/ yang hasilnya alhamdullillah 1 CD Original Pabrikan dari Markas Canonical di Eropa sampai sebulan kemudian. Kalo dihitung-hitung ongkos download-nya, sama aja dengan beli CD ke si http://kambing.ui.edu/ 

Yah, hitung-hitung nyobain seberapa lebar pita akses internet Indonesia. Mulai dari jaman modem jangkrik krik krik, antena 2,4 GHz, ADSL (Classic), sampe jaman ADSL-nya Speedy, alhamdulillah lumayan. Tapi mengingat negara amburadul kayak Pakistan aja akses internetnya 10x lipat cepatnya dibanding Indonesia, jadi mules juga :)

REVIEW
Okeh, review singkat. Boleh dikata, kekhawatiran berbagai pihak terhadap pola release Ubuntu setiap akhir April (.4) dan Oktober (.10), yang dianggap terlalu cepat dan terkesan dipaksakan bisa jadi benar. Buktinya :
  • Beberapa feature konfigurasi audio yang lebih baik di 9.04 malah hilang di 9.10.
  • Default theme yang lebih menarik sebagaimana digembar-gemborkan CEO Canonical Mark Shuttleworth tidak terbukti. Saya masih lebih suka theme mirip Apple Mac atau theme lama dengan warna yang lebih adem.
  • Usplash diganti Xsplash ? Penting gak sih.
  • Tampilan booting yang berubah. Lebih jelek dari sebelumnya.
  • Program boot menu Grub2 ternyata gak mengesankan. Grub1 meskipun sederhana tapi mudah dikonfigurasi. Atau mungkin lebih tepatnya: Simple is effective (and beautiful? ).

Satu-satunya kelebihan Karmic Koala dibanding pendahulunya, Jaunty Jackalope cuman stabilitas sistem yang lebih baik. Pertanyaannya, bisakah kita berharap lebih baik 2 bulan  lagi akan release Ubuntu 10.04 Lucid Lynx yang digadang-gadang sebagai edisi Long-term Support (LTS) ? Apakah akan mendapat apresiasi yang lebih baik ketimbang Windows 7 ?



26.7.09

finally, Jaunty Jackalope

bebas.vlsm.org

Beberapa bulan yang lalu saya menerimakiriman CD Ubuntu Linux versi terbaru dari vendor komersil-nya, Canonical Ltd. Sama sekali tidak menyangka bahwa kiriman itu benar-benar gratis. Awalnya saya mendaftar untuk mendapatkan rilis terbaru Ubuntu yang berkode Jaunty Jackalope itu di situs https://shipit.ubuntu.com

Dulu saya pernah dengar bahwa setiap rilis Ubuntu, selalu ada acara bagi-bagi CD gratis di seluruh dunia melalui Komunitas Ubuntu di setiap negara. Saya kira kalaupun CD benar-benar dikirimkan, Komunitas Ubuntu Indonesia yang akan melakukannya. Ternyata CD itu dikirimkan langsung dari kantor pusatnya di Eropa. Agak bingung menjelaskan letak persisnya kantor pusat Canonical. Di sampul belakang paket seukuran 20x20 cm disebutkan bahwa Canonical Ltd teregistrasi di Isle of Man. Sementara cap pos dari perusahaan pengiriman TNT beralamatkan sebuah kotak pos di Belanda.


Sedikit tentang Canonical

Isle of Man? Belum pernah denger tuh. Ternyata, Isle of Man adalah sebuah pulau di tengah Inggris Raya. Dan yang menakjubkan, pulau mungil itu adalah sebuah negara dengan status Crown Dependency. Mirip Commonwealth. Bedanya kalau negara-negara commonwealth benar-benar negara merdeka, sedangkan CD adalah negara yang dikepalai langsung oleh Ratu Inggris dan kepala pemerintahannya adalah seorang Gubernur Letnan. Pulau ini bukan bagian dari Kerajaan Inggris meski secara geografis merupakan bagian dari Inggris Raya (Great Britain).

Anehnya lagi, meski Canonical terdaftar di Isle of Man, di Wikipedia disebutkan bahwa kantor pusat operasionalnya berada di gedung Milbank Tower, di tepi sungai Thames, London. Meski para programmer biasanya bekerja secara virtual melalui rumah, Canonical juga membuka kantor layanan dan dukungan di Montreal Kanada plus sebuah kantor untuk tim OEM di Massachusetts, Amerika Serikat.

Setelah membaca profil Isle of Man di wikipedia, saya mengerti kenapa Canonical yang berstatus private company itu teregistrasi di sana. Negara kecil itu amat permisif soal pajak. Seperti kebanyakan proyek open source lainnya, pendapatan Canonical berasal dari layanan pihak ketiga, tidak dari penjualan komersial CD Ubuntu Linux karena Linux pada dasarnya gratis di-download, diperbanyak dan didistribusikan oleh siapa saja. Dengan terdaftar di Isle of Man, potongan pajak yang dikenakan lebih rendah dari negara-negara besar semacam Inggris dan Amerika. Pun, aturan hukum Eropa dan Kanada lebih nyaman bagi para pengembang open source yang bekerja lebih karena alasan sosial (volunteerism) ketimbang profit.  


Dari *.rpm ke *.deb

Pengalaman saya dengan rilis Ubuntu sebelumnya tidak begitu baik. Ubuntu 8.10 yang dirilis di tahun 2000 bulan ke-10 tidak berjalan dengan baik karena kurangnya dukungan terhadap Kartu Grafis S3/Unichrome buatan Via di laptop saya. Ubuntu bisa dijalankan tapi tidak bisa di-shutdown dengan baik. Benar-benar menjengkelkan ! Akhirnya, saya menginstall OpenSuse 11.1 meski tidak antusias. Dengan dual-boot, saya lebih sering menggunakan Windows XP. Font OpenSUSE jelek seperti kebanyakan distro Linux sementara Slab (Menu Program) terasa menjengkelkan. Saya lebih suka tampilan default Gnome Menu yang lebih user-friendly.

Setelah menginstall Ubuntu 9.04, saya benar-benar kagum pada dukungan grafisnya. Tidak hanya font yang sebanding dengan font Windows Vista, icon-icon Ubuntu bahkan lebih cool. Themes standarnya memang tidak bagus. Saya ganti dengan themes New Wave. Tapi belum juga puas. Akhirnya, setelah googling sana-sini, saat ini saya menggunakan theme Mac OS X Leopard dari mac4lin, salah satu proyek Sourceforge. Penerapan theme Mac di Linux bahkan lebih mendekati aslinya ketimbang di Windows yang mengandalkan Stardock dan Stylexp atau Flykiteosx. 

Tapi masalah terbesarnya bukan sekedar lipstik dan makeover seperti dandanan Mac OS X. Mengubah kebiasaan dari menggunakan distro linux berbasir rpm (Fedora, OpenSUSE, Mandriva, Nusantara) ke distro berbasis deb (Debian, Ubuntu, Blankon, gOS, Knoppix, Mepis). Banyak perintah di Command Line Interface atau Terminal / Console yang khas Debian yang harus dipelajari lagi. Khususnya cara instalasi program (apt, dpkg). Tapi setelah mempelajari beberapa tutorial (sebagiannya sudah usang :) akhirnya saya bisa menggunakan Ubuntu dengan baik.


Windows XP dikandangkan

Ubuntu adalah salah satu distro yang dirawat dengan sangat baik, baik oleh vendornya maupun para developer volunteer. Keduanya pun berkolaborasi melalui launchpad.net. Karena itu paket program yang bisa diinstall di Ubuntu sangat banyak. Selain kemudahan penggunaanya, faktor ini juga membuat Ubuntu sebagai distro linux terpopuler versi distrowatch.com. Selain itu, untuk perbanding software Linux vs Windows bisa ditemukan di linuxappsfinder.com

Karenanya saya amat jarang menggunakan Windows XP kecuali untuk ACDSee, MS-Office 2007 dan terkadang UltraISO. Fitur "Batch Editing" ala ACDSee belum ada tandingannya di Linux. Fitur "skip bad sector" di UltraISO sedikiiiit lebih baik ketimbang Brasero. Juga, masih ada masalah kompatilitas Office2007 terhadap OpenOffice 3.0. File *.docx yang dibuat dengan Office2007 kadang tampil berantakan jika dibuka dengan OpenOffice. Begitu juga sebaliknya. (Kalau gak salah,  developer OpenOffice sedang memperjuangkan standar dokumen untuk mengatasi masalah interoperabilitas lewat jalur hukum dengan menggunakan UU Anti-Trust. )

Akhirnya Win XP saya hapus sama sekali dan saya "kandangkan" di dalam VirtualBox buatan SUN. Bila perlu pake 3 program di atas, saya tidak perlu me-restart komputer lagi. Cukup dengan menghidupkan mesin virtual dan WinXP langsung muncul.

Viva Ubuntu !





recent post