16.3.09

ghost in my machine

Ada banyak cara untuk melakukan recovery Windows XP, lingkungan sistem operasi yang rentan virus dan kurang stabil ini. Pertama, dengan menggunakan System Restore. Layanan restorasi ini sudah ada sejak Windows Millenium, generasi sebelum XP. Namun menurut pengalaman saya, efektivitasnya diragukan. Kinerja Windows XP menjadi sedikit melambat. Mungkin karena terjadi duplikasi banyak file sistem. Secara default, Windows cenderung menyimpan file sistem lama ketimbang menghapusnya sehingga ukuran sistem secara keseluruhan membengkak.



Karena tidak efektif, berbagai tips Windows XP yang bertebaran di majalah dan buku cenderung menyarankan untuk mematikan layanan restorasi ini. Saya tidak tahu apakah layanan ini masih tersedia di Windows Vista. Hingga saat ini saya belum pernah menggunakan Vista. Dulu, ketika Windows XP sudah populer digunakan, saya tetap menggunakan Windows ME sampai ketika saya butuh menginstall Norton Antivirus 2005, Dreamweaver MX dan Photoshop CS yang hanya bisa dijalankan di lingkungan XP. Dibanding XP, Vista lebih rewel, banyak tanya dan mengkonsumsi sumberdaya sistem (memory & processor) cukup banyak.

Kedua, dengan menggunakan program imaging harddisk seperti Norton Image atau Norton Go Back. Tapi masalahnya kedua program itu aktif di background dan menggunakan sumberdaya sistem cukup banyak.

Ketiga, dengan menggunakan program pengunci partisi semacam DeepFreeze atau CleanSlate. Perubahan apapun yang terjadi pada suatu partisi, dalam konteks ini partisi atau Drive C, bisa hilang setelah restart. Bila sistem terserang virus atau rusak registry-nya, ia akan kembali normal setelah restart. Masalahnya, saya suka melakukan kostumisasi konfigurasi beberapa program dan aktivitas ini mensyaratkan DeepFreeze non-aktif atau pada posisi DeepThawed. Untuk itu sistem harus di-restart dulu. Dan me-restart komputer adalah pekerjaan yang cukup menjengkelkan. Berbeda dengan DF, CleanSlate bisa di-non aktifkan tanpa restart. Masalahnya, saya tidak punya versi CleanSlate yang bisa digunakan di lingkungan XP. Versi terakhir yang saya gunakan adalh CleanSlate 3 yang bekerja baik di WinME tapi tidak stabil di XP.

Keempat, dengan menggunakan Norton GHOST versi DOS. NG versi Windows bagi saya terlalu merepotkan dan lamban kinerjanya. Lagian kalau sistem crash dan tidak bisa booting ke Windows, tetap saja DOS menjadi jalan penyelamat. Yang dibutuhkan hanya sebuah CD bootable DOS yang bisa dibuat dengan menggunakan 1 Floppy Disk Bootable DOS dan program burning Nero. Tapi belakangan saya punya sebuah CD bootable DOS berbasis isolinux yang tersedia di dalamnya berbagai program underDOS seperti AcronicsPartition, PartitionMagic dan Norton Ghost.


Sampai saat ini, saya hanya sekali menggunakan image yang dibuat beberapa bulan yang lalu menggunakan Norton Ghost. Waktu itu saya heran karena waktu booting yang dibutuhkan lebih lama dari biasanya. Saya kira masalahnya ada pada Vista Inspirat 2.1 atau TuneUp Utilities 2008. Tapi rupanya masalahnya pada Adobe Photoshop CS3 yang secara default mengkonsumsi 55% memory. Solusinya adalah memindahkan scrath disk atau swap file ke partisi D dan mengaktifkan kembali fungsi prefetching di registry.

Tampaknya saya tidak terlalu memerlukan GHOST atau cara lain untuk recovery. Yang dibutuhkan sebenarnya hanyalah antivirus handal yang bisa menjaga sistem dari virus dan threat lain yang diam-diam berjalan di background dan merubah konfigurasi sistem/registry. Favorit saya, Norton AntiVirus. NAV ini secara default memang mengkonsumsi sumberdaya sistem cukup banyak. Tapi setelah dikostumisasi dan dimatikan beberapa fungsi gak pentingnya (email/messenger real-time protection, automatic LiveUpdate, dan office documents scanning), program ini akan berjalan cukup ringan. Dan saat ini saya menggunakan NAV 2007 karena hanya itu yang saya punya dan ringan pula. Lagian apa perlunya upgrade selama masih tersedia layanan live update untuk versi ini [ ]

Catatan kecik:
Judul posting ini meminjam istilah "ghost in the machine" yang digunakan pertama kali oleh filsuf Inggris, Gilbert Ryle, ketika membahas dualisme Cartesian (1949). Dalam budaya populer, istilah ini juga digunakan dalam film "The Ghost in the machine" dengan tekanan berbeda (1993). Film i-Robot yang dibintangi Will Smith juga menyinggung kemungkinan humanisasi android.

1.3.09

sampai ke ubun-ubun !

Lia menertawakan saya karena mengikuti kuis "How Minang Are You?" di FB. Rupanya, saya pernah mengikuti kuis itu sebelumnya dengan hasil sama: "Dari Kaki ka Kapalo" alias Minang 100%. Soal-soal di kuis itu terlalu mudah. Harusnya, ada pertanyaan-pertanyaan sulit tentang pepatah-petitih Minang lama atau kosakata Minang lama yang semakin jarang digunakan dalam keseharian oleh orang-orang muda, terutama di wilayah-wilayah urban Ranah Minang (baca: Sumatera Barat). Contohnya: cido, hao, poak dst.

Saya mungkin bukan Orang Minang 100%. Semasa kecil dulu, di zaman Orba, di sekolah dasar belum ada mata pelajaran muatan lokal seperti Budaya Alam Minangkabau. Kemudian saya nyantri di sebuah pesantren di Ponorogo. Kota ini berada hampir di tengah-tengah antara Yogya-Solo/Surakarta (pusat kekuasaan Mataram Islam dulu) dan Jombang (pusat pengaruh NU) dan Blitar (tanah kelahiran dan makam Soekarno).

Saya menerima pengaruh Jawa meski kultur Jawa (uniknya) tidak dominan dalam pesantren ini. Saya juga menerima pengaruh Arab dari buku-buku bacaan; lagu-lagu yang diperdengarkan; dan secara formal diajarkan pepatah-petitih Arab di ruang kelas.

Tapi mungkin ada sisi Minang yang tidak bisa saya tinggalkan. Belakangan, saya mulai rewel soal makanan. Apalagi kalau bukan soal selera pedas. Beli makanan di warteg bukan lagi gagasan menarik. Bahkan Rumah Makan Sederhana yang sudah franchise itu ternyata tidak Minang 100% di lidah saya. Padahal dulu saya tidak bermasalah makan lauk yang sedikit manis atau sama sekali tidak pedas. Sekarang saya kapok juga makan Mie Ayam, Siomay dan sejenisnya karena tidak sepedas racikan orang Jawa yang sudah bertahun-tahun jualan mie ayam di Minang.

Selera pedas orang Minang cukup menarik. Tidak pedas "membabibuta" ala masakan istri sepupu saya yang Gorontalo. Juga tidak pedas tanpa dimasak ala Mbok Dapur di PLMPM Mantingan. Dalam masakan Minang, cabe rawit tidak dominan digunakan. Yang lebih dominan adalah cabe merah meski dalam beberapa masakan digunakan cabe hijau. Biasanya cabe merah itu diulek atau di-blender, ditambahkan sedikit tomat, ditumis dan digoreng hingga bau pedasnya berubah. Perubahan bau pedas ini hanya bisa dideteksi dengan hidung. Nah mungkin disini letak perbedaan selera pedas antara orang Minang dengan suku lain. Hidung orang Minang mungkin sudah mengalami "evolusi" berabad-abad yang membuatnya semakin jauh dari "konfigurasi" hidung Jawa misalnya. Selera pedas yang sudah mengakibatkan mutasi DNA :)

Kata sambal dan lauk berasal dari bahasa Melayu yang menjadi lingua franca nusantara pada era kolonial. Kosakata Melayu dan Minang tidak jauh berbeda. Sambal di dalam bahasa Minang berarti lauk pauk karena lada atau cabe adalah unsur yang hampir selalu ada dalam masakan Minang. Sementara kata "lauk" digunakan sesuai makna harfiahnya yaitu ikan. Sambal dalam bahasa Minang baru bermakna sambal sebagaimana dipakai dalam bahasa Indonesia jika ditambahkan kata lado atau lada. Ringkasnya, sambal = lauk; sambal lado = sambal.




Saya jadi ingat kali pertama makan di Dapur Umum pesantren. Sepiring nasi dengan tahu dan kuah manis. Hampir muntah! Tapi lama kelamaan gak masalah. Uniknya, di Dapur Umum yang saat itu berkapasitas 1500-an orang itu ada tradisi makan di waktu istirahat pertama. Sekitar jam 08.45. Mereka yang tidak sempat sarapan sebelum masuk kelas bisa makan di saat rehat ini. Tapi seringkali lauk habis karena dari 1500-an orang itu ada yang curang, mengambil lauk 2x atau bahkan makan 2x.

Sebagai "hiburan", para pengurus dapur menyediakan sambal yang benar-benar pedas. Kami menyebutnya SALATOH ROHAH atau sambal (jam) rehat. Berkilo-kilo cabe merah digiling oleh para pekerja dapur dengan mesin yang juga biasa digunakan untuk menggiling kacang. Ditambahkan hanya sedikit tomat, ditumis dan digoreng sekedarnya. Salatoh Rohah ini akhirnya menjadi salah satu makanan favorit. Minang dan bukan Minang pun jadi gak beda. Tidak ada yang berdebat soal enak dan pedasnya. Yang bukan anggota Dapur Umum ikutan makan. Bahkan makan keroyokan sepiring bertiga atau lebih jadi lumrah meski terlarang. Biasanya, pengawasan disiplin dapur di jam istirahat ini cukup longgar. Bisa berkali-kali nambah saking serunya ngeroyok sepiring nasi. Dengan atau tanpa lauk.

Nah, habis makan sambal sepedas itu, pedesnya sampai ke urat syaraf dan panas sampai ke ubun-bun. Terkadang musti kabur ke pancoran, kran atau masuk ke kamar mandi dan membenamkan kepala ke dalam bak. Pedes, Gila !

recent post