Showing posts with label spritual. Show all posts
Showing posts with label spritual. Show all posts

16.12.08

HB Jassin dan keindahan sastrawi al-Qur'an (edited)

PENDAHULUAN (just skip this boring part)
Minggu lalu saya mengikuti 3 diskusi tentang ilmu Tafsir al-Qur'an di 2 tempat. Diskusi pertama membedah buku yang merupakan hasil disertasi doktoral Dr. Moh Matsna HS, MA, seorang dosen Sastra Arab UIN Jakarta. Judulnya, "Orientasi Semantik Tafsir al-Zamakhsyari: Kajian Makna Ayat-ayat Kalam". Pembedahnya, dosen sepuh, Prof Muslim Nasution, Guru Besar Ilmu Kalam, UIN Jakarta. Amat disayangkan, Dr. Phil. Nur Kholish Setiawan tidak hadir. Beliau Dosen Ilmu Tafsir, penulis buku "Al-Quran Kitab Sastra Terbesar."

Diskusi kedua berangkat dari sebuah paper kesarjanaan berjudul "Purposes Exegesis: a study of Quraish Shihab's thematic interpretation of the Qur'an." Sederhananya, membedah metodologi tafsir tematik (maudhu'i) yang digunakan Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan al-Qur'an. Buku tersebut mengkaji tema-tema besar dari al-Qur'an: manusia, Tuhan, Agama dst.

Diskusi ketiga dimulai dari paper berjudul "The Controversy around HB Jassin: a study on his al-Qur'anul Karim Bacaan Mulia & al-Qur'an Berwajah Puisi." Alhamdulillah, diskusi ini difasilitasi langsung oleh penulis paper, Dr Yusuf Rahman. Kalau tidak salah, paper itu menjadi titik tolak disertasi doktoral beliau.

TAFSIR, FILSAFAT ILMU & PARADIGMA PEMIKIRAN
(just skip this boring part)
Saya tidak mendalami Ilmu Tafsir dan ilmu-ilmu keislaman lainnya. Namun saya membutuhkan basis pengetahuan tafsir sebagai pijakan normatif - radikal bagi keseluruhan bangunan paradigma pemikiran saya sebagaimana saya meletakkan al-Qur'an--dan semangat Tauhid yang dibawanya--sebagai pondasi. Dalam tingkat intelektualisme tertentu, memahami al-Qur'an tanpa memahami tafsir berikut disiplin yang melingkupinya (sastra Arab, asbabun nuzul dst) sia-sia saja. Dalam peta pikiran, saya membangun filsafat ilmu pribadi berdasarkan beberapa diskursus, mulai dari gagasan Islamisasi pengetahuan Ismail Raji' al-Faruqy (beserta polemik yang dilahirkannya) hingga gagasan Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo. Lebih dari itu, saya membaca perbincangan klasifikasi ilmu dari abad keemasan Islam (Ibn Sina, al-Ghazali, Ibn Miskawaih dst). Suatu saat saya berharap bisa mengintegrasikan keseluruhan diskursus epistomologis ini beserta sekelumit pengetahuan tafsir saya untuk membangun ulang paradigma pemikiran saya.

HB JASSIN & AL-QUR'AN
Blog ini tidak memadai untuk membahas pembicaraan kesarjanaan semacam ini. Tapi ada baiknya saya menurunkan tensi diskusi ketiga ke bentuk tulisan yang lebih ringan, for the sake of enlightening.

Berawal dari acara tahlilan paska meninggalnya istri HB Jassin, terdetik dalam pikiran beliau untuk membuat sebuah terjemahan al-Qur'an ke bahasa Indonesia yang bisa mewakili keindahan sastrawi bahasa aslinya, Arab. Lalu terbitlah Al-Qur'anul Karim Bacaan Mulia pada tahun 1977.

Secara format, buku Jassin ini tidak ada bedanya dengan Al-Qur'an dan terjemahannya yang diterbitkan oleh Departemen Agama. Disisi kanan halaman ada teks al-Qur'an dalam tulisan Arab tentunya dan di sisi kiri, terjemahannya. Yang berbeda adalah gaya terjemahannya. Terjemahan terbitan Depag dikerjakan oleh para pakar tafsir dan sastra Arab terkemuka di Indonesia. Hasilnya: sebuah terjemahan yang biasa, layaknya terjemahan buku Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia.

HB Jassin tidak mempunyai basis kemampuan bahasa Arab apalagi tafsir. Beliau hanya seorang Paus Sastra Indonesia (menurut Gauis Siagian) atau Wali Penjaga Sastra Indonesia (menurut Prof AA Teeuw). Dalam usaha penulisan buku ini, HB Jassin amat terbantu dengan adanya terjemahan al-Qur'an ke dalam bahasa Inggris, bahasa yang cukup dikuasainya. Diantaranya, terjemahan karya seorang muallaf, Sir Marmaduke Pitchall dan seorang Pakistan Muhammad Jusuf Ali. Terjemahan Jusuf Ali adalah terjemahan al-Qur'an ke Bahasa Inggris terbaik dan paling populer hingga saat ini.

KONTROVERSI
Kontroversi timbul dilatari 3 sebab. Pertama, HB Jassin tidak menguasai bahasa serta sastra Arab dan bukan seorang pakar tafsir. Bahkan terjemahan sekalipun (apalagi buku tafsir) membutuhkan 3 hal diatas. Kedua, apa yang dilakukan HB Jassin mungkin adalah yang pertama di dunia. Bagi sebagian orang itu adalah ide jenius. Sebuah invention. Bagi sebagian lain, itu adalah bid'ah yang tidak punya rujukan atau basis dalil/hujjah/reason dari sumber-sumber hukum Islam. Ketiga, al-Qur'an secara jelas "membela dirinya sendiri" lewat ayat-ayatnya bahwa ia bukan kitab sastra. Meletakkan al-Qur'an sebagai hanya karya sastra semata berarti merendahkan al-Qur'an itu sendiri. Fungsi utama al-Quran adalah sebagai petunjuk bagi umat manusia.

Para diskusan setuju bahwa karya Jassin ini bermaksud menyampaikan ketinggian sastrawi al-Qur'an kepada bangsa Indonesia yang tidak menguasai sastra Arab.

Dari keseluruhan polemik yang kemudian mencuat, semuanya mengerucut pada keberatan utama: Jassin bukan pakar tafsir karena itu ia tidak pantas menulis sebuah terjemahan al-Qur'an sekalipun. Apa yang dilakukan Jassin sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Sayyid Qutb pernah menerbitkan Tafsir Fi Dzilaalil Qur'an. Latar belakang pengetahuan sastra Arab SQ membuat tafsir tersebut cendrung sastrawi. Di abad keemasan Islam, dikenal juga tafsir-tafsir yang indah, semacam Tafsir Ibn Araby, Tafsir al-Ma'ani dst. Juga tafsir yang membahas satu demi satu kosa kata al-Quran.

KESIMPULAN
Agaknya kita harus merespon positif karya HB Jassin ini. Bila segala sesuatu dinilai dari niat, maka karya Jassin ini lahir dari kecintaan pada al-Qur'an, bukan maksud buruk. Dan akhirnya, paska polemik, sejarah memenangkan Jassin: terjemahan itu mengalami cetak ulang terus menerus hingga saat ini. Hmmm, bila suatu saat menikah, saya mungkin menggunakan karya Jassin ini sebagai bagian dari mahar. Apalagi jika ia yang saya persunting tidak bisa memahami keindahan sastrawi al-Qur'an langsung dari bahasa aslinya :)


Catatan kecik:

Di Indonesia, istilah tafsir & terjemah al-Qur'an seringkali salah pakai. Terjemah harusnya berarti transtalation. Tafsir harusnya berarti interpretation. Ingat waktu ngaji di TPA dulu? Pelajaran Tafsir? Harusnya kan pelajaran Terjemah.

Al-Qur'anul Karim Bacaan Mulia telah mengalami beberapa kali cetak ulang (1977, 1982,

Cetakan 1 diberi kata pengantar oleh Buya HAMKA. Beliau adalah seorang ulama, wartawan, dan sastrawan yang berpikiran terbuka. Kata Pengantar itu memberi "legitimasi apresiatif" terhadap kerja keras Jassin. Tafsir Al-Azhar HAMKA banyak diapresiasi oleh umat Islam di Asia Tenggara.

Gerakan penafsiran kontemporer al-Qur'an di Indonesia dimulai oleh Mahmud Yunus (1899 - 1982) di awal abad 20. Beliau memulai usaha penerjemahan di usia 22 tahun dan menghentikannya sementara atas alasan belajar ke Mesir pada tahun 1924. Usaha penerjemahan yang sudah jalan 3 juz ini memang mendapat banyak tentangan oleh kalangan ulama kala itu karena merupakan suatu hal yang baru dan Mahmud Yunus yang masih belia itu dianggap tidak kompeten. Usaha penerjemahan itu berhasil diselesaikan pada tahun 1938 dan diterbitkan dengan judul Tafsir Quran Karim oleh Penerbit al-Maarif Bandung di tahun 1953.

Selain karya Mahmud Yunus, dikenal pula Tafsir al-Ibriz karya alm KH Bisri Mustofa, ayahandan KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Tafsir itu menggunakan bahasa Jawa yang sederhana dalam huruf Jawi pegon.

Buku Mahmud Yunus tentang Ilmu Pendidikan dan Pengajaran masih digunakan di Gontor hingga saat ini. Boleh dibilang buku beliau adalah pusat pemikiran kependidikan di Gontor. Terang saja, buku itu dibawa oleh salah satu pendiri Gontor, alm KH Imam Zarkasyi yang pernah belajar ke ranah Minang. Kamus Arab - Indonesia karya beliau adalah kamus yang singkat - padat (bila dibandingkan dengan Kamus Mawrid yang tebal dan berat untuk ditenteng-tenteng :) Luar biasa !

Al-Qur'an Berwajah Puisi adalah buku Jassin berikutnya yang tidak sempat beliau selesaikan sebelum meninggal.

Seingat saya, Muhammad Yusuf Ali meninggal di bangku taman di sebuah sudut London di suatu musim dingin dalam keadaan uzur dan kesepian. Beliau memang tokoh yang kontroversial. Di satu sisi dianggap pengkhianat oleh bangsanya karena menjadi bagian dari pemerintah kolonial Inggris di anak benua Asia tersebut. Di sisi lain, terjemahan al-Qur'an ke bahasa Inggris karyanya adalah terjemahan terbaik hingga saat ini. Semoga amal-amal beliau yang terus mengalir dari karyanya tersebut dapat menutupi segala dosa-dosanya. Amin

Kompas konsisten menggunakan istilah Paus Sastra Indonesia. Republika konsisten dengan istilah Wali Sastra Indonesia. Bagi saya kedua koran itu sama konyolnya. Saya aja deh yang ngasih gelar: Kritikus Terbesar Sastra Indonesia. Lebih konyol dan kepanjangan ?

Hingga saat ini tak ada yang mampu menggantikan peran Jassin sebagai Kritikus Terbesar dalam jagat sastra Indonesia. Ia menjadi center of gravity, tukang stempel. Ia menentukan seseorang dianggap sastrawan atau tidak. Pun kerendahan hatinya bersedia menulis kritik sastra untuk karya-karya para sastrawan muda. Bahkan dikritik jelek saja oleh Jassin, para sastrawan muda sudah melambung ke langit ketujuh. Apalagi dipuji ?

Korrie Layun Rampan berusaha meneruskan banyak usaha Jassin sebagai kritikus sastra utama. Dalam beberapa segi, ia berhasil.

11.12.08

bunyi (catatan kaki diralat)

Pernah aku membayangkan bagaimana rasanya duduk di antara para sahabat, ketika Nabi berkeringat dingin menerima wahyu. Begitu berat, menyesakkan, menghentak-hentak bergetar tubuh beliau. Seperti seluruh langit datang pada beliau, masuk hingga ke relung hatinya yang paling dalam. Sungguh beliau, Nabi Muhammad itu, manusia paripurna, Sang Musthofa. Hanya Sang Terpilih yang mampu menghadapi dera cobaan seberat itu.

Lalu suara-suara langit itu, wahyu, mukjizat teragung untuk umat manusia dan seluruh semesta, disampaikan dalam bahasa terindah di muka bumi. Bahasa Arab. Dan para sahabat itu, yang dulunya adalah manusia-manusia paling bebal di muka bumi, menangis sesunggukan mendengar bisikan langit itu. Mereka menyadari bahwa wahyu itu bukan sekedar Bahasa Arab biasa. Itu bahasa langit yang bunyinya "mirip" bahasa Arab.

Aku terheran-heran. Bagaimana mungkin Allah menciptakan sebuah bangsa bebal; yang menguburkan anak-anak perempuan hidup-hidup; memindahtangankan istri-istri mereka di meja judi layaknya barang; pemabuk; yang gemar berperang sesamanya hanya gara-gara perkara-perkara sepele; bisa tersentuh oleh keindahan sastrawi. Di zaman jahiliyyah, Pra Muhammad, mereka gemar mempertandingkan puisi-puisi di tengah-tengah pasar. Lalu puisi terbaik mereka tempelkan di dinding Ka'bah, rumah Allah. Entah Sang Pemilik Rumah marah-marah atau terbahak-bahak melihat kelakuan mereka. Bangsa itu menghargai ketinggian sastrawi melebihi penghargaan mereka terhadap kejantanan seseorang di medan perang; melebihi penghargaan mereka terhadap ketajaman pedang. Para penyair dihormati layaknya para pahlawan.

Maka demikianlah, sebuah bangsa bebal yang menaruh hormat pada keindahan sastrawi diberi kehormatan sebagai yang pertama mendengar wahyu terakhir. Bisikan langit yang meluluhlantakkan seluruh pandangan dunia mereka. Dan diatas puing-puing kebodohan itu, sebuah dunia baru tercipta.

Dan aku masih disini, teringat betapa terpukaunya aku saat belajar sedikit saja dari samudera keindahan sastra Arab: balaaghah, ma'aani dan bayaan. Betapa bahasa Al-Qur'an bagai banjir bandang yang meluluhlantakkan keseluruhan sistem sastrawi Arab. Jangan heran bahwa Allah dengan pongah menantang kepongahan manusia untuk menciptakan satu saja ayat yang bisa menandingi bahasa langit ini, yang menetes dari Lauhul Mahfudz.

Lebih dari itu, aku meyakini, bahkan mereka yang tidak mengerti bahasa & sastra Arab pun bisa memahami keindahan itu. Karena mukjizat itu, dalam bentuknya yang paling azali adalah keindahan bunyi yang masuk, menggema di relung hatimu yang paling dalam. Jika kau buka sedikit saja hatimu, dalam kepasrahan, keikhlasan, ketulusan yang purba, keheningan yang khusyuk, maka bunyi itu akan membangunkan hati kecilmu, lubb, yang pernah bersyahadat padaNya di saat kau masih dalam rahim ibumu...


Catatan kecik :
Wahyu disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad dengan berbagai pola. Salah satunya yaitu langsung ke hati (dzihn). Dalam keadaan sendiri maupun di tengah-tengah manusia.

Dalam ilmu bahasa, dikenal istilah bahasa tinggi dan bahasa rendah. Bahasa Arab dan Latin termasuk bahasa tinggi. Karenanya sistem pengetahuan manusia didasarkan pada bahasa-bahasa ini. Bahasa Indonesia termasuk bahasa rendah, lebih banyak menyerap kata dan istilah dari bahasa-bahasa lain ketimbang mempengaruhi bahasa-bahasa tersebut. Jadi jangan heran, bahasa Indonesia mudah rusak.

Sebelum Arab berkembang menjadi sebuah peradaban besar, huruf-huruf Arab amat sederhana bentuknya. Bahkan tidak mengenal titik dan baris untuk membedakan bunyi. Sejak kedatangan Islam dan berkembang hingga melewati teritori jazirah Arab, bangsa Arab mengalami interaksi yang tinggi dengan bangsa-bangsa di berbagai kawasan. Bangsa-bangsa non-Arab mulai menggunakan bahasa Arab, terutama dalam perdagangan dan administrasi negara. Sejak itu, untuk menghindari kesalahan pemakaian bahasa Arab oleh bangsa non-Arab (yang bisa berakibat fatal seperti menyebabkan perselisihan), diciptakanlah titik dan kemudian baris. Dan kemudian lahirlah Ilmu Nahwu. Dari ilmu ini berkembang berbagai cabang Sastra Arab. Dapat disimpulkan, bahwa bangsa Arab yang begitu mengagungkan keindahan sastrawi pada dasarnya tidak membutuhkan ilmu sastra untuk memahami sastra. Sudah inheren dalam budaya mereka. Nahwu
tercipta lebih untuk kepentingan non-Arab ketimbang bangsa Arab sendiri :)

Sastra Arab, kalau tidak salah terdiri dari 12 cabang ilmu, diantaranya Nahwu (grammar), Sharf (syntax), Balaaghah, Ma'aani, Bayaan, Imla' (dictation). Sepanjang pengetahuan saya, Balaaghah+Badi'+Maa'ni adalah satu kesatuan dalam yang dinamakan Ilmu Bayaan. Balaaghah menekankan pada ketersampaian & keindahan teks. Badi'menekankan keindahan teks. Maa'ni pada kejelasan makna teks tanpa peduli lagi pada penggunaan gaya bahasa yg berbunga-bunga. Ia tidak mempermasalahkan keindahan dan makna teks tapi lebih pada ketersampaian teks pada pemirsa / pembaca. Dapat disimpulkan bahwa pada pucuk-pucuk tertinggi sastra tidak lagi soal keindahan, tapi ketersampaian. Bila sebuah teks bisa dimengerti oleh pemirsanya berarti tercapailah ketinggian sastrawi.

Bahasa Arab cukup rumit. Kosakata Arab penuh dengan perubahan-perubahan sintaks. Ia mengenal istilah kosakata dasar (huruf-huruf yang membentuk kata) dan kosakata turunan (yang terimbuh dengan beberapa huruf tambahan). Setiap perubahan bunyi pada kata dasar
menyebabkan perubahan makna. Belum lagi perubahan bunyi yang disebabkan adanya imbuhan. Karenanya bahasa Arab, seperti halnya bahasa Latin, layak menjadi bahasa pengetahuan.

Melampaui permasalahan kata, kalimat dalam bahasa Arab diatur dalam sistem ketat bernama Ilmu Nahwu.

Di atas keseluruhan kerumitan itu, pada tingkat dasar, bahasa Arab amat mudah dipelajari. Terutama oleh bangsa-bangsa rumpun Melayu. Pola kalimatnya sama dengan bahasa Indonesia. Bahasa Arab hanya membagi waktu dalam 2 bentuk saja: Masa Lampau (Maadhi) dan Masa Sekarang (Mudhaari'). Tenses Inggris justru lebih rumit ketimbang Arab.

Ada koreksi ?

9.9.08

life is so fragile, my friends

Aku mungkin bukan seorang backpacker yang pernah menjelajahi kontinen-kontinen lain, tapi aku tetap menganggap diriku petualang. Aku pernah kemalaman di Batang, Pekalongan ketika ingin pergi ke rumah seorang teman. Aku pernah hampir kehabisan uang di Jogja. Selain kota-kota di Jawa, aku pernah menempuh puluhan ribu kilo ke pantai Timur Sulawesi Selatan, tepatnya Sinjai. Sendiri. Hampir tanpa rasa takut..

Tapi di Jakarta ini, setiap kali berangkat kerja, aku merasakan kematian begitu dekat. Entah berapa kali aku menjejakkan kaki di kota ini sejak umur 5 tahun, tapi baru kali ini aku merasakan takut. Jalanan kota ini terasa brutal. Aspal beton yang terasa seperti kaca ini membuatku berpikir selalu akan tergelincir. Mengingatkanku pada perasaan Ratu Balqis ketika memasuki istana Nabi Sulaiman. Uniknya, perasaanku dan perasaan Ratu Balqis tidak jauh berbeda: merasakan kehadiran Yang Maha Digdaya.

Setiap kali melaju kencang, aku melirik speedometer. Kalau tidak, mungkin sampai 85 bahkan 90km/jam. Aku punya masalah dengan definisi kecepatan. (In computer world, i'm tweak freak) How fast is fast? Akhirnya aku hanya berusaha menahan diri pada level 65km/jam.

Tapi tetap saja hidup terasa begitu rapuh. Bisa saja, Allah meletakkan sebutir kerikil yang membuatku tergelincir dan ditabrak kendaraan lain. Karenanya, belakangan ini, aku berusaha menyempurnakan ibadah-ibadahku. Belajar kembali cara berwudhu yang benar, cara shalat yang baik meski tidak khusyuk, berusaha untuk berjama'ah, berusaha persisten puasa Senin - Kamis, mendaras kembali hafalan Qur'an yang sudah terlupa, dan melaksanakan hal-hal kecil. Dalam terminologi agama, itu disebut Ihsan, level berikutnya setelah Islam dan Iman.

Karena hidup begitu rapuh, teman.. [ ]


6.8.08

KARENA ENGKAU ADALAH AKU

Seorang sufi pergi ke rumah sang kekasih bersama samudera bergelombang dan seulas badai rindu dalam dirinya. Di depan pintu sang sufi berhenti dan mengetuk.
"Siapa itu?" tanya sang kekasih.
"Aku," jawabnya
"Pulanglah, aku tak punya sesuatu pun yang bisa ku hidangkan untukmu. Datanglah suatu saat," ujar sang kekasih.

Dengan sedih, sang Sufi beranjak dari depan pintu. Berjalan dengan gundah. Melintasi bumi. Berhari-hari, berbulan-bulan. Menggantungkan asanya pada awan-awan. Setelah lewat 4 musim, ia kembali menemui kekasihnya. Di depan pintu, dengan harap-harap cemas, ia mengetuk pintu. Menanti...
"Siapa itu?" tanya sang kekasih
"Engkau," jawabnya dengan penuh harap.

"Masuklah," ucap sang kekasih. "Karena aku adalah engkau dan engkau adalah aku. Rumah ini tidak cukup untuk dua aku di dalamnya..."

Cerita sufi ini sudah lama sekali ku ingat dari sebuah buku dan kuketik ulang atas dasar ingatan saja. Mohon maaf bila ada kesalahan. Setidaknya kesalahan redaksi tidak merusak substansinya. Meski kisah ini sederhana dan ringkas tapi sebenarnya menjelaskan bagian tasawwuf yang paling intim. Hmm.. rasanya saya belum layak menjelaskannya :)

Kata yang paling ringkas untuk menggambar sufisme atau tasawwuf adalah cinta.

2.8.08

Annemarie Schimmel

Mungkin hanya ada 3 pria dalam hidup Annemarie Schimmel: Muhammad SAW, Muhammad Iqbal dan Jalaluddin Rumi. Mungkin itu sebabnya ia memilih melajang sepanjang hidupnya. Ia mencintai ketiganya. Seperti Rabi'ah al-'Adawiyyah yang menolak pinangan lelaki mulia Hasan dari Basrah karena cintanya kepada Allah.



Schimmel adalah salah satu penulis paling otoritatif di bidang mistisisme Islam (sufisme). Di umur 19 tahun ia meraih gelar doktor di bidang peradaban dan bahasa-bahasa Islam dari Universitas Berlin. Tiga belas tahun kemudian sembari menjadi profesor studi Islam dan bahasa Arab di Universitas Marburg, ia meraih gelar doktor di bidang sejarah agama-agama, bidang yang sama yang digeluti mantan biarawati Karen Amstrong.

Perkenalan pertamanya dengan Islam adalah lewat studinya semasa Perang Dunia II terhadap pemikiran Iqbal, seorang filsuf muslim sekaligus pendiri Republik Islam Pakistan. Mengutip Schimmel:

“my long lasting love of Iqbal (which began when I was a student in Berlin during the war) has led me to publish a number of works which are more or less relevant for a study of his contribution to Muslim thought…… . In many articles I have tried to show Iqbal in the context of Islamic modernism, or deal with his imagery”

Schimmel yang dikaruniai ingatan fotografik ini semakin jauh melangkah dari filsafat menuju mistisisme Islam ketika ia mendapat tawaran mengajar di Universitas Ankara pada tahun 1954. Turki yang saat itu telah berubah menjadi repubik sekuler (lebih tepatnya: kediktatoran sekuler!) tidak mampu meredam tradisi sufi yang berurat akar hingga ke Jalaluddin Rumi. Inilah cinta kedua Schimmel.


Cinta ketiganya ditunjukkan dengan menulis "And Muhammad Is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety" yang merangkum keragaman tradisi shalawat dari seluruh penjuru dunia. Karena itu juga beliau mempertahankan pendapatnya yang mengecam "Ayat-ayat Setan"-nya Salman Rushdie meski mendapat caci-maki dari berbagai pihak di Barat yang mengagungkan liberalisme.

Menurut Schimmel, Barat tidak mengerti betapa cinta dan betapa dekatnya Muhammad SAW dengan umatnya. Beragamnya tradisi shalawat dan abadinya tradisi ini adalah buktinya. Muhammad SAW adalah pembawa risalah (messenger) yang paling banyak disebut oleh pengikutnya setiap hari selama berabad-abad. Berbeda dengan hubungan umat Kristiani dengan Yesus. Kesalahan umat Kristen adalah meletakkan Yesus terlalu tinggi sebagai Tuhan sehingga sulit menjadikan beliau sebagai role model di kehidupan dunia. Banyak cendekiawan yang berpendapat bahwa penghinaan Barat terhadap Muhammad SAW adalah lantaran iri terhadap kedekatan beliau dengan umatnya.

Muhammad SAW adalah seorang lelaki yang berjalan di pasar, makan dan minum. Terkadang ia menambal sendiri pakaiannya, berpuasa ketika tak ada makanan di rumahnya, tidak menerima sedekah, serta menerima hadiah dan lebih banyak membagikan hadiah yang diberikan orang lain padanya untuk sahabat-sahabatnya. Ia diteladani tidak hanya sebagai Nabi, tapi juga sebagai seorang ayah, suami, teman, pendidik, pebisnis, panglima perang, negarawan, dan pemimpin.

Yang membuat Schimmel berbeda dengan para orientalis lainnya adalah metode fenomenologi yang digunakannya, meski metode ini dikritik karena dianggap subjektif di tengah hegemoni positivisme yang menjadi epistime pengetahuan Barat modern. Metode fenomenologi adalah metode yang menekankan para peneliti untuk berada sedekat mungkin dengan objek studinya dan menjadi bagian dari objek, merasakan dan berpikir sebagaimana objek tersebut.

Schimmel wafat pada tanggal 28 Januari 2003 di usia 81 tahun setelah koma karena kecelakaan serius yang menimpanya. Dengan penguasaan terhadap berbagai bahasa Barat dan Timur (Jerman, Inggris, Perancis, Arab, Turki, Persia, Urdu dan Sindhi), beliau meninggalkan ratusan buku, termasuk ketertarikannya dengan Kaligrafi Islam sebagai ekspresi spritualitas.


Catatan kecik:
  • Mistik atau mistisisme dalam konteks ini hendaknya dikembalikan definisinya pada bahasa asalnya yaitu Inggris. Dengan demikian mistisisme tidak sama dengan klenik, bahkan bertolak belakang.
  • Yang mencengangkan dari Iqbal adalah ia mengaku hampir menjadi ateis kalau saja ia tidak menyelami alam pikiran Nietzsche, bapak posmodernisme.
  • Iqbal lebih dikenal sebagai filsuf. Meski demikian, puisi-puisi yang dianggap berbagai kalangan sebagai ringkasan pemikirannya banyak yang bernuansa mistik
  • Saya tidak tahu di antara 3 pria itu yang Schimel "jatuhi cinta" duluan. Kalau merujuk pada tahun terbit buku-bukunya, pasti ia jatuh cinta pada Iqbal duluan. Tapi tentu saja tidak layak membandingkan kedua pria itu dengan Nabi Muhammad SAW. Mudahnya, sebut saja "perkenalannya" dengan Muhammad SAW karena di-mak comblang-i oleh Muhammad Iqbal :)
  • Saya tidak tahu pasti apakah Schimmel akhirnya memeluk Islam, seperti Schuon, Lings dan banyak peneliti sufisme lainnya. Hanya ada satu petunjuk samar-samar yaitu disini. Dulu saya pernah baca bahwa karena begitu mendalamnya ia mempelajari Islam, ia sungguh meragukan kekristenannya.

Tulisan ini juga dipost ke http://id.wikipedia.org/wiki/Annemarie_Schimmel
Silahkan diedit :)

31.7.08

seajaib ceritanya !

Maha Suci Dia yang telah memperjalankan hambanya di malam hari dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha, \\ yang Kami berkahi sekelilingnya hingga Kami tunjukkan padanya ayat-ayat kami. \\ Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Q.S. al-Isra': 1)



Saya baru menyadari bahwa kenapa ayat ini dianggap ajaib oleh para ahli tafsir, se-ajaib kisah yang diceritakannya. Di penggalan pertama, Allah menjadi orang ketiga tunggal, di penggalan kedua menjadi orang pertama jamak, lalu kembali lagi jadi orang ketiga tunggal. Saya jadi ingat, teknik bertutur semacam ini juga saya temukan di novel "Saman"-nya Ayu Utami.

Teknik yang diperkenalkan oleh Ayu ke jagat sSastra Indonesia ini ternyata juga saya temukan dalam "The God of Small Things"-nya Arundhati yang sempat saya baca sekilas. Kalo gak salah Salman Rushdie juga menggunakan teknik yang sama dalam "Ayat-ayat Setan" yang saya dapatkan kopiannya 11 tahun yang lalu.

Hmm.. suatu saat saya harus lihai menggunakan teknik ini :)


sajadah cinta

Seorang teman lama, mantan anggota gerombolan manusia tak terdaftar, pernah bilang bahwa tingkat kebersihan pemilik sebuah rumah bisa ditilik dari kebersihan kamar mandinya. Belakangan ini saya memikirkan sebuah generalisasi serupa: kualitas ketaatan sebuah keluarga dalam menunaikan shalat bisa dilihat jelek tidaknya sajadah si pemilik rumah.

Akhir-akhir ini hidup saya agak nomaden. Di akhir pekan saya menyambangi banyak rumah kerabat, entah itu yang jauh pertaliannya maupun dekat. Ketika waktu shalat tiba, saya dipinjami sajadah. Kadang sajadahnya cantik, lebih sering lagi sajadah lusuh bahkan kumal.

Ketika menginap di rumah beberapa adik ibu saya, ternyata saya orang yang paling dulu menunaikan sholat subuh. Dulu, saya berpikir, di setiap rumah tentu ada sosok ibu seperti ibu saya, yang bangun menjelang subuh, bertahajjud, sibuk di dapur, dan kemudian pergi ke mesjid untuk menunaikan sholat subuh berjamaah. Dan ketika pulang dari mesjid, ia akan ngomel kalau mendapati saya masih tidur. Bahkan dalam usia saya saat ini, beliau masih begitu. Bawel

Pernah juga saya kebetulan menginap di sebuah penampungan barang bekas milik orang kampung saya dan tidur di lapak para pekerjanya. Subuhnya, saya kebingungan mencari mesjid karena tak satu pun yang bangun dan lantai tak ada yang kosong untuk sholat. Bahkan tak ada satu pun sarung yang cukup suci untuk saya pinjam. Sarung cuman buat tidur.

Lebih miris lagi pengalaman guru saya. Pernah satu kali ia nimbrung diskusi sampai larut malam di sebuah komunitas intelektual muda Yogya. Begitu banyak gagasan besar dibedah, bertakik-takik, sophisticated, ditingkahi teori-teori sosial terkini. Tapi ketika subuh datang, hampir tak satu pun yang shalat.

Shalat mungkin topik yang cukup banyak dibahas dan diperdebatkan, baik oleh kalangan ahli fiqh maupun sastra arab. Berbagai ikhtilaf (perbedaan pendapat) melingkari shalat. Tapi di titik tengah ada satu hal yang semua ahli sepakat: bahwa sholat itu wajib dan sholat adalah yang paling signifikan yang membedakan muslim dengan kafir. Dan Allah tidak kompromi dengan keadaan hambanya perihal sholat. Karena itu banyak macam keringanan yang memudahkan umat islam untuk shalat dalam kondisi apapun.

Saya tidak habis pikir kenapa banyak muslim yang tidak sholat.. [ ]

recent post