Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

31.12.08

SBY, Raja Jawa modern

Sejak Susilo Bambang Yudhoyono masuk ke dalam bursa capres, saya semakin was-was dengan orang ini. Track record-nya hampir tanpa cacat. Tulisan-tulisannya sering muncul di koran-koran, termasuk di Republika, bacaan utama saya. Pilihan untuk menulis di Republika, menurut saya untuk menjangkau pemirsa yang Islamis, salah satu konstituen politik penting di negeri ini. Karenanya dia dikenal sebagai militer intelektual. Agum Gumelar pun juga sering menulis di koran, tapi tidak sebagus tulisan SBY. Dan lagi, gaya bicara SBY lebih padat dan berisi, sementara gaya bicara Agum lebih informal. 

Karir militernya lebih banyak berhubungan dengan strategi militer. Ia sempat belajar di Sekolah Militer West Point. Kata kuncinya: strategi, intelejen, intelektual. Ia harusnya ikut dimintai pertanggungjawaban menyangkut krisis Timor Timur karena sempat menjabat Kepala Staf Teritorial, jabatan yang bertanggungjawab untuk urusan strategi dan intelejen. Dan kenyataannya ia bisa lolos dari lubang jarum itu.

Dalam militer sendiri terdengar friksi-friksi yang memuncak saat pra dan paska gerakan reformasi. Kubu Prabowo, anak begawan ekonomi Sumitro, menantu Soeharto, perwira muda cerdas yang rajin baca buku sekaligus ahli di medan perang. Ayah dalam konteks tertentu adalah intelektual pengkhianat. Dulunya ia anggota Partai Sosialis Indonesia lalu membangun jejaring dengan melakukan kontak-kontak dengan Soe Hok Gie. Ketika rezim Orde Baru lahir ia bekerja untuk Soeharto sementara Gie memilih kembali ke kampus. Sumitro bertanggungjawab dengan cetak biru ekonomi Orba yang digambarkan Dawam sebagai Kapitalisme Kuno atau Kapiltalisme bermazhab Klasik/Liberal (Adam Smith). Anak-anak begawan itu ikut kecipratan "kue pembangunan," sebagaimana anak-anak Soeharto

Juga ada Kubu Wiranto, mantan ajudan Soeharto, pernah menjabat panglima, yang selalu membanggakan ketidakmauannya merebut kekuasaan di saat chaos dan status quo 1998. Padahal menurut saya, kalkulasi politiknya menyimpulkan jejaring Wiranto di tubuh militer tidak memadai untuk sukses melaksanakan kup. Juga ada kubu Agum tapi tidak terlalu diperhitungkan. Berbeda dengan Wiranto vs Prabowo yang terlihat bersaing frontal, kubu SBY amat taktis berhadapan kubu-kubu lain.

Mengenai gerakan reformasi, militer tidak bisa dibilang mendukung reformasi. SBY termasuk setia di belakang Soeharto. Kalau pun kemudian dia kelihatan sebagai perwira reformis itu hanya karena mengikuti kemana angin berhembus kencang. Pragmatis - oportunis.

Saya sempat menaruh harapan ketika SBY meraih gelar doktor bidang ekonomi pertanian dari IPB menjelang pemilu, kalau toh ia akhirnya jadi presiden setidaknya ia peduli pada pertanian. Tapi nyatanya disertasi doktoralnya hanya sampah dari mulut yang berbusa-busa bicara tentang keberpihakan pada petani. Aktivis-aktivis LSM masih berteriak soal reformasi agraria; tercaploknya peruntukan lahan untuk pertanian yang paling produktif dan subur sekalipun untuk kepentingan lainnya; krisis benih dst. Meski petani adalah profesi mayoritas di negeri ini tapi masalah mereka jarang menjadi headline koran. Di saat krisis minyak dan kebutuhan dunia akan bahan bakar nabati yang berujung pada krisis pangan, pertanian kembali dilirik. Sayangnya, Indonesia tidak bisa mengantisipasinya. Itu kan tugas para ekonom untuk memproyeksi masa depan.

Dan terakhir, SBY berusaha mereduksi pengaruh Sri Sultan Hamengkubowono X yang maju dalam pilpres 2009. Keduanya bersaing dengan bahasa yang halus. Dahulunya, Soeharto berhasil meredam pengaruh Sri Sultan HB IX dengan menjadikan beliau wakil presiden. Ketika pihak Kraton Jogja menolak Ibu Tien dimakamkan di kompleks pemakaman mereka, Soeharto mendekati Kraton Surakarta dan berhasil membangun kompleks pemakaman Keluarga Cendana di dekat kompleks pemakaman
Kraton Surakarta. Kraton Surakarta sendiri sejak zaman Belanda memang sudah berkhianat pada negeri ini.

Kandidat terkuat yang akan menggusur SBY memang Sri Sultan. Megawati cukup kuat karena dalam darahnya masih mengalir keturunan priyayi Jawa - Bali. Akan tetapi Mega sudah lama tidak diterima di kalangan Islamis karena kecendrungan Kejawen dan sekularnya yang tidak berhasil disembunyikan.

Kalau kita membaca tindak-tanduk SBY dalam Kosmologi Jawa, sebagaimana yang pernah digunakan untuk memahami perilaku Soeharto, bisa disimpulkan bahwa ia Raja Jawa baru yang dalam konteks tertentu sama menakutkannya dengan Soeharto. Bahkan dalam beberapa hal ia lebih maju dari Soeharto. Dalam alam reformasi saat ini, basis pengetahuan strategi militernya amat mendukungnya untuk menjadi versi baru dari Raja Jawa. Raja Jawa modern !

28.12.08

berharap pada Obama? (2)

Sebenernya saya mo cerita tentang diskusi buku "Indonesia Dikhianati" karya Prof. Collins dari Ohio (15 Des, ba'da Isya). Beliau bahkan hadir di acara yang diadakan di Universitas Paramadina itu. Di antara mereka yang hadir, lebih dari 10-an orang mantan mahasiswa beliau yang rata-rata berprofesi sebagai aktivis LSM dan dosen. Anies Baswedan & Emmy Hafild hadir sebagai pembicara. Imam B Prasodjo yang kocak itu tampil sebagai moderator. (Kata dia, orang Indonesia gak bakal nglempar Bush pake sepatu. Sandal sih mungkin tapi tetap aja kejauhan (Irak)

Tapi sepertinya akan panjang kalau saya tuliskan tentang diskusi itu. Sebagai gantinya, saya kutipkan pendapat AB & EH tentang fenomena Obama. Demikian kutipan tidak langsungnya:

EMMY HAFILD:
Tidak ada korelasinya antara Obama menjadi presiden Amerika dengan semakin eratnya hubungan Amerika - Indonesia. Jangan terlalu berharap. Demokrat tidak lebih baik dari Republik. Siapapun presidennya, perhatikan siapa Chief of Economists yang dipilihnya. Larry Summer ! Larry Summer itu mantan orang World Bank. Dia penyokong pasar bebas dan NAFTA (North Amerika Free Trade Area).

ANIES BASWEDAN:
Sedikit menambahkan. World Bank pernah mengeluarkan sebuah memo yang merekomendasikan negara-negara maju untuk membuang limbah berbahayanya ke negara-negara lain. Saat itu Larry Summer bertindak sebagai editor memo itu. Rekomendasinya didasarkan pada penelitian bahwa biaya pengobatan orang-orang yang menderita karena limbah itu di Afrika lebih rendah ketimbang biaya pengobatan masyarakat negara-negara maju.



lihat juga: berharap pada Obama? (1), 9 Juli 08, posting pertama

  • Anies Rasyid Baswedan adalah cucu dari salah seorang founding father Indonesia, anggota BPUPKI, AR Baswedan. Dalam budaya Arab, adalah biasa memberi nama cucu/cicit dengan nama kakek /moyangnya. Dan orang Arab dikenal biasa menghafal silsilah keluarga.
  • Di antara sekian tokoh nasional yang bermukim di Jogja, AR Baswedan, sang kakek, adalah salah satu tokoh yang cukup dekat dengan Ahmad Wahib. Beliau percaya bahwa Soekarno adalah salah satu pembaharu Islam abad 20 karena bisa mensintesakan Islam & Marxisme menjadi Marhaenisme. Ah, kakek yang konyol ! (Lebih jelasnya, baca Kata Pengantar Dawam Rahardjo & Djohan Effendi untuk Catatan Harian Ahmad Wahib, terbitan LP3ES)

20.11.08

at a center of Capitalism (2)

Neoliberalism, Globalization and Bubble - Roller Coaster Economics

Minggu kemarin saya membeli beberapa komputer. Dan menyebalkan bahwa harga barang-barang impor itu berfluktuasi sedemikian cepat. Dua minggu lalu, toko-toko komputer masih menggunakan kurs Rp 11.500 / dollar. Kemarin Rp 12.200 / dollar. Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu pernah membantu teman membeli komputer dalam kurs Rp 8.700 / dollar. Tepat seminggu sesudah itu, kurs mendekati Rp 10.000. Gaji kita secara nominal memang tidak berkurang, tapi secara moneter menurun drastis. Lebih parah lagi, kata ayah saya, di zaman Soekarno nilai mata uang rupiah secara moneter tergunting jadi setengahnya.

Kalau gak salah, saya & teman itu beli komputer di era Rezim Gus Dur, pemerintahan yang tidak hanya tidak mampu menyelesaikan masalah, malah memproduksi masalahnya sendiri. Pemikir konyol semacam itu sebaiknya tidak jadi presiden. Plato salah kalo bilang yang paling pantas jadi presiden itu seorang filsuf. Filsuf itu pertapa, cukuplah ia berada di ketinggian. Tidak usah menghinakan diri dengan menjadi seorang presiden. Seperti Einstein, ia memilih matematika ketimbang jadi presiden Israel.

Saya juga tidak bisa menyalahkan pemilik toko itu. Meski ia membeli saat kurs di bawah Rp 9.000 / dollar, ia tetap saja tidak secure. Dan saya juga tidak bisa menyalahkan diri sendiri karena membutuhkan komputer baru di saat yang tidak tepat. Kami hanyalah korban sebuah struktur. Struktur menindas bernama kapitalisme. Ironisnya lagi, struktur itu mengglobal lewat globalisasi uang dan barang secara ekonomi - politik.

Secara budaya, globalisasi berarti westernisasi, penyeragaman taste. Pada satu titik ia merayakan demokrasi liberal, pasar bebas, inklusivisme, dan kebebasan individu. Tapi di titik lain ia berarti ekslusivisme: modernisasi berarti westernisasi, westernisasi adalah modernisasi. Food, fashion, fun (3F). Mac Donalds, Macintosh, Mac Gyver (3M). Pada satu titik ia menyatakan kebebasan pers adalah pilar keempat demokrasi. Pada titik lain, jejaring korporasi mengkooptasi media lewat kepemilikan oligopolik dan bermain mata dengan Gedung Putih. Parlemen Amerika memang tampak mencerminkan kebebasan berpendapat, tapi ditilik lagi ia hanyalah sebuah sirkus dimana suara-suara kritis terperangkap dalam sunyi. Sejak New Left kehilangan posisi politiknya, Partai Republik dan Demokrat hanyalah 2 pemain sirkus yang bermain mata. Semacam 2 polisi yang memainkan drama "Bad Cop - Good Cop." Dan pesakitannya adalah--siapa yang dalam bahasa hegemonik disebut sebagai--the rest of the world. Sisa dunia. Istilah geopolitis yang mencerminkan eurocentric, chauvinism, machiavellism. Rasis.

* * *

Sudah lama saya jarang membaca koran. TV pun tiada. Cuman radio. Maklum anak kos :) Artinya saya banyak ketinggalan informasi terkini yang mungkin lebih kurang itu berarti FENOMENA terkini. Saya menyerap informasi lebih sering dari mendengarkan obrolan teman-teman; menyimak saat briefing ringan atau acara makan siang dengan Boss. Ia memang berurusan dengan perkara terkini dalam dunia keuangan. Saya beruntung punya Boss seperti dia: menjelaskan fenomena krisis subprime mortgage ; memperkaya ulasannya dengan teori-teori, informasi dari media dan informasi terbatas yang beredar di antara sesama top executive. Ia semacam dosen plus. Plus kemauan untuk tidak textbook dan rajin memperhatikan fenomena.

* * *

Di atas seluruh fenomena krisis subprime mortgage, substansinya tetap sama: bahwa kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi roller coaster, penumpangnya tidak tahu kapan menaik, menurun, menikung. Jangankan penumpang, pengemudinya juga tidak tahu. Prediksi-prediksi analis, kecanggihan ekonometrik, keajaiban compound interest rate, dunia derivatif, ilmu management, marketing yang manipulatif kehilangan wibawanya di tengah krisis ini. Tidak ada lagi yang bisa dipercaya. Jangankan orang awan, orang-orang dunia keuangan selalu was-was, panik, histeria, dan mudah terpengaruh euphoria. Semua logika kapitalisme dan finance benar-benar dihancurkan oleh krisis ini. Homo Homini Lupus, Zero - Sum Game, Time value of money, fungsi uang (alat atau komoditas ?), fiat money, market effeciency, agency problem, moral hazard, dan akhirnya ethic.

Ditambah lagi sejak era Milton Friedman dan Jhon Nash disembah. Bretton Woods System, Washington Consensus dan IMF - World Bank - WTO lahir. Sejak Alan Greenspan menjadi Gubernur The Fed--dan bertampuk bak raja di tengah demokrasi liberal--selama 3 dekade, roaller coaster itu berubah lebih gila: Bubble Economy. Saya kesal bahwa keputusan apapun di Republik merdeka ini harus selalu menunggu pengumuman hasil rapat Dewan Gubernur The Fed. Juga bahwa pers selalu menggunakan istilah GLOBAL terhadap krisis subprime mortgage. The rest of the world do nothing with this crisis !!!

Rasanya baru kemarin dosen saya bilang bahwa investasi terbaik adalah
di bidang properti. Rasanya baru kemarin Francis Fukuyama merayakan
kehancuran Uni Soviet dengan menulis The End of History. Sama halnya
ketika Jhon Naisbitt yang ngaku futorolog itu memuji-muji negara-negara
Asia Tenggara dan Timur Jauh sebagai Macan Asia dan tidak lebih satu
dekade kemudian Krisis Moneter melanda kawasan ini. Dan saat itu tak
ada yang mengatakan krisis itu sebagai krisis GLOBAL.

Kerakusan, keserakahan Amerika lah yang menimbulkan krisis ini. Mereka kira kecanggihan matematika dan kemajuan teknologi komputer bisa menyelamatkan mereka dari akibat keserakahan itu. Sama halnya ketika Karl Marx membumbui Teori-teori Ekonomi-nya dengan persamaan matematika yang bertakik-takik. Seluruh kecanggihan matematis Marx pada akhirnya hanya untuk membuktikan bahwa kesimpulannya salah! Dan masyarakat tanpa kelas hanya utopia. Bagaimana mungkin sebuah dunia yang lebih adil dibangun diatas pembantaian, gunungan mayat-mayat dan bau anyir darah? Revolusi Boshelvik, Maoisme, Killing Field-nya Pol Pot.

Pada akhirnya saya harus menyerang para ekonom. Bahwa otak mereka itu tidak pernah berpikir keluar dari kotak ilmu ekonomi kapitalistik. Senyata-nyatanya teori-teori mereka sudah gagal. Bahwa kapitalisme sudah berulang kali gagal sejak Great Depression hingga era Neoliberalism. Sektor keuangan menggelembung sedemikian besarnya tanpa mampu diikuti perkembangan sektor riil.

Kapitalisme, sejatinya, baru berusia 3 abad sejak Adam Smith menulis The Wealth of Nation. Ekonomi Islam sebagai budaya, belum sebagai sistem pengetahuan, membuktikan kemampuan & keadilannya selama masa keemasan peradaban muslim: 7 abad terhitung sejak Nabi Muhammad menerima wahyu.

Akhirnya, sistem pengetahuan kita harus kembali mengkaji ulang sumber-sumber agama (apa saja) dan kearifan-kearifan lokal (local wisdoms) untuk memperbaiki sistem ekonomi kita. Dan semuanya tentu harus bermuara pada matematika. Sayang, Lintang sudah lama berkubur di jiwaku. Kalau tidak, sudah ku bantai ekonom-ekonom itu !!!


Another perspective: Mimpi by Himawan

Bacaan lanjutan : (googling & wiking aja)
Satanic Finance,
Gold Dinar, Sistem Moneter yang stabil dan berkeadilan
Postcolonial Theory, Dependency Theory
Amartya Sen, Edward W Said, Noam Chomsky, Stiglitz,

recent post