22.2.18

Banjir dan Galodo kembali menerjang Pangkalan Koto Baru

Bencana alam senantiasa mengancam di sekitar kita. Apalagi pada musim pancaroba seperti sekarang ini. Seperti yang terjadi di Kecamatan Pangkalan Koto Baru Kabupaten Lima Puluh Kota , Sumatera Barat baru-baru ini. Hujan yang terus menerus melanda kecamatan ini sejak beberapa hari terakhir mengakibatkan terjadi banjir dan galodo pada hari Sabtu, 29 April 2017 silam.
     Seperti dilansir oleh Badan Nasional Penanganan Bencana Daerah (BNPB-D)  Provinsi Sumatera Barat, bencana tersebut mengakibatkan 20 orang tewas dan 270 orang lainnya mengalami sakit. sampai berita ini diturunkan, diperkirakan kerugian material sejauh ini sudah mencapai 5 milyar rupiah.
   
Banjir di Pangkalan
(Courtesy: klikpositif.com)
Menurut laporan tim SAR yang sudah turun ke lokasi bencana, banjir terjadi karena adanya aliran air yang terganggu serta penyempitan di beberapa titik alur sungai sehingga tidak mampu lagi menahan debit air yang terus meninggi. Adapun galodo disebabkan maraknya penebangan hutan yang tidak terkontrol. Hutan tidak mampu lagi menjalankan fungsinya sebagai tempat resapan air bahkan sebaliknya tanah yang tak lagi ditahan oleh akar-akar pohon akan longsor dan menimpa rumah-rumah warga yang berada lebih rendah.
   
TRK  bersama Gubernur Sumbar di lokasi bencana
(Courtesy: singgalang.dompetdhuafa.org)
Untuk merespon bencana ini Dompet Dhuafa Singgalang pada hari ini sudah menurunkan Tim Respon Kebencanaan (TRK) ke beberapa titik yang tersebar di Kecamatan Pangkalan Koto Baru. Selain membawa peralatan rescue, TRK juga membawa makanan dan obat-obatan yang dibutuhkan para masyarakat yang terdampak untuk mengurangi beban moril dan materiil yang mereka alami. Ini sesuai dengan komitmen DD Singgalang  yang selalu berusaha hadir dalam setiap aksi-aksi kemanusiaan terutama yang bersifat tanggap darurat. []

16.1.15

Rais Farhan Albiruni

Awalnya, saya ingin menamakannya dengan nama yang indah. Saya punya "stok kombinasi nama" yang sudah lama saya rancang. Contohnya :

Najib Badiuzzaman - Yang cerdas yang termasyhur sepanjang zaman
Adib Badiuzzaman - Sastrawan/Budayawan yang termasyhur sepanjang zaman
Habibie Alfa Badar - Kekasihku seindah 1000 purnama

Najib Badiuzzaman - Yang cerdas yang termasyhur sepanjang zaman
Adib Badiuzzaman - Sastrawan/Budayawan yang termasyhur sepanjang zaman
Jamal Alva Badar - Setampan 1000 purnama
Zakie Avicenna - Secerdas Ibnu Sina
Zakie Averroes - Secerdas Ibnu Rusydi
Zakie Alfarabi - Secerdas Alfarabi
iqbal syaukanie - kau terima cintaku / Buah cintaku
Galih Farhan - Hati yang selalu bahagia
Salik Khalilullah - Penempuh jalan (menuju Tuhan) yang dicintai Tuhan sebagaimana Dia mencintai Ibrahim *

Namun, perempuan itu menolak beberapa nama di atas karena beberapa anak didiknya yang punya nama seperti Najib, Zaki, Iqbal ternyata anak-anak bandel. Saya tidak tertarik mendebatnya. Lalu ia mengajukan proposisi: nama anak kami harus ada kata-kata PEMIMPIN. Maka jadilah nama depan anak kami RAIS. (Berasal dari huruf RA - WAW - SIN)

Saya suka dengan kata BAHAGIA. Saya berharap ia menjadi bocah yang bahagia terlepas dari kondisi obyektif di sekitarnya. Maka nama kedua anak kami adalah FARHAN. (Berasal dari huruf FA - RA - HA) Kata farihun, plural dari kata farh, digunakan Allah dalam Alquran untuk menggambarkan kondisi penghuni-penghuni surga. Semoga anak kami tidak hanya bahagia sendirian, tapi juga membahagiakan orang banyak.**

Saya ingin menamakan anak kami dengan sesuatu yang mengingatkannya pada kejayaan peradaban umat muslim di masa lampau. Awalnya saya ingin menambahkan kata Avicenna atau Averroes atau Alfarabi. Tapi rasanya ketiga nama itu membawa beban yang teramat berat: filsafat.

Ibn Sina memang dikenal sebagai mahaguru kedokteran. Ibn Rusyd seorang hakim atau mahaguru ilmu-ilmu keislaman. Alfarabi dikenal sebagai mahaguru musik. Tapi ketiganya juga tidak kalah terkenalnya sebagai mahaguru filsafat. Saya ingin anak saya menghindar dari filsafat. Kalau tahu filsafat, cukuplah hal-hal yang umum.

Akhirnya pilihan saya jatuh pada Albiruni. Ia menyukai sains sekaligus ilmu-ilmu sosial. Pengetahuannya mencakup banyak bidang. Tapi ia lebih dikenal sebagai penulis ensiklopedi, bapak (cabang ilmu) Geodesi dan Indology.

Maka sepakatlah kami menamakannya RAIS FARHAN ALBIRUNI


Catatan :
* nama-nama di atas adalah terjemahan fleksibel, suka-suka, sesuai doa saya tentang nama-nama itu
** Saya hanya paham bahasa arab dengan segala semantika dan morfologinya. Hanya dengan menggunakan bahasa arab saya bisa menemukan kedalaman arti. Suatu saat saya berharap bisa menyampaikan pada anak ini arti namanya dan seberapa banyak namanya bertebaran di dalam al-Quran dan untuk menjelaskan apa.


perempuan itu..

Ketika beberapa teman perempuan saya meninggalkan karirnya setelah berumah tangga, saya mulai menyadari bahwa perempuan terbaik bagi saya adalah yang selalu bisa dekat anak atau setidaknya punya pekerjaan yang tidak membuatnya terlalu sibuk di luar rumah. Di saat lain, saya sering iba melihat anak kedua kakak laki-laki saya yang terlalu sering ditinggal bundanya. Mungkin menjadi dosen cukup menyita waktunya. Padahal siapa yang tidak jatuh hati pada bocah laki-laki 1,5 tahun yang punya rasa ingin tahu tinggi itu. Mungkin dia berbakat menjadi insinyur karena perhatiannya yang amat fokus.

Maka perempuan itulah jawaban dari doa-doa saya di rumahNya. Saya bukan muslim yang relijius--bila itu berarti rutin melaksanakan ibadah-ibadah sunnah--tapi saya percaya bahwa Dia memilihkan yang terbaik tanpa nyinyir bicara soal detail. Bahkan Dia memilihkan detail-detail terbaik buat saya.

Detail-detailnya mulai saya pahami satu per satu setelah menikah. Semasa remaja, dia lebih banyak berteman dengan cowok ketimbang cewek. Bagi saya itu menarik ! Saya sendiri dibesarkan dalam lingkungan yang tidak memungkinkan punya banyak teman cewek. Akan sulit bagi saya bila dia terlalu feminin. Yang paling feminin dari dirinya mungkin pantangannya menggunakan celana (apalagi jeans) bila bepergian ke luar rumah. Dan saya lambat laun menyukainya. Celana dan jeans perempuan masa kini identik dengan ketat.

Dia perempuan yang banyak bicara, sementara saya sebaliknya. Amat mudah mengetahui bila dia sedang bad mood: tidak banyak bicara atau cerita. Dia bisa cerita tentang apa saja tanpa berhenti di depan seorang laki-laki yang irit menanggapi bahkan lupa. Dia sering tertawa bila saya mulai tidak konsisten merespon ceritanya.

Dia masa kuliah hingga akan menikah, dia rutin mengikuti halaqah atau pengajian. Alhamdulillah ternyata bukan halaqah salafy. Saya tidak anti salafy, juga bukan seorang liberal. Saya hanya tidak suka serumah dengan perempuan salafy. Kami mungkin tidak akan berhenti berdebat. Mulai dari hal-hal prinsipil sampai tetek bengek hantu balau. Bagi saya, ada yang lebih bermakna ketimbang salafy atau liberal. Yaitu menjadi relijius. Dan relijius itu adalah dia..


30.5.13

dan membaca pun adalah kemewahan..

Seperti menonton film, membaca pun hampir-hampir menjadi semacam kemewahan belakangan ini. Saya mulai membatasi nonton film hanya genre drama saja. Film thriller bolehlah asal review di internet bagus. Baca fiksi pun cuman yang penting-penting aja. Lagian saya lebih banyak baca non-fiksi ketimbang fiksi. Nanti deh kalau udah tua, baru baca non fiksi sepuasnya. Ujung-ujungnya saya cuman baca novel-novel sastra. Boleh dibilang saya ini rada old-school untuk urusan baca novel.


Di bawah ini saya salinkan Daftar 100 Buku Sastra yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan. Daftar yang lumayan komprehensif walaupun ada beberapa karya fiksi dan non fiksi yang bisa diperdebatkan apakah bernilai sastra atau tidak. Bagi saya, yang karya fiksi yang bisa disebut sastra adalah yang punya teknik narasi yang baik; bahasa yang baik dan indah serta kisah bermutu alias tidak klise.


Saya lupa-lupa ingat apa pernah baca Manusia Indonesia-nya Moechtar Lubis padahal saya ngaku fan beratnya. Begitu juga Sitor Situmorang, Motinggo Busye, Subagyo Sastrowardoyo. Mereka punya magis sendiri.


Daftar ini ditnukil oleh seseorang dari buku Seratus Buku Yang Harus Dibaca Sebelum Dikuburkan terbitan tahun 2009. Saya sudah baca buku no. 2, 4, 6, 10, 13,17,24, 35, 44, 46, 51, 54, 58, 60, 63, 68, 70, 74, 79, 100. Lebih dari 60% pengarang dalam daftar di bawah yang saya tahu. Saya sering baca puisi-puisi Zawawi Imron dan Asep Zamzam Noor. Saya malu belum baca novel-novel Pramoedya. Padahal mudah didapat.

 1. Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo (1919)

2. Azab dan Sengsara karya Merari Siregar (1920)

3. Hikayat Kadiroen karya Semaoen (1920)

4. Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) karya Marah Rusli (1922)

5. Tanah Air karya Muhammad Yamin (1922)

6. Salah Asuhan karya Abdoel Moeis (1928)

7. Melawat Ke Barat karya Adinegoro (1930)

8. Kalau Tak Untung karya Selasih (1933)

9. Kenang-Kenangan karya Dokter Soetomo (1934)

10.Lajar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana (1936)

11. Nyanyi Sunyi karya Amir Hamzah (1937)

12. Patjar Merah Indonesia karya Matu Mona (1938)

13. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA (1939)

14. Belenggu karya Armijn Pane (1940)

15. Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma karya Idrus (1948)

16. Polemik Kebudayaan karya Achdiat K. Mihardja

17. Atheis karya Achdiat Karta Mihardja (1949)

18. Yang Terampas dan Yang Putus dan Deru Campur Debu karya Chairil Anwar (1950)

19. Tiga Menguak Takdir karya Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Asrul Sani (1958)

20. Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis (1952)

21. Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang (1953)

22. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (I-IV) karya H.B.Jassin (1954-1967)

23. Priangan Si Jelita karya Ramadhan KH (1956)

24. Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis (1956)

25. Si Doel Anak Djakarta Karya Aman Dt. Madjoindo (1956)

26. Malam Jahanam karya Motinggo Busye (1958)

27. Pulang karya Toha Mohtar (1958)

28. Ramayana karya R.A. Kosasih (1960)

29. Empat Kumpulan Sajak karya WS Rendra (1961)

30. Matinja Seorang Petani karya Agam Wispi

31. Pagar Kawat Berduri karya Trisnojuwono (1961)

33. Angkatan 66 Prosa dan Puisi karya H.B. Jassin (1968)

34. Gairah untuk Hidup dan untuk Mati karya Nasjah Djamin (1968)

35. Duka-Mu Abadi karya Sapardi Djoko Damono (1969)

36. Ziarah karya Iwan Simatupang (1969)

37. Heboh Sastra karya H.B. Jassin (sebagai penyunting) (1970)

38. Pariksit karya Goenawan Mohamad (1971)

39. Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat karya Asrul Sani (1972)

40. Karmila karya Marga T (1973)

41. Pada Sebuah Kapal karya N.H Dini (1973)

42. Sajak-sajak 33 karya Toeti Heraty Noerhadi (1973)

43. Godlob karya Danarto (1975)

44. Khotbah di Atas Bukit karya Kuntowijoyo (1976)

45. Meditasi karya Abdul Hadi WM (1976)

46. Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esha (1977)

47. Laut Biru Langit Biru karya Ajip Rosidi (1977)

48. Raumanen karya Marianne Katoppo (1977)

49. Upacara karya Korrie Layun Rampan (1978)

50. Dan Perang Pun Usai karya Ismail Marahimin (1979)

51. Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis (1980)

52. Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer (1980-1980-1985-1987)

53. Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH. (1981)

54. O Amuk Kapak karya Sutardji Calzoum Bachri (1981/1973-1977-1979)

55. Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG (1981)

56. Burung-burung Manyar karya YB Mangunwijaya (1982)

57. Sastra dan Religiositas karya Y.B Mangunwijaya (1982)

58. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari (1982-1985-1986)

59. Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata (1983)

60. Olenka karya Budi Darma (1983)

61. Abad yang Berlari karya Afrizal Malna (1984)

62. Hamba-hamba Kebudayaan karya Dami N. Toda (1984)

63. Dari Pojok Sejarah (Sebuah Renungan Perjalanan) karya Emha Ainun Nadjib (1985)

64. Sakerah karya Djamil Soeherman (1985)

65. Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer (1987)

66. Antologi Puisi Indonesia Modern: Tonggak karya Linus Suryadi AG (penyunting) (1987)

67. Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C Noer (1989)

68. Wiro Sableng karya Bastian Tito (1990)

69. Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad (1991)

70. Para Priyayi karya Umar Kayam (1991)

71. Seri Cerpen Pilihan Kompas 1991-2007

72. Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma (1994)

73. Dan Kematian Makin Akrab karya Soebagio Sastrowardojo (1995)

74. Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia karya H.B. Jassin (editor) (1995)

75. Asal Usul Karya Mahbub Djunaidi (1996)

76. Pendekar Super Sakti karya Asmaraman S Kho Ping Hoo (1996)

77. Senjakala Kebudayaan karya Nirwan Dewanto (1996)

78. Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa (1997)

79. Saman karya Ayu Utami (1998)

80. Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul (1999)

81. Celana karya Joko Pinurbo (1999)

82. Di Atas Umbria karya Acep Zamzam Noor (1999)

83. Kali Mati karya Joni Ariadinata (1999)

84. Madura Akulah Darahmu karya D. Zawawi Imron (1999)

85. Memorabilia karya Agus Noor (1999)

86. Sampek dan Engtay karya Nano Riantiarno (1999)

87. Angkatan 2000 karya Korrie Layun Rampan (2000)

88. Nonsens karya Sitok Srengenge (2000)

89. Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia Jilid 1 karya Marcus A.S. dan Pax Benedanto (penyunting) (2001)

90. Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan (2002)

91. Area X Hymne Angkasa Raya karya Eliza V Handayani (2003)

92. Cala Ibi karya Nukila Amal (2003)

93. Kill The Radio karya Dorothea Rosa Herliany (2000)

94. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan karya Ignas Kleden (2003)

95. Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M Dahlan

96. Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy (2004)

97. Cintapuccino karya Icha Rahmanti (2004)

98. Puisi-puisi Mbeling karya Remy Silado (2004)

99. Sastra Cyber Polemik Sastra Cyberpunk karya Saut Situmorang (Ed.) (2004)

100.Laskar Pelangi karya Andrea Hirata (2005)

30.4.13

puzzle

Di sekolah saya dulu ada sebuah mading yang terbit setiap minggu dalam sebuah etalase kaca berukuran besar. Isinya karya-karya seni rupa. Mulai dari karikatur, komik, kartun, dan aneka karya seni rupa lainnya. Beberapa kali muncul juga seni kaligrafi. Tapi LIMITS, demikian nama klub para pelajar penyuka seni rupa ini tidak ingin komunitas mereka identik dengan kaligrafi. Selain mereka ada juga AKLAM, klub yang fokus pada kaligrafi.

Saya suka berlama-lama berdiri di depan mading mereka. Selain membaca serial komik hasil karya mereka ada 2 jenis karya seni rupa yang cukup menarik perhatian saya. Pertama, vignette, yaitu sejenis seni rupa impressionis yang entah apalah artinya. Biasanya dikerjakan dengan menggunakan pena steadler mahal. Kedua, potret-potret yang terbentuk dari ratusan atau mungkin ribuan titik.

Saya kira mungkin itu sebabnya saya kemudian mempunyai hobi baru: mengunjungi pameran lukisan atau desain grafis dan duduk di bangku yang disediakan di depan lukisan-lukisan. Saya tidak dikarunia bakat seni rupa. Tidak pula cita rasa yang baik untuk mengapreasiasi. Yang bisa saya lakukan hanyalah memandangi sebuah lukisan. Bila saya gagal memahami lukisan itu secara keseluruhan, saya akan mulai menemukan satu-dua bagian dari lukisan itu yang bisa membuat saya terkesan.

Mungkin hanya karena komposisi warnanya. Mungkin karena satu sapuan kuas yang amat "lihai" atau "bertenaga" atau kuat karakternya. Mungkin karena judulnya yang kok gak nyambung sama lukisannya. Dan tiba-tiba saya jatuh cinta pada lukisan itu..

15.3.13

welcome, Mr. (real?) 4 !


Pada akhirnya peluncuran sebuah produk gadget bukan lagi soal teknologi. Tidak peduli seberapa canggih gadget itu, kemampuan marketing atau PR-lah yang akhirnya menentukan. Triknya dimulai dari rumor yang dilontarkan salah seorang petinggi perusahaan melalui media mainstream yang kredibel tentang gadget yang akan mereka rilis. Tidak peduli apakah produk tersebut sudah mencapai tahap prototipe atau masih berada di "meja gambar", si petinggi berusaha menarik lampu sorot agar mengarah pada perusahaannya. Lalu para jurnalis teknologi mulai kasak-kusuk membahas semua hal yang dihubung-hubungkan dengan gadget "siluman" (yang sialan) itu. Berspekulasi tentang ini-itu hingga memunculkan prototipe imajinatif karya mereka sendiri.

Mereka yang sedang mempertimbangkan untuk membeli gadget baru mulai mengarahkan perhatiannya ke si siluman. Para pemamah berita teknologi (tech news junkies) macam saya mulai bertanya-tanya tentang fitur-fitur apalagi yang akan disematkan si sekuel itu. Seberapa mutakhir teknologi yang akan diadopsi. Seberapa bagus perangkat kerasnya. Seberapa baik dukungan sistem operasi dan aplikasi-aplikasinya terhadap kecanggihan perangkat kerasnya. Para penggemar fanatik masing-masing gadget, macam Apple fans, Android-Linuxer, BB fans mulai mengisi baris-baris komentar di halaman-halaman daring dengan berbagai macam tingkah polah kekanak-kanakannya. Yup, boyz is boyz, no matter how old they are. When it comes to toyz, they are still childish.

Begitulah sebuah kekonyolan berawal. Orang-orang PR mulai berbuat genit. Muncul bocoran-bocoran foto si gadget. Entah itu rumor gadungan atau issue beneran. Kerjaan mereka tidak lebih baik dari majalah-majalah dewasa yang menstimulasi pembacanya dengan menampilkan paha saja, pundak putih mulus saja, atau dan setengah lingkaran atas dari itu. Sompret ! Gadget berubah nilainya dari sebuah puncak inovasi yang esensial menjadi pameran casing yang amat artifisial. Memang sih gak artifisial artifisial amat. Design is design. Tapi menampilkan rumor-rumor gak penting itu akan meningkatkan jumlah berita sampah yang menghiasi bahkan media mainstream sekalipun.

Dan anda tahu siapa yang patut "dipersalahkan" atas tren ini? Steve Job !
Ya, Mungkin menurutnya, kharisma di panggung presentasi saja tidak cukup untuk era post-PC, post x86-x64 atau era mobile handheld atau era komputasi mobile atau apalah namanya. Sejak Apple merilis iPhone, nuansa marketing dan PR genit mulai terasa. Gaya Apple yang begini mulai ditiru oleh Samsung dalam merilis perangkat Galaxy paling premium mereka. Tidak peduli berapa budget marketing, PR dan iklan yang harus dikeluarkan, Apple dan Samsung sukses dengan semua kegenitan itu. Jadi, boleh dibilang, mereka menjadi produsen terbesar gadget bukan karena soal teknologi saja, tapi kemampuan untuk bergenit-genit ria.

Catatan:
Tulisan ini dibuat dalam rangka menyambut rilis Samsung Galaxy S4 di New York yang sedang berlangsung saat ini. Beberapa jam sebelum acara Unpacking itu berlangsung LG dan Apple mulai mengganggu dengan kegenitannya untuk membikin bingung para calon pembeli potensial Galaxy S4. LG yang beberapa bulan sebelumnya merilis Google Nexus 4 a.k.a Optimus G mencuri perhatian publik dengan iklan Optimus G Pro tepat di atas billboard Samsung di Times Square. Apple merilis rumor tentang perangkat terbarunya yang akan hadir beberapa bulan lagi. Keduanya berusaha mencuri lampo sorot dari Samsung.
Apapun itu, Blackberry Z10 yang akan dirilis di Amerika Serikat pertengahan Maret ini tampaknya tidak hanya kehilangan momentum, tapi juga kehilangan perhatian publik karena semua kegaduhan ini. Ditambah lagi rumor Lenovo yang akan mengakuisisi Blackberry. Semuanya mulai kacau buat mereka.
Meskipun demikian tetap saja rilis SGS 4 ini agak jomplang dengan tidak hadirnya si aktor utama (atau peran pembantu?): Android 5.0 a.k.a Key Lime Pie sehingga BB Z10 masih punya kesempatan untuk dilirik. Semuanya baru bisa disimpulkan di acara Google IO di bulan Mei. Seberapa keren Motorola X-Phone menyajikan Pie ?

13.3.13

home server impian

Pengen banget punya home server. Dari modem trus ke home server, nah baru di-share koneksinya ke Access Point. Mo-nya di-instal-in Firewall buat nyetop macem-macem: mulai dari virus, iklan, situs-situs gak jelas, spam dll. Trus mo diinstalin MailServer, WebServer, FTP, HTB dan fungsi-fungsi router.

Pengen juga bisa jadi Media Center sekalian. Disambungin ke LCD Projector. Biar bisa nonton layar tancap atau sekedar baca majalah. Ckckckck.. Yang terakhir nih rada konyol. O ya, pengen juga jadi Network Attached Storage (NAS) sekalian. Hard Disk Portable 1 Terabyte saya udah penuh. Film-film yang udah ditonton banyak yang terpaksa dihapus. Yang ngabisin space paling banyak, kayaknya file-file ISO, tutorial, buku-buku, majalah-majalah, plus film-film dokumenter BBC, NG, CBC, HC, DC etc. Yup saya pencinta film dokumenter.

Konyolnya kemarin mikir Raspberry Pi bisa dijadiin home server. Emang sih bisa diinstallin Ubuntu. Tapi versi lite banget. Bisa mampus tuh si Pi kalo dipaksain jadi server. Belakangan Intel katanya mo ngeluarin saingannya Raspberry, tapi untuk arsitektur x86. Hmm.. kayaknya seru tuh. Gak sekedar imut, tapi juga ber-te-na-ga. Tapi apa cukup kuat untuk jadi server sekelas home gitu.

Kayaknya, motherboard mini-ATX cukup deh buat dijadiin server. Tapi mo cari yang slot memory-nya bisa nrima 8 GB RAM. Dan harus optimal. Soalnya mo diinstalin program virtualisasi sekalian, biar bisa nginstallin macam-macam OS sebagai guests. Soalnya ada yang suka maen game-game RPG-nya Windows tuh. CounterStrike. Trus mo-nya jadi terrorist aja. Suka main pisau lagi. Ckckck...

Ubuntu Server, CentOS, atau Fedora aja sekalian? Bagusnya yang banyak dokumentasinya. Yup, musti belajar LinuxServer lebih dalam dulu nih. Otodidak aja. Gak ada kursusnya sih..

Update: ternyata CounterStrike bisa dimainin secara native di Linux. Tapi yg versi 1.6 aja. Lainnya musti pake emulator. Testing ntar.. Smooth gak ya..

18.2.13

night n cloud

saya menemukan blog ini :


http://nightncloud.wordpress.com


entah kenapa saya bahagia. sangat...

15.2.13

my android

Smartphone saya sampai saat ini Samsung Galaxy Spica (i5700). Spica adalah smartphone Android kedua yang dirilis oleh Samsung setelah Samsung i7500. Spek Spica mirip dengan Galaxy Ace, ponsel Android keempat dari Samsung, kecuali layarnya yang 3,2 inci, sedikit lebih berat dan androidnya yang hanya bisa diupgrade ke 2,1. Spek Spica bahkan masih lebih baik dibanding Galaxy Y yang dirilis sesudah Ace. Resolusi Spica jauh lebih tinggi yang artinya tampilan layar lebih halus dan detil. Keunggulan paling jelas dibanding seri Galaxy manapun adalah Spica tahan banting. Spica saya berkali-kali jatuh dan pernah lepas dari genggaman saya dan jatuh sejauh 4 meter. Saya pikir tamat riwayatnya. Luar biasanya cuman lecet bezelnya. Saya jadi benar-benar jatuh hati pada Spica ini. Sayang di pasaran tidak ada aksesoris khusus Spica seperti rubber penahan benturannya. Mungkin android kala itu kurang diminati



Sudah lewat 3 tahun saya menggunakannya. Waktu beli Spica, kebanyakan orang lagi demam Blackberry, harga saham RIM sedang tinggi-tingginya dan iPhone 3G baru masuk Indonesia dengan sistem kontrak eksklusif. Ringkasnya, belum banyak yang tahu atau mau tahu dengan Android. Saya memilih Android karena kernel-nya Linux. Dan linux berarti kebebasan. Keterbukaan.

Secara praktis, itu berarti smartphone Android akan mendekati fitur-fitur yang ditawarkan desktop Linux. Ya, smartphone sebagai komputer genggam adalah ide yang belum sepenuhnya ditawarkan Blackberry saat itu. iPhone sudah mulai menawarkan gagasan itu tapi minus kebebasan. Saya menggunakan Spica untuk membaca dan menulis dokumen (DTG); membaca buku digital dan ebook berformat PDF, PRC dan MOBI; mengakses laptop secara remote (Teamviewer); membaca Quran (iQuran) dan mendownload video youtube dalam format MP3

pengalaman pertama
Setelah dites oleh si penjual, Spica saya bawa pulang. Sesampai di rumah, saya hidupkan. Butuh waktu hampir 20 menit hanya untuk mengetahui cara mengaktifkan layar yang mati setiap 30 detik dan membuka kunci layar. Waktu itu masih Android 1,5 (Cupcake), versi ketiga dari Android . Tampilannya masih sederhana dan bulky. Kemudian saya upgrade sendiri. Proses upgradenya cukup mendebarkan tapi akhirnya plong. Spica saya loncat ke versi kelima (Android 2,1). Lebih keren tapi belum mendukung fitur app2sd. Artinya, saya tidak bisa menginstal puluhan aplikasi dari ratusan ribu yang tersedia di Android Market.

upgrade ke android 2,2
Upgrade ke android 2,2 adalah mimpi buruk. Saya menemukan panduan di youtube kemudian saya coba mengikutinya. Spica saya tidak mau booting secara normal. Terjadi bootloop. Kemudian saya kirim Spica ke kakak saya untuk diperbaiki. Karena begitu lamanya Spica saya di tangan kakak, akhirnya saya putuskan beli Samsung Galaxy Spica lagi. (Dan beberapa bulan kemudian si Ace dirilis. Huh !) Setelah beberapa bulan gak ada kabar, akhirnya Spica saya dibawa Kakak ke tukang servis spesialis android. Memang gak bisa dibawa ke servis resmi Samsung karena tindakan upgrade ke 2,2 tidak di-support dan merusak garansi.Setelah memperhatikan  cara kerja si spesialis Android dalam menginstal ulang Spica, sesampai di kos-an-nya, kakak saya mencari-cari tutorial android dan ketemu tutorial yang bener-bener keren. Di-install ulang lagi deh tu Spica.

Akhirnya, Spica pertama saya jadi hak milik kakak dan ter-upgrade ke 2,2. Maka bertambahlah hobi barunya: utak-atik Spica. Dan akhirnya itu Spica lebih sering di tangan ponakan saya yang baru berumur 4 tahun yang hobi banget main game. It's okelah. Tapi tuh bocah susah banget diingetin agar menjaga jarak mata dengan layar Spica waktu main game. Like father like son. Jangan-jangan gedenya jadi gamer hardcore. Cape deeh..

upgrade ke android 2,3
Saya mengira para hacker berhenti mengutak-atik Spica sampai mencapai versi android 2,2. Mereka memang sedang mencoba meng-install android 2,3 ke Spica. Namun sepertinya lamaaa banget nunggu versi beta 2,3 menjadi versi final sehingga saya tidak mengikuti lagi informasi pengembangannya di internet.

Sebulan yang lalu saya menelpon kakak untuk bertanya apakah Android 2,3 versi final untuk Spica sudah dirilis. Menurut dia sudah beberapa bulan ini dirilis. Saya sedikit jengkel mengingat beberapa bulan yang lalu kami pernah bertemu dan dia tidak bilang apa-apa. Padahal Spica-nya sudah menggunakan android 2,3 versi final dari Cyanogenmod. Akhirnya dia mengirimkan email berisi link-link yang harus saya ikuti untuk menginstall android 2,3 ke Spica.



MIUI
Ada 3 pilihan versi Android 2,3 yang bisa saya gunakan: CyanogenMod (CM), NextGeneration (NG) dan MIUI (dibaca: "Me You I"). Pada awalnya sesuai saran kakak, saya menggunakan CM. Setelah beberapa hari saya gunakan, sepertinya kurang nyaman. Sering lag dan banyak bugs. Lalu saya mencoba menggunakan versi NG dengan asumsi saya juga menggunakan versi NG di Android 2,2 dan cukup nyaman. Tapi sepertinya NG yang ini bukan versi yang final-final amat. Taste-nya masih beta. Sama seperti CM, aplikasi kamera tidak berjalan dengan baik di NG ini. NG sendiri adalah kombinasi hybrid dari CM dan MIUI. Akhirnya saya menggunakan MIUI untuk pertama kalinya.

Yang bikin bingung, ketika di-boot untuk pertama kalinya, Spica saya tampil dalam bahasa Rusia. Akhirnya saya berusaha merubah bahasa-nya ke Inggris dengan mencari Setting >> Language & Keyboard. Setelah trial dan error, akhirnya Spica berubah ke bahasa Inggris. "Sesuai janji" para pengembangnya, MIUI Spica ini tidak bisa atau belum ditemukan cara untuk memperbaiki masalah video recording. It's okelah.

keunggulan MIUI
Lagian banyak nilai plus dari MIUI Spica ini. Pertama, aplikasi-aplikasi bawaannya (default) sudah memadai. Saya tidak perlu lagi meng-install Mini File Manager, QuickPic, Advanced Task Killer, ColorNote dan App2SD atau Android Assistant. Artinya, ada banyak sumber daya sistem yang bisa dihemat. Ponsel saya akan bekerja lebih cepat dan stabil. Kedua, beberapa fitur android 4,0 sudah tersedia, seperti keyboard, Setting, Toogles dan font Roboto. Ketiga, ada yang bilang MIUI mencontek iPhone. Di awal kemunculannya mungkin benar. Namun mereka mulai menemukan identitas desainnya sendiri, seperti tampilan aplikasi Sound Recorder, Music, Gallery dan Camera. Saya menyukai warna-warna pastel pada ikon-iko default MIUI. Di satu sisi mereka masih mengikuti aliran skeuomorphism-nya iOS. Di sisi lain mereka mulai mengikuti jejak aliran flat desain-nya Google. Jadi, masih terlihat ambiguitas.

wishlist
Di satu sisi, siklus rilis ponsel Android per 6 bulan membuat pengguna Android merasa ponsel yang telah dibelinya cepat ketinggalan zaman. Tapi dengan adanya komunitas pengembang custom ROM, ponsel android lama pun bisa mendapatkan fitur-fitur terbaru. Spica yang saya miliki saat ini sudah cukup memadai dengan adanya custom ROM MIUI di dalamnya. Android 4,0 (Ice Cream Sandwich) dan 4,1/4,2 (Jelly Bean) memang sudah membawa fitur-fitur ciamik. Tapi belum cukup memuaskan untuk bisa disebut sebagai update mayor.

Tampaknya Android 5,0 (Key Lime Pie) yang akan dirilis Mei ini-lah yang akan membawa lompatan besar. Bila itu memang terjadi, Android akan meneruskan dominasinya di pasar smartphone dan menambah jumlah peminat baru. Versi yang akan datang ini akan menjadi mimpi buruk bagi Blackberry Inc., yang menggantungkan masa depannya pada penjualan ponsel Z10. Dan mungkin itulah saatnya saya memiliki perangkat baru.
device-2012-09-07-234745.pngdevice-2012-09-07-234848.pngdevice-2012-09-07-234855.pngdevice-2012-09-08-122401.pngdevice-2012-09-08-122406.pngdevice-2012-09-08-122444.pngdevice-2012-09-08-122459.pngdevice-2012-09-08-122540.png

20.1.13

berkebun

Saya senang menonton film yang ada adegan berkebunnya. Saya menyukai ide berkebun. Sejak lama. Di masa kecil yang singkat di Padang Panjang, orang tua saya membeli sebidang tanah di Silaing Atas. Setiap minggu kami pergi berkebun, menanam palawija: kacang panjang, cabe, bawang dan seterusnya. Bahan membuat pecel. Lebih banyak hanya untuk rekreasi.

Saya menyukai keasrian alam di sekitar ladang itu. Pada angin sepoi-sepoi yang turun dari perbukitan di sekitarnya. Di kaki Singgalang. Pada tanahnya yang hitam lembut dan baunya. Pada gemericik air, pada saluran irigasi persawahan yang lewat di samping kanan ladang kami. Pada gerimis yang datang dan pergi tanpa permisi. Pada tanaman strawberry yang merambat liar di tepian ladang. Pada sumber mata air di lurah yang tepat berada di sisi kiri ladang

(Mungkin seharusnya saya tak pernah keluar dari cangkang saya di pesantren untuk menikmati lagi kesemua itu setiap hari. Saya suka berjalan kaki atau bersepeda ontel di pedesaan Jawa yang tenang dan rapi. Persawahan, hutan jati, ladang tebu dan jagung. Tapi tinggal di desa, mengajar dan hidup hampir tanpa riak bukan ide menarik hingga saat ini.)

Mungkin saya mewarisi sedikit bagian terbaik dari ayah saya. Di umur 3 tahun, beliau sudah diajak kakeknya  pergi ke parak atau kebun milik neneknya yang melingkupi bukit-bukit kecil di kaki Tandikat. Durian, karet, salak, jengkol dan tanaman selingan lainnya. Ayah saya mewarisi sifat suka bekerja keras dari kakeknya. Kakeknya menunjukkan kesyukurannya menikahi nenek ayah saya, si anak tunggal, dengan bekerja keras memelihara tanah yang luas itu bahkan menambah jumlah warisan untuk nenek saya yang juga anak tunggal.  Kakek ayah saya menanam banyak pohon durian, kelapa, nangka, salak, saus, manggis, jengkol dan lainnya. Hasil jerih payahnya masih kami nikmati hingga saat ini.

Di masa kecil, saya sering pergi ke parak, kebun di belakang rumah nenek bersama cucu-cucu lain dengan bekal parang dan pisau. Ada nanas, manggis, saus, dan pisang yang bisa kami bawa pulang ke kota. Saya menikmati berjalan-jalan di pematang sawah. Dan berakhir dengan mandi di sungai yang airnya turun dari Tandikat. Air yang sama yang menghidupi dua pabrik air mineral dan PDAM Pariaman.

Di saat pensiunnya, ayah saya tak pernah berhenti bekerja. Saat ini, ketika ibu saya sudah mendapat tambahan tanah warisan, ayah saya pergi setelah subuh untuk berkebun di bagian tanah yang belum dijadikan rumah. Hampir setiap hari. Hampir tanpa tujuan ekonomis. Di kampung, dengan izin nenek, ayah saya juga menanam pisang di sepetak tanah di pinggir sungai di sela-sela pohon durian, dekat dengan reruntuhan rumah kincir air penumbuk beras yang di waktu kecil sempat jadi tempat main saya. Ibu  tidak setuju karena ayah menghabiskan banyak uang untuk modal menanam pisang karena tidak ada waktu untuk mengurus dan memasarkannya.

Apa yang dikatakan ibu saya memang terbukti. Terkadang pisang memang bisa kami jual ke penjual gorengan di dekat rumah. Tapi lebih sering tidak dijual. Dan ayah tahu, ibu saya pandai memasak. Bagi ayah saya mungkin ini bukan soal uang. Uang jualannya hanya cukup untuk menutup ongkos pulang kampung. Ini soal kecintaannya pada tanah dan kebun. Dan masakan ibu saya.

Mungkin sudah saatnya saya berkebun juga..

18.1.13

"pinky and the brain" serta proyek menguasai dunia

Di usia remaja tidak banyak lagi serial kartun televisi yang saya sukai. Salah satunya, Pinky and The Brain. Karya Steven Spielberg. Entah kenapa sutradara sekelas Spielberg membuat kartun semacam itu. Mungkin sama misteriusnya dengan Alfred Hitchcock yang luar biasa itu menyisihkan waktunya untuk menulis Trio Detektif, bacaan anak-anak  favorit saya. Lebih realistis ketimbang 5 Sekawan-nya Enid Blyton. Atau mungkin lebih tepatnya, segmen usia pembaca 5 Sekawan lebih muda ketimbang pembaca Trio Detektif, meskipun bisa jadi saling beririsan.

Pinky & The Brain adalah film kartun yang bercerita tentang 2 ekor tikus. Pinky tampak bodoh, periang dan hidup tanpa beban. Atau mungkin lebih tepatnya, hidup tanpa misi tertentu. Brain, sebaliknya cerdas, banyak ide, nyaris tanpa nurani dan punya misi seumur hidup: MENGUASAI DUNIA. Pinky dan Brain berteman, meski Brain terkadang tampak hanya membutuhkan Pinky sebagai asisten misinya, bukan teman dalam arti sebenarnya. Tapi dalam beberapa misinya, Brain terkadang berhenti mewujudkan salah satu idenya dalam menguasai dunia ketika ternyata berdampak buruk atau membahayakan nyawa Pinky.

Meskipun Brain terkadang membahayakan nyawanya atau gagal dalam misinya, Pinky tetap setia menemani Brain. Pinky menerima Brain apa adanya, dengan kelebihan dan kekurangannya, dengan ketidakacuhannya yang terkadang amat kentara. Atau mungkin lebih tepatnya, Pinky menerima dunia apa adanya. Sementara Brain, berusaha mengubah dunia agar kongruen dengan cara pandangnya atau kongruen dengan ambisi-ambisinya atau tunduk pada apa yang dianggapnya ideal, meski harus gagal berkali-kali.

Pinky dan Brain bisa jadi mewakili 2 sisi otak kita, kiri dan kanan. Pada sebagian orang, sisi Pinky lebih besar ketimbang Brain. Atau sebaliknya. Bagi manusia berkarakter Pinky, manusia Brain cenderung tidak realistis. Bagi manusia Brain, manusia Pinky tidak begitu bernilai selain sebagai penambah atau pengurang dalam statistik.

Pinky and The Brain bisa jadi adalah parodi dari sejarah Yahudi sendiri. Atau lebih tepatnya parodi dari sejarah para pembangkang Nabi Musa yang kemudian hari kita kenal sebagai Zionis. Boleh dibilang para zionis adalah fundamentalis Yahudi pagan, yang memegang teguh paganisme Mesir Kuno, untuk membedakannya dengan pengikut para Nabi Israel yang monoteis, bahkan berbeda dengan Ya'kub, pendiri "marga" Israel itu sendiri.

Bahkan jauh sebelum dideklarasikannya Protokol Zionis, kaum Zionis sudah berusahaa menguasai dunia. Karenanya di Eropa pada abad pertengahan mereka amat dibenci bahkan di usir. Dimana saja mereka berada selalu berbuat onar, destruktif, merusak tatanan sosial dan berusaha mendominasi. Sebahagian lari ke negeri-negeri muslim yang menerima dengan tangan terbuka karena menganggap mereka adalah bagian dari pengikut agama-agama samawi, ahlul kitab, sebuah konsep yang teramat toleran (atau teramat modern). Tapi Yahudi adalah yahudi. Atau lebih tepatnya zionis tetap saja zionis. Mereka tidak pernah berhenti untuk menguasai dunia. Itu adalah proyek hingga akhir zaman. Mereka-lah yang kemudian berhasil meruntuhkan imperium terbesar terakhir dunia Islam: Ottoman, atau Turki Utsmani. Air susu dibalas dengan air tuba.

Sebahagian lari ke tanah impian, Amerika, dimana mereka bisa mewujudkan mimpi, idealisme dan ambisi. Ide liberalisme, demokrasi dan sekularisme pun sebenarnya digunakan untuk menguasai dunia. Mereka membuka jasa penyimpanan emas bagi para penambang emas dan sebagai gantinya menerbitkan selembar kertas biasa dengan sedikit tulisan yang dianggap setara dengan nilai emas tersebut. Di kemudian hari, kita mengenalnya dengan uang kartal dan kita kemudian mengenal jasa perbankan. Kita membiarkan para Zionis menyimpan emas, uang sesungguhnya dan menerima saja ketika disodorkan kartal sebagai alat pembayaran sah.

Emas tidak bisa dicetak, ia hanya bisa ditemukan, ditambang. Abaikan saja dongeng tentang jenius kimia yang bisa mengubah batu menjadi emas. Menurut teori fisika, emas terbentuk dari proses kimiawi sebagai akibat benturan antar benda-benda langit yang amat jarang terjadi dalam hitungan jutaan tahun. (Hal ini baru saya ngerti ketika dengan amat hati-hati nonton Seri The Planet-nya BBC. Si astro-fisikawan yang gak nerd looking itu benar-benar hebat karena bisa menjelaskan teori rumit pada para idiot semacam saya :)

Sebaliknya uang kartal bisa dicetak sesuka hati mereka yang menguasainya. Sesuka hati mereka yang secara demokrasi diberi otoritas untuk melakukannya. Dan secara global, demokrasi memberi otoritas pada korporasi besar yang bernama perbankan internasional, bank dunia, IMF dan alat-alat Zionis lainnya.

Mereka begitu sabar menjalankan proyek menguasai dunia. Proyek sepanjang zaman, antar generasi. Dimulai dari Bank of England dan puncaknya ketika menguasai Bank Sentral Amerika dan mendikte dunia dengan Bretton Wood System. Sejak itulah dimulailah ekonomi gaya rodeo yang mendunia: bubble economy.

Mereka juga sabar menguasai jaringan informasi dunia. Menguasai apa yang seharusnya masuk ke otak kita, para pinky. Apa yang kemudian kita olah dalam cara berpikir kita. Mereka mendikte apa yang seharusnya kita pikirkan. Duo Yahudi, Larry Page dan Sergey Brinn dibantu Eric Schmidt yang lagi-lagi juga Yahudi menciptakan Mesin Pencari dan dengan algoritma rumit mulai mendikte apa yang seharusnya kita temukan dan tidak kita temukan.

Dan mereka tidak pernah puas. Eric Schmidt pernah keceplosan yang kemudian diralat pihak Google. Berikut kutipan langsungnya:
With your permission you give us more information about you, about your friends, and we can improve the quality of our searches [...] We don't need you to type at all. We know where you are. We know where you've been. We can more or less know what you're thinking about.

Dan Google pun menciptakan Chrome dan Android yang kita terima dengan suka cita. Chrome adalah browser tercepat dan Android adalah sistem operasi ponsel pintar yang murah meriah. Imbalannya, dengan Chrome, anonimitas, hal yang paling dibenci Eric Schmidt, perlahan mulai berkurang dengan atau tanpa sepengetahuan kita. Dengan Android, hidup kita semakin bergantung pada Google. Fasilitas sync memungkinkan Google mengetahui siapa saja yang kita telpon setiap hari.

Informasi pribadi para pinky semakin terekspos ketika menggunakan Facebook yang diciptakan Mark Zuckerberg, Yahudi lainnya. Privasi dan anonimitas para pinky seperti kita mungkin tidak begitu penting. Informasi para pinky yang berusaha menjadi Brain-lah yang diincar Zionis untuk mengenali musuh-musuh potensialnya.

Pinky and The Brain mungkin hanya sekedar kartun yang kebetulan diciptakan Spielberg yang Yahudi dan Warner yang juga milik Yahudi. Dan inilah kita para pinky yang tak berdaya. Kita hanya berharap si Brain dalam dunia nyata punya sedikit nurani kemanusiaan. Tapi apa bisa ? Toh mereka adalah ras paling rasis, paling apharteid yang tersisa di muka bumi.

Atau mungkin secara pasif kita berharap Imam Mahdi dan Nabi Isa segera turun ke muka bumi untuk mengalahkan si Brain. Tapi entah kenapa saya lelah untuk berharap. Saya mulai mempertanyakan otentisitas konsep Imam Mahdi. Skenario apa yang terjadi di akhir zaman ? Apakah Brain benar-benar dikalahkan lewat sebuah perang fisik ? Atau dikalahkan secara sistematik dan gradual sebagaimana Brain dengan sabar menjalakan proyek menguasai dunianya. Apakah Imam Mahdi itu sesosok figur pribadi dan tampaknya itu tidak fair atau ia bisa direpresentasikan secara komunal ? Bisakah kita para pinky ini menjadi Imam Mahdi secara kolektif ?

11.2.11

kompetisi, kreatifitas dan beta yang (tak) terbilang..

Saya selalu mengingat para pengembang Opera sebagai orang-orang yang punya ide kreatif dan pionir yang memperkenalkan banyak fitur-fitur berselancar. Tapi pertanyaannya, kenapa mereka tidak pernah memimpin pasar browser ?

Pertama, seingat saya, Opera-lah yang pertama kali memperkenalkan teknik tabbed browsing, yakni pola tab berdampingan dalam satu jendela. Dengan demikian berselancar di internet jadi lebih efisien karena untuk mengakses website berikutnya, pengguna tidak harus mengklik ikon browser berulangkali. Tidak hanya menghemat waktu berselancar, tapi juga menghemat sumber daya (resources) komputer. Tapi pengembang Opera terlambat menyadari bahwa pola bisnis berubah ketika Mozilla merilis browser Firefox secara bebas, terbuka dan gratis.

Mozilla memperoleh pendapatan dengan cara bekerjasama dengan Google dengan menjadikannya sebagai mesin pencari bawaan dan utama. Sementara itu Opera Inc, merilis browsernya secara shareware dan atau adware. Baru belakangan mereka mengikuti cara kreatif Mozilla, minus kode terbuka. Opera juga terlambat menyadari bahwa popularitas Firefox amat terbantu dengan banyaknya add-ons yang menambah pengalaman berselancar pengguna.

Sampai disini kita bisa melihat bahwa di pasar manapun, kompetisi tidak hanya berarti siapa yang paling bisa menghadirkan ide kreatif, tapi juga berarti siapa yang bisa mengubah aturan main.

Kedua, Opera juga sejak awal mempelopori antar muka yang sederhana, teknik speed first loading. Google Chrome kemudian muncul dengan tidak hanya antar muka yang lebih sederhana dan speed first loading, tapi juga integrasi penuh dengan mesin pencari Google. Berikutnya, GC tidak hanya diperkaya dengan add-ons, themes/background images, tapi juga teknik instalasi add-ons/ekstensi yang tidak memerlukan restart ulang.

Ketiga, lagi-lagi Opera memimpin dengan memperkenalkan tab majemuk (compound tabs) untuk mengorganisir situs-situs yang sedang dikunjungi oleh pengguna. Namun ide itu tidak cukup untuk membuat Opera dilirik. Saya kira masalahnya adalah Opera gagal mendefinisikan pengalaman apa yang ingin didapat oleh pengguna dalam berselancar dengan menggunakan add-ons. Sebahagian besar ekstensi Opera malah membuat pengguna tidak fokus dalam berselancar. Pun, banyak ekstensi yang ditujukan untuk cloud computing dan atau kerja koloboratif--dua hal yang belum terlihat urgensinya untuk diintegrasikan dalam browser. GC dan Firefox saat ini masih fokus sebagai standalone browser. Di lain sisi, ide tab majemuk agaknya akan memerlukan waktu lebih lama untuk diadopsi oleh para pengguna sehingga belum terlihat urgensinya hingga saat ini.

Mungkin itu sebabnya Firefox memperpanjang jadwal rilis Firefox 4 hingga menunda peluncuran versi Release Candidate hingga hampir 4 bulan. Hingga saat ini Firefox 4 sudah mencapai 12 beta. Bila saat rilisnya tiba, saya berharap Firefox bisa menyamai kecepatan, kemudahan dan stabilitas Google Chrome. Plus, satu hal yang selalu menjengkelkan setiap kali munculnya versi terbaru Firefox adalah masalah kompatibilitas dengan add-ons yang ada.

Secara pribadi, saya berharap scrapbook bisa diadaptasi secepatnya oleh Firefox 4. Alternatif semacam Read-it-Later, Instafetch bahkan gReader Pro (RSS Reader) yang bisa saya akses lewat ponsel tidak mampu menggeser scrapbook di hati saya..


1.6.10

obama dan amerika: 2 entitas berbeda ?

Hal pertama yang ingin saya katakan adalah saya tidak percaya pada sistem politik Amerika. (Saya justru lebih percaya sistem politik Indonesia, India dan Turki) Alasan pertama: ada kekuatan di balik layar, yaitu Yahudi Amerika. Tidak aneh kalo calon presiden Amerika musti berbicara di depan forum AIPAC, berkunjung ke Israel atau setidaknya berjabat tangan dengan PM Israel. (Bandingkan dengan calon presiden Indonesia yang belakangan mulai membiasakan dirinya sowan ke Amerika sebelum masa kampanye) Alasan kedua: sistem dwi partai lebih mirip oligarki ketimbang demokrasi. Memang disana ada partisipasi publik yang luar biasa dan masa kampanye yang amat panjang. Tapi tidakkah itu sekedar kulit luar atau semacam strategi PR saja. Nyatanya, tingkat golput justru tinggi.

Dan itu alasan dasar saya untuk tidak mempercayai setiap calon presiden Amerika. Bahkan Obama. Ya, kita semua membenci si Bush kecil, tapi tidak lantas bisa simpati pada Obama kecil. Ketidakpercayaan saya semakin menguat ketika ia memilih Hillary Clinton sebagai menteri luar negeri. Bagi saya, itu sama saja dengan berbagi kue kekuasaan dengan seorang mantan senator New York yang pernah menolak bantuan dana kampanye dari komunitas muslim demi menjaga hubungan baiknya dengan komunitas Yahudi. (Ia seperti mengatakan tidak ada 1 dunia yang bisa ditempati 2 komunitas itu sekaligus). Apa artinya menjadi seorang Presiden Amerika, manusia paling digdaya sejagat ? Tentu saja Foreign Policy. Dan sayangnya ia harus berbagi policy dengan seorang pesuruh Yahudi demi mendapat dukungan dalam kampanye untuk menjadi presiden Amerika. (Dan saya semakin jengkel ketika tahu pengganti Alan Greenspan masih seorang Yahudi tulen)

Saya juga jengkel dengan tokoh-tokoh Indonesia yang begitu mengidolakan Obama. Amerika benar-benar berhasil menjadikan pemilunya mendunia karena seorang Obama. Bahkan orang-orang macam Fadjroel Rachman yang--setahu saya amat polos--sampai harus berkilah ketika Obama menambah pasukan di Afghanistan dan korban jiwa yang berjatuhan semakin meningkat layaknya kondisi Irak semasa rezim Bush. Mereka bilang Obama tidak bisa merubah Amerika dalam semalam. Mereka bilang Obama dan Amerika adalah 2 entitas berbeda.

Dan ketika Obama berhasil menggolkan RUU Kesehatan, mereka dengan gegap gempita menyambut kemenangan itu. Bahwa setelah diperjuangkan selama 4 masa kepresidenan, hanya Obama yang mampu menggolkannya. Bull shit ! Bagi saya, fakta bahwa layanan kesehatan Amerika adalah yang terburuk dibanding negara-negara maju lainnya menunjukkan setidaknya 2 hal. Pertama, Amerika sebagai negara jelas telah lama dikooptasi oleh korporasi-korporasi besar. Tidak aneh kalo ada yang bilang bahwa diplomat-diplomat Amerika dan orang-orang macam Jhon Perkins tak lebih dari pesuruh-pesuruh korporasi. Contohnya, kasus Freeport, Newmont dan Exxon di Indonesia. Berhasilnya Irian Barat masuk ke dalam NKRI tidak lepas dari keinginan Freeport yang sudah gatal ingin mengeruk emas di tengah hutan tropis Papua. (Masa bodoh dengan heroisme yang diceritakan di buku-buku sejarah sekolahan). Kedua, menolak lebih lama RUU Kesehatan, sama saja dengan menolak takdir sejarah yang seharusnya. Amerika akan ditertawakan bahkan oleh musuh di depan halaman: Kuba. Film Sicko dengan satire menggambarkan betapa mudahnya sekelompok orang-orang Amerika yang menjadi korban sistem kesehatan Amerika datang ke Kuba dengan perahu kecil dan mendapat layanan kesehatan memadai di Kuba. (Dan di bagian akhir, si sutradara pergi ke gedung kongres dengan sekeranjang cucian sembari berharap Amerika seperti Perancis yang menyediakan pembantu rumah tangga gratis bagi ibu hamil dan menyusui)

Lalu perubahan apa yang sudah dilakukan Obama ? Bagi saya, tak lebih dari sekedar strategi PR dan marketing. Lihat saja, pidatonya di Kairo disambut positif dan antusias di selurah dunia Islam. Tapi apa yang terjadi ? Ia melaksanakan janjinya mengurangi pasukan di Irak, tapi di saat yang sama diam-diam menambah pasukan di Afghanistan. Belakangan ia bilang menutup Guantanamo adalah perkara sulit.

Tuan Obama, kata dan perbuatan anda tidak sejalan !



23.5.10

jumatan

Sudah lama saya ingin menuliskan khutbah-khutbah Jumat yang berkesan di hati. Saya bukan muslim yang baik jika ukurannya adalah berapa pengajian yang saya ikuti setiap bulannya. Ya, Jumatan hampir merupakan satu-satunya pengajian yang saya ikuti beberapa tahun terakhir. Karenanya saya berusaha menghilangkan kebiasaan ngantuk apalagi tidur saat Jumatan; berusaha mendengarkan dengan hati, bukan dengan kritisisme kognitif.

Jumat kemarin cukup berkesan di hati saya. Di antara kantuk yang mendera setelah semalaman begadang, masih bisa saya simak khutbah Sang Khatib. Entah ada hubungannya dengan Everybody Draws Mohammad Day, Khatib bercerita tentang hari-hari terakhir Nabi Muhammad. Entah sudah berapa kali saya baca dan simak cerita itu. Tetap saja, tidak bosan.

Mulai dari paska penaklukan Khaibar, dimana Nabi dihidangkan seekor kambing yang dilumuri racun oleh seorang wanita tua Yahudi. Dalam hati, saya selalu bertanya, kenapa Jibril telat memberitahukan Rasulullah bahwa daging tersebut beracun. Nabi sempat menyantap hidangan itu. Dan ajaibnya, beliau tidak meninggal seketika. Setelah itu Nabi memanggil si wanita tua itu dan menanyakan kenapa ia ingin meracuninya. Sang wanita menjawab: "Jika engkau benar-benar utusan Allah, niscaya engkau mengetahui bahwa daging itu beracun. Sekarang aku percaya." Saya lupa apakah wanita itu akhirnya menjadi muallaf. Yang pasti, Nabi memaafkannya. (Bagi saya, perkara memaafkan ini jauh lebih penting dari soal muallaf)

Beberapa bulan kemudian Nabi mulai sakit-sakitan akibat racun yang bersemayam dalam tubuhnya. Di hari-hari terakhir beliau, Abu Bakar diperintahkan menjadi imam shalat menggantikan Nabi yang terbaring di tempat tidur. Saya membayangkan suasana kediaman Rasulullah. Bagaimana dukanya Fatimah, Aisyah dan istri-istri beliau lainnya. Saya membayangkan beliau masih saja mengingat keadaan dan masa depan umatnya di saat-saat seperti.  Saya membayangkan Jibril yang memalingkan mukanya, saat nyawa Nabi Muhammad dicabut. Nabi bertanya, "Kenapa kau memalingkan muka, wahai Jibril. Apakah kau tidak suka melihatku ?" Jibril menjawab, "Bukan begitu, wahai kekasih Allah. Saya tidak tega melihatmu begitu kesakitan."

Dan ketika kabar wafatnya Nabi diketahui khalayak, semuanya gempar. Umar ibn Al-Khattab sampai-sampai mencabut pedangnya dan berjanji akan menebas semua orang yang berani mengatakan bahwa Nabi wafat. Di kejauhan, Abu Bakar yang saat itu berada di salah satu sudut kota Medinah datang tergopoh-gopoh menenangkan situasi. Dibacakannya selarik ayat, "Barang siapa yang akan menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa ia (Muhammad) akan mati suatu saat. Barang siapa yang menyembah Allah, maka Ia kekal selamanya." Dan khalayak pun tersadar. Umar berkata, "Wahai Abu Bakar, seakan-akan aku baru mendengar ayat itu untuk pertama kalinya saat ini.

Sang Khatib bercerita dengan menahan rasa haru yang begitu mendalam. Terkadang ia berhenti sesaat, terisak, menahan tangis, dan melanjutkan kembali kisah itu. Suaranya parau. Yang lebih menyentuh lagi, di rakaat kedua Shalat Jumat, khatib itu membacakan 3 bait ayat yang amat indah. Bahasa yang begitu puitis.

"Kullu maa 'alaihaa faaan
Fayabqa wajhu rabbika dzull jallali wal ikraam
..........."

"Setiap yang ada di atas semesta akan berakhir (fana)
Yang akan tersisa hanyalah wajah Tuhanmu yang Maha Tinggi dan Maha Terpuji"

Begitu lembut bahasa ayat ini. Sang Khatib yang menjadi Imam Shalat itu seakan-akan ingin meredakan kesedihannya dengan membacakannya. Bahwa wafatnya Rasulullah adalah bagian dari takdir kefanaan Nabi sebagai manusia biasa. Jumat yang mengesankan !

Catatan Kecik :
  • Entah kenapa Allah mengirimkan kekasih-kekasihnya (Ibrahim dan Muhammad) ke tengah-tengah padang pasir amat luas yang kemudian bernama Makkah. Siang hari, suhunya bisa mencapai 50° C di musim panas. Dan di musim dingin, suhunya menusuk tulang. Begitu ekstrim. Bayangkan hidup di zaman tanpa AC dan sun block
  • Dan entah kenapa sakratul maut Rasulullah tidak dimudahkan semudah-mudahnya oleh Allah. Bandingkan dengan kisah-kisah sakratul maut orang-orang yang dianggap wali. Entah hikmah apa yang bisa kita petik.
  • Kata "Fana" yang bearti tidak abadi, punya akar yang sama dengan kata "funun" yang berarti seni, creature atau ciptaan. Segala sesuatu yang diciptakan selalu punya awal dan punya akhir. Alam semesta ini adalah maha karya seni Sang Abadi. Mungkin diciptakan dengan kerumitan kalkulasi fisika dan matematika. Tapi yang pasti, Allah menciptakannya dengan rasa seni.
  • Saya tidak tahu 3 larik ayat yang dibacakan di rakaat kedua itu berasal dari surat apa. Ada yang bisa bantu ?


20.4.10

a reading on world of FOSS

Ahmad Fuadi bilang salah satu langkah menjadi penulis adalah menyukai apa yang anda tulis. Nah, saya termasuk yang demikian. Postingan kali ini sekedar untuk mendokumentasikan apa yang saya mengerti tentang dunia perangkat lunak bebas dan terbuka. Suatu saat saya ingin menuliskan secara komprehensif, tidak kayak serpihan-serpihan begini.

Tulisan di bawah ini sejatinya adalah komentar saya di Note seorang teman. Dia men-tag saya, dan saya pun berkomentar. Saya tidak tahu apa ia benar-benar bersyukur atas komentar saya. Saya ikhlas kalau ia suka maupun tidak. Saya melihat ia benar-benar butuh bantuan untuk memahami dunia yang sudah lama saya pelajari ini. Saya berkenalan dengan Linux sejak 2001 dan kecenderungan intelektual saya membuat saya menyukai dunia ini, baik secara aplikatif maupun teoritis/filosofis. Sampai saat ini saya masih merasa banyak bagian yang belum saya mengerti, terutama tentang lisensi terbuka mana yang paling realistis-kompetitif tanpa harus mengorbankan idealitas kebebasan. Hati saya masih bertanya, apakah berbisnis dengan mengandalkan perangkat lunak bebas terbuka benar-benar realistis untuk semua bidang ?

Oh ya, saat ini saya sedang menulis Tutorial Linux Ubuntu untuk menyambut rilis Ubuntu Lucid 10.04 di 29 April 2010. Masalahnya, saya sedang tidak dalam situasi bagus untuk menulis. Teman saya bilang, schedule penerbitan saya terlalu strict. Hmm, kalau deadlinenya terlewati mungkin saya lepas aja buku ini dalam format PDF ke komunitas dengan lisensi CCL / FDL

Cerita lain, saya baru mendapat pemahaman komprehensif tentang gagasan-gagasan Hassan Hanafi sehabis mengikuti diskusi dengan pembicara yang membosankan. Lucu juga, si membosankan itu bisa juga menjelaskan dengan baik Hassan Hanafi. I'd thank him veryyyyy much. Barusan saya bisa merakit hubungan antara Kiri Islam, Oksidentalisme & Ihyaa al-Turats. Benar-benar fantastik. Mungkin hasilnya akan mengejutkan bila saya bisa menyambung gagasan Hassan Hanafi dan Kuntowijoyo. Saya begitu ingin menuliskannya, tapi seperti saya bilang, kondisi saya sedang tidak konsen.


_________________________________________________________

Setahun y.l ada diskusi soal Teori Keadilan disini, ngebahas Si Opa sampai pemikir kontemporer. Tapi aku kelewat. Lagian, aku gak pernah punya perhatian pada diskursus TK. It's out of my boundaries. Setahuku, itu beratnya ke kajian filsafat karena sifatnya yang amat fundamental. Jadi Master boleh jadi benar. Mengutip Si Opa mungkin terlalu kejauhan. Itulah gunanya para filsuf sosial. They're down to earth.

Mereka yg belajar politik mungkin familiar dg Teori Ketergantungan. Mungkin itu cocok menggambarkan bahwa UU Hak Paten Amerika menciptakan ketergantungan terhadap software propietary. BSA, aliansi perusahaan perangkat lunak propietary menjadi alat yang melakukan tuntutan terhadap pelanggar di seluruh dunia. Diatasnya masih ada IIPA. Belakangan, IIPA mengadukan Indonesia & bbrp negara lainnya ke US Trade Representative karena pemerintah mendorong IGOS.

Setidaknya ada 2 mazhab dalam dunia Free & Open Source Softwares (orang Eropa suka bilang Free, Libre, & Open Source Softwares; FLOSS). Pertama, yang menekankan pada Free Software, dimotori oleh Richard M. Stallman, pendiri Free Software Foundation, penggagas GNU/GPL. Kedua, mereka yang menekankan pada sisi Open Source, seperti Linus Torvalds. Richard terlalu idealistic, utopis. Sementara Linus lebih fleksibel. Distro Linux yg cenderung ke Stallman adalah Debian. Sementara yg paling fleksibel adalah Ubuntu. Canonical menyertakan dlm Ubuntu beberapa program yg ditulis dalam bahasa programming C# ciptaan Microsoft lewat Proyek Mono. Seperti F-Spot & Sticky Notes. Juga ada kerjasama dg Microsoft untuk menjamin interoperatibilitas. Tapi setidaknya Canonical masih menjaga jarak dg MS, tidak seperti Novell yg dianggap berkhianat pada filosofi FOSS.... See More

Linus bilang, hal terbaik yang pernah ia lakukan adalah men-GPL-kan (Kernel) Linux. See? Bukan kernelnya yg terbaik, tapi payung hukumnya, Lisensi GPL v2. (Meski v3 sudah keluar, Linus ttp kekeh dg v2). Kalo Tanenbaum lebih dahulu men-GPL-kan Minix, mungkin kita tidak pernah mengenal Linux.

Mungkin udah mengerti apa manfaatnya FOSS dibanding Propietary? Propietary menciptakan ketergantungan pada perusahaan komersial tertentu terhadap suatu produk software tertentu karena sifatnya yg close source. Dalam dunia server dulu hanya ada 1 OS: yaitu UNIX yang lisensinya dimiliki secara bersama-sama oleh perusahaan2 besar seperti IBM, Novell, SUN, SCO, AT&T, Bell dst. UNIX hanya bisa dijalankan pada komputer mainframe. Lalu Tanenbaum menciptakan versi mini dari UNIX (Unix-like) utk diajarkan di lab komputer kampus. Karena banyaknya pembatasan & keterbatasan Minix, Linus menulis Linux untuk bisa dijalankan pada komputer AT86. Tanenbaum bilang AT86 tidak akan panjang umurnya. Tapi Linus kekeh, dan terbukti prediksi Tanenbaum salah. Mayoritas PC saat ini dibuat diatas arsitektur AT86 (x86_64). Dan kemudian lahir Windows NT

Di dunia desktop, agaknya hanya ada 2 pemain penting: Microsoft dg DOS lalu Windows. Dan Apple dg Mac. Mac memilih filosofi benar-benar eksklusif sehingga hanya masuk ke niche market (menjual OS sekaligus hardware, integrated). Microsoft memilih menjual lisensi DOS ke IBM ketimbang menjual DOS itu sendiri (OEM). Dan strategi Bill Gates terbukti jitu. Dengan uang dari IBM, ia merekrut programmer2 handal dan menciptakan Windows 3.1 yg konon menjiplak Mac2. Bill benar2 mencetak hits dg Windows 95 & MSOffice.

Secara ekonomi, FOSS menciptakan kemandirian & local advantage. Bila sebuah perusahaan ingin menggunakan OS Windows Server maka ia harus membeli software dari luar negeri & layanan jasa Microsoft atau authorized service-nya. Kalo menggunakan OS yg OpenSource, perusahan tersebut bisa mendapatkan OS secara gratis & menyewa perusahaan IT Support local.

Apache adalah teknologi web server open source. Hampir 80% server di slrh dunia menggunakannya. PHP adalah bahasa programming terbuka. Sebahagian besar web ditulis dg bahasa ini. Joomla, Wordpress, Drupal, Mamboo dst adalah contoh betapa teknologi open source mewarnai hidup kita. Dan semuanya bisa diperoleh dg gratis atau dengan kata lain, biaya yang dibebankan pada end-user jd lebih ringan.

Sebelum kita mengenal smartphone secara luas, Mobile Operating System dikuasai oleh SymbianOS dari Symbian Inc. yg sebahagian besar sahamnya dimiliki Nokia. Saat ini Linux dlm berbagai bentuk (Maemo, OpenMoko, Android) terus meningkat share-nya. Ini memaksa nokia meng-open-source-kan Symbian di Feb 2010. Dg demikian, share Mobile OS dikuasai oleh OpenSource.

Kesimpulan
Mereka yg belajar bisnis bisa melihat bahwa Bill Gates, Steve Jobs & Linus Torvalds merubah aturan main dlm bisnis. Mereka yang belajar hukum bisa melihat bahwa pemilihan lisensi yang tepat adalah kunci keberhasilan jangka panjang. Gerakan FOSS merubah aturan main dalam pengembangan software & berbisnis software sehingga memaksa banyak pihak untuk membuka kode sumber ciptaan mereka dan meletakkannya di bawah payung lisensi2 terbuka semacam GPL/LGPL, Mozilla License, BSD License dst

==========================================

sedikit tambahan, bukan Linux yg memaksa Nokia meng-open-kan Symbian, tapi persaingan yg memaksanya sejak RIM & Apple & Google masuk pasar smartphone. Jadi, dengan meng-open-kan, memberi kesempatan pada orang di luar perusahaan untuk memodifikasi, menambah, merombak kode-kode tersebut. Hasil modifikasi tsb harus jg di bawah lisensi open. Jadi ada ... See Morekeuntungan bagi masing2 pihak.

Apple baru benar2 mencetak hits sejak Steve kembali & menelurkan MacOS X & iPod. Sejak MacOS X, Apple merombak total kernel-nya berdasarkan kernel FreeBSD. Tidak hanya mendapatkan sistem yg lebih stabil, Apple mendapat konsumen baru: para pengguna Unix & Unix-like. Hacker, programmer, Linuxer dst..


====================================

Contoh terbaik untuk mengungkapkan advantage dari FOSS Movement adalah fakta bahwa Linus Torvald hanya berkontribusi 2% dari total source code kernel linux saat ini. 98%-nya? The rest of the world !

Linux pada dasarnya hanya sebuah kernel atau core of OS. Untuk menjadi sebuah sistem operasi komplit ia harus di-bundle dg perangkat lunak lainnya, yg umumnya bersifat FOSS. Karena itu kita mengenal istilah distro-distro. Kemasan/bundelan dari Linux. Kenapa ada begitu banyak distro. Itulah resiko sekaligus advantage dari arti sebuah kebebasan. Setiap orang punya taste & tujuan masing2 dalam membuat distro. Tapi secara umum, bisa dibedakan jd 3: untuk tujuan Server (RHLE, CentOS), Desktop atau tujuan spesifik (ie, PartedMagic OS, ClonezillaOS, IPCop)

Secara umum, elemen gerakan FOSS bisa dibedakan jadi 2: individu/komunitas & perusahaan, baik Ltd atau Inc. Tentu saja keduanya tidak bisa dipisahkan. Ubuntu adalah contoh terbaik kolaborasi keduanya. Itu yg membuat Ubuntu langsung meroket menjadi distro linux yg paling banyak digunakan padahal baru lahir pada Oktober 2004: perhatian thd pengembangan komunitas. (Lihat distrowatch.com)... See More

Hati2 dg istilah. Free Software berbeda dg Freeware. Sangat. Shareware, trialware/demoware itu "hanya" istilah marketing. Free software sudah pasti open source. Tp open source belum tentu free software. Free tidak selalu berarti free of charge. Free in FOSS movement actually refers to freedom. (Lebih lanjut lihat wikipedia). Tidak semua lisensi di dunia open source yg benar2 mencerminkan freedom yg dimaksudkan Richard dalam 4 basic freedom. BSD Lisense, misalnya. Jadi, baca baik2 isi lisensi.

Linux bisa ditemukan pada banyak perangkat. Mulai dari mainan, robot, hingga pesawat ulang alik NASA. Kenapa NASA memilih Linux, bukan UNIX yg lebih tua atau Windows Server ? Cari aja jawabannya sendiri :) Mungkin faktor lisensi

Mereka yg tidak mampu bertahan thd perubahan pasti tersingkir saat aturan main bisnis berubah. Palm adalah contoh terbaiknya. Palm adalah pionir PDA. Beberapa tahun lalu masih ramai perbincangan, mana yg lebih baik PDA dg phone featured atau Smartphone dg PDA capabilities. Palm sulit untuk beradaptasi dg perubahan dan tersingkir.

Beberapa waktu lalu Windows Mobile masih menguasai pasar. Microsoft berusaha beradaptasi dg perubahan dg me-repackage menjadi Windows Phone7. Apakah model bisnis OEM Microsoft yg satu ini bakal bertahan?
Nokia berusaha mempertahankan pangsa pasar Symbian dg meng-opensource-kannya. Google dg Android benar2 merubah aturan main bisnis. Dg mendasarkan pada Linux, setiap vendor perangkat keras boleh menggunakannya tanpa batasan. Beberapa tahun mendatang, Android akan menguasai pangsa pasar Mobile OS sebagaimana Windows pernah benar2 dominan di pasar PC.

Apple tidak pernah menjadi ancaman serius bagi Microsoft. Yang ada hanyalah, Microsoft berusaha mencuri pangsa pasar iPod dg Zune. Atau pasar Google dg Live atau Bing. Dan selalu berakhir sbg medioker

Secara de jure, microsoft mungkin rugi ketika produknya dibajak di Indonesia. Secara de facto, mereka diuntungkan karena ketergantungan orang Indonesia pada produk-produk propietary. Kalau UU Haki ditegakkan, Linux akan benar2 menguasai lab-lab komputer kampus & pemerintahan. Penetrasinya akan berlanjut ke korporasi & dunia usaha. Biasalah, kita kan negara miskin. Windows emang keliatan murah, tapi MS Office-nya mahal bgt

=============================

Untuk apa UU Haki dibuat ?
Sarang pembajakan HAKI (dan pornografi) hanya berjarak 1 KM dari Istana Presiden & hanya berseberangan jalan dg Polsek Glodok. Tidak pernah digerebek. Disana, setiap hari jutaan CD/DVD dibungkus satu per satu tiada henti dari pagi - sore dan menyebar ke seluruh indonesia
Lalu apa artinya peristiwa penggerebekan2 pabrik pembajak CD di pinggiran2 Jakarta. Mungkin sama halnya dg penggerebekan pabrik2 narkoba. Sekedar konsumsi media, menjalankan budaya ABS (asal bapak senang) dan hanya menggerebek yg tidak menjalankan "budaya setoran" dengan patuh.

Begitu sering razia windows bajakan di warnet2 tapi tidak pernah razia di kantor2 pemerintah & lab-lab komp. kampus. Parahnya lagi dijalankan oleh polisi / satpol PP yg tidak bisa membedakan mana yg bajakan & mana yg original. Ujung2nya, mirip budaya tilang: pemerasan. Lalu kenapa judulnya razia windows bajakan? Bagaimana kalau windowsnya ORIginal tapi program2 aplikasi berikut games-nya bajakan?...




13.4.10

ngLumix juga aah..



Penasaran dg Lumix-nya Mona. Emang produk superior. Tapi tukang jepret yang ini rada dodol. Terlalu dekat dengan objek. Jadi sedikit blur. Oh ya, judulnya "Coffe dan temennya si mate."

21.3.10

scan virus Windows dari Linux

klik untuk memperbesar


Saya pernah membiarkan Windows XP di laptop saya tanpa anti virus. Saya pikir saya bisa menjaganya dari virus dengan prinsip kehati-hatian. Toh, saya nge-net langsung dari laptop ini dan flash disk orang lain tidak akan pernah nyolok di laptop saya.

Sebulan, dua bulan, anggapan itu masih benar. Hingga saya melanggar aturan pertama: jangan ke warnet & jangan pulang dengan flash disk yang pernah dicolokin ke komputer warnet. Bagi yang punya warnet, virus itu urusan pelanggan. Urusan mereka adalah bagaimana caranya komputer tetap jalan dengan stabil & cepat tanpa perlu menginstall antivirus yang memakan resources komputer. Solusi orang warnet sudah pasti DeepFreeze yang cara kerjanya mirip tombol reset di handphone.

Bagaimana lagi? Waktu itu saya butuh akses internet dengan kecepatan tinggi. Dan solusinya, warnet di jam-jam tidak sibuk (non-peak time). Beberapa hari kemudian komputer saya mulai menunjukkan perilaku aneh. Beberapa program mulai tidak responsive. CorelDraw contohnya. Untuk menjalankannya saya harus melakukan prosedur Uninstall & Install berulang kali. Program WinDVD ikutan ngadat.

Install ulang ? Nah itu masalahnya. Pertama, CD ROM saya sudah lama rusak karena hobi saya membakar CD & mengirim/memberikannya ke teman-teman atau sekedar membackup program/data di laptop saya :) . Kedua, saya tidak punya CD WinXP. Beberapa tahun belakangan, saya lupa bahwa CD WinXP adalah aset penting selain CD Rescue. Saya lebih sering mengandalkan Norton Ghost versi DOS untuk urusan back-up & restore. Programnya cuman 1,2 MB tapi fungsinya luar biasa. Andalan terakhir orang-orang warnet ! Celakanya, image ghost pernah saya pindahkan ke DVD. Maniak tweaking amat mudah menjadi maniak free-space :). I let my laptop "breathing" deeply by giving it laaarge free space.


Satu-satunya solusi adalah mencoba segala opsi yang berhubungan dengan booting via USB Drive. Flash Disk yang membawa masalah harus bisa jadi solusi. Kata kuncinya program Unetbootin dan PartedMagic OS. Saya ingat pernah mem-backup Windows dengan PM tapi lupa menaruhnya. Yang pasti backup itu saya simpan di partisi linux.

Dan akhirnya, semua masalah selesai dengan mudah. PartedMagic OS, salah satu distro linux yang menyediakan GParted & Clonezilla, benar-benar luar biasa. Lebih keren dari CD Rescue yang isinya penuh dengan program bajakan. Image back up yang pernah saya buat dengan clonezilla ditemukan.

Langkah pertama yang saya lakukan setelah memastikan adanya image Clone adalah menginstall Avast. Awalnya saya tertarik menggunakan ClamAV. Sayangnya, antivirus ini harus dijalankan lewat terminal. Akhirnya saya pake Avast. Setelah semua partisi di-scan, lalu saya gunakan PartedMagic OS untuk me-restore image XP yang pernah saya clone. Itu saja.

Demikianlah. Ini bukan masalah yang perlu saya dramatisir dan dibesar-besarkan. Bagi sebahagian maniak komputer, urusan back up dan restore cuman menunggu komputer menjalankan tugas sambil membuat kopi :)

Catatan kecik :
PartedMagic OS versi terbaru (4,8) tidak menyediakan Clonezilla dan digantikan dengan G4L. Kepanjangan tidak resminya: Ghost for Linux. Semacam program tandingan untuk Norton Ghost. Mungkin karena para programmer Clonezilla memilih untuk memisahkan diri dari proyek PartedMagic & menjadi tidak hanya sekedar sebuah program tapi juga OS.

20.3.10

Ubuntu dan mimpi-mimpi pengguna Linux


Ketika Google mengumumkan akan merilis Google Chrome OS, sebuah sistem operasi terbuka berbasis Linux, semua mata para pengguna, penggiat bahkan penggembira dunia open source tertuju padanya. Banyak analis menulis bahwa "it's last chance for Linux to make hits."

Bayangkan ! Bahkan Ubuntu, distro Linux yang paling banyak digunakan saat ini tidak mendapatkan apresiasi sedemikian rupa. Brand Google agaknya menjadi jaminan mutu. Google dianggap sarangnya programmer/hacker paripurna. Orang-orang FLOSS / FOSS / Linux seringkali menganggap Google, rekan sejawat yang paling bisa diandalkan untuk berhadapan face-to-face dengan Microsoft. Meski sebenarnya bila ditilik lebih jauh, jasa SUN tidak kalah besarnya kepada dunia Linux.

Dan seperti menunggu Godot, beberapa waktu lalu, ketika semua orang mengintip versi Beta dari Google Chrome OS, harapan itu mulai memudar. Google Chrome OS ternyata sebuah sistem operasi untuk tujuan Cloud Computing. Tidak ada satu pun aplikasi yang benar-benar di-install kecuali browser Chrome. Dan mungkin, tidak satu pun aplikasi boleh di-install karena semuanya berbasis Cloud--Google Apps.

Artinya untuk menggunakan sebuah laptop atau netbook bersistem operasi Google Chrome OS, ia harus terkoneksi ke internet dengan kecepatan tinggi. Model koneksi yang biasa ada di negara-negara maju, tidak di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Jangankan internet berkecepatan tinggi, koneksi internet stabil masih merupakan barang langka. Saya bahkan tidak pernah menggunakan Google Docs.

Dan banyak orang menjadi lelah berharap. Sebelumnya, Canonical menggadang-gadang bahwa Ubuntu 9.10 Karmic Koala yang dirilis beberapa hari setelah rilis Windows 7 akan menjadi pesaing setara. Tapi kenyataannya, sebagian pengguna dihadapkan pada masalah power management. Ubuntu gagal melakukan hibernate bahkan stand by. Konfigurasi audio menjadi tidak menyenangkan. Memang ada peningkatan stabilitas sistem, tapi semuanya pupus dengan masalah-masalah lain.

Saya bermimpi bahwa para pengguna Linux tidak hanya menyanjung-nyanjung Linux karena cinta, tapi fakta. Bahwa suatu saat Linux lebih populer dan mudah digunakan dibanding Windows. Bahwa laptop-laptop teman-teman saya yang gatek sekalipun menggunakan Linux dan mereka gembira dengannya

Saya ikhlas bila Canonical menghapus Gimp dari bundle Ubuntu 10.04. Tapi bisakah mereka memberikan pengganti yang setara dengan program ACDSee? Saya heran, kenapa virtualbox versi Windows lebih mudah digunakan dibanding versi Linux-nya. Saya berharap ekstensi Weblog milik Open Office benar-benar bekerja dengan baik. Saya merasa bersalah menggunakan Windows Live Writer atau ngeblog via Office 2007. Saya bermimpi menggunakan Nautilus semudah mengunakan Windows Explorer. Saya berharap Emphaty bisa digunakan sebaik YM atau GTalk. Saya berharap Evolution lebih mudah ketimbang Thunderbird 2. Meski Thunderbird 3 adalah bencana yang sempurna. Sama herannya kenapa Virtualbox 3.2 lebih sulit digunakan ketimbang Virtualbox 2.2

Catatan kecik :
Hari-hari belakangan bersama Ubuntu sedikit mengesalkan. Ubuntu 10.04 versi Alpha3 & Alternate gagal saya terinstall dengan benar setelah berhari-hari men-downloadnya. Moga saya tak bermasalah dengan versi Beta 1. Begitupun virtualbox. Ada harapan bahwa Virtualbox versi Lucid mudah digunakan sebagaimana versi Windows. No hacking needed.

Saya sedikit kesal dengan beberapa pengguna Slackware yang memuji-muji Slack karena lebih sulit digunakan. Secara tidak langsung mereka mengatakan dirinya hebat. Hey, dunia saat ini menunggu distro Linux yang mudah digunakan, bukan yang sulit. Masa-masa romantisme hacking telah usai, kawan !

Ubuntu 10.04 agaknya pantas dinanti-nanti. Saya berani berharap lagi

recent post