Showing posts with label ekonomi. Show all posts
Showing posts with label ekonomi. Show all posts

8.4.09

Catatan Pemilu 2009

Pemilu 2009 adalah pemilihan umum ke-3 paska rezim Orde Baru. Pemilu kali ini adalah pemilu ke-2 dimana presiden akan dipilih langsung oleh rakyat dan untuk pertama kalinya wakil rakyat akan dipilih berdasarkan suara terbanyak. Demokrasi bisa berarti kekuasaan di tangan mayoritas dan akomodasi terhadap minoritas. Ia juga bisa berarti perayaan sekaligus penghargaan terhadap kapasitas individu, baik individu pemilih maupun yang dipilih. Sebagai bagian dari proses konsolidasi demokrasi, ada baiknya kita catat pernak perniknya.

Rekruitmen Politik
Caleg vs kursi
 
Caleg
Kursi
% Kursi/Caleg
DPR
11.215
560
5,0
DPD
1.109 
132
11,9
DPRD Prop
112.000
1.998
1,8
DPRD Kab/Kota
1.500.000
15.750
1,1
Diolah dari djombang.com

Data diatas bisa ditafsirkan macam-macam. Negara yang mengalami emerging democracy memang selalu menghadirkan partisipasi politik yang antusias. Tapi di sisi lain, kita melihat lemahnya rekruitmen politik di tingkat partai politik. Akhirnya, rakyat yang diminta untuk "menyaring" orang-orang yang layak mewakili mereka. Di tengah kebingungan menentukan pilihan, agaknya pemilih akan cenderung memilih partai ketimbang individu caleg. Di kemudian hari, mungkin dibutuhkan penyederhanaan jumlah partai.

Ongkos politik
Menurut VIVANews.com, biaya paling murah untuk menjadi caleg adalah Rp 210 juta. Hermawan Kartawijaya dari Mark Plus bahkan menyebut angka minimal sebesar Rp 500 juta. Survey AC Nielsen menyebutkan bahwa biaya iklan caleg dan partai politik sudah mencapai Rp 3 Trilyun. Pertanyaannya kemudian, apakah kita bisa berharap bahwa legislator yang menanggung ongkos politik sebegitu besar bisa bersih dari penyelewengan?

Survey pemenang pemilu
Lembaga Survey Indonesia mengumumkan hasil survey per Februari 2009. Partai Demokrat akan mendapat 22,2%; PDI-P 17,3%; P-Golkar 15,4%; PKS 5,3%; PPP 5,3% kemudian berturut-turut PAN, Hanura dan Gerindra dibawah 5%. SBY masih berpotensi kuat memerintah kembali. Selengkapnya baca disini

Hasil survei LSN tentang tingkat elektabilitas 12 partai papan atas PD 19,3%, PDIP 16,2%, Partai Gerindra 15,6%, Golkar 14,0%, PKS 6,6%, PAN 4,3%, PPP 4,1%, PKB 4,0%, Hanura 2,1%, PKNU 1,2% dan PDS 1,0%. Selengkapnya baca disini

Hasil survei yang dilakukan oleh LP3ES pada 9-20 Februari 2009 menunjukkan bahwa Demokrat tertinggi (21,52%), disusul PDIP (15,51%) dan Golkar (14,27%). Yang lulus threshold adalah PPP, PKS, PKB, PAN dan Gerindra. Sekitar 22,83% menyatakan belum tahu. Sampel responden adalah 2.957 yang diambil secara acak. Ringkasnya klik disini. Klik disini untuk Pernyataan Pers

Seberapa akurat?

Platform, janji-janji politik, dan pragmatisme
Janji Megawati hanya 3 poin: sembako murah; lapangan kerja dan kesejahteraan rakyat. Terkesan sederhana dan tidak menarik. Soetrisno Bachir menjanjikan anggaran Rp 1 Milyar per desa per tahun. Sementara PKS, menjanjikan DPR yang bersih.

Dari sekian janji-janji politik, agaknya janji Prabowo-lah yang paling manis. Delapan poin janji politiknya benar-benar lengkap! Mulai dari pemihakan pada petani, buruh dan nelayan; penghijauan 59 juta hektar hutan; harga pupuk; sekolah gratis; moratorium hutang; hingga layanan kesehatan yang lebih baik. Mereka yang menolak neo-kapitalisme bakal tergiur. Tapi yang agak di luar akal sehat yaitu pertumbuhan ekonomi 12% dan 1 juta laptop gratis per tahun. Mungkin saya bisa percaya pada lokomotifnya, tapi saya ragu dengan gerbongnya.

Masalahnya adalah bagaimana jika Prabowo urung mencalonkan diri atau tak terpilih jadi presiden dan Gerindra menjadi komponen minoritas dalam suatu koalisi yang memerintah. Apakah janji-janjinya terhapus dengan sendirinya? Tidakkah janji-janji itu adalah bagian dari platform yang harus dipertahankan dalam kondisi apapun.

Dia lagi presiden kita?
Pastinya saya tidak akan memilih capres yang pernah menjual BCA dan Indosat dan dengan harga murah pula; melego kontrak Blok Tangguh dan menjual kapal tanker VLCC Pertamina dengan harga jauh di bawah harga pasar maupun harga beli. Saya juga tidak akan memilih capres yang pernah melego Blok Cepu kepada pihak asing padahal Pertamina bisa mengurusnya. Juga karena di kabinetnya diisi oleh ekonom-ekonom neo-liberal. Ia memang menggalakkan pemberantasan KKN (padahal hanya rimah-rimah saja); mengakomodasi aspirasi umat lewat UU AP. Ia berpolitik "cantik".
Masalahnya, tidak ada capres alternatif. What a pity protest voter..

31.3.09

the almighty dollar

Para ahli ekonomi sependapat bahwa krisis kapitalisme saat ini lebih dalam ketimbang Great Depression di paruh ketiga abad 20. Krisis ini diperparah dengan tingginya biaya perang Amerika di Afghanistan dan Irak serta program bailout. Selain anggaran yang selalu defisit, neraca perdagangan Amerika selalu defisit bahkan selisihnya secara konstan hampir 20 persen. Jadi seberapa pun kuatnya Amerika menggenjot ekspor, hasilnya toh tetap defisit.

Pengangguran naik dari 851.000 menjadi 12,5 juta orang pada Februari 2009 dengan persentase naik menjadi 8,1%. Lima juta pengangguran tercipta dalam kurun 12 bulan terakhir atau dalam persentase sebesar 3,3%. Hutang Amerika saat ini melonjak dari $5,2 Trilyun di tahun 1998 menjadi $10,9 Trilyun. Sementara GNP Amerika berjumlah $13,8 Trilyun. Bayangkan jika keseluruhan GNP digunakan untuk membayar hutang. Atau bagaimana bisa seorang yang memiliki penghasilan Rp 1.300 bisa berhutang sebesar Rp 1.100

Secara matematis, seharusnya Amerika sudah bangkrut. Setidaknya mereka tidak lagi memiliki modal cair untuk menjalankan ekonominya. Dan kaum sosialis pun boleh bermimpi tentang tatanan dunia baru tanpa Amerika sebagai negara adidaya.



in the world without dollar, who needs america ?

Namun apa yang lazim bagi negara lain, belum tentu terjadi di Amerika. Kurva-kurva moneter dalam buku teks tidak bekerja dalam ekonomi Amerika. Lebih kurang 60% dari total transaksi dagang di seluruh dunia menggunakan mata uang dollar. Hampir keseluruhan transaksi migas menggunakan dollar. Menurut A. Riawan Amin dalam Satanic Finance, jika Amerika membutuhkan dana tambahan, yang perlu mereka lakukan hanyalah mencetak uang dengan biaya 6 cent per lembar (bukan per dollar). Dan lazimnya semakin banyaknya uang primer yang beredar, semakin tinggi angka inflasi. Tapi jika yang mengalami inflasi itu Amerika, efeknya sampai ke seluruh dunia karena ketergantungan terhadap dollar. Di samping itu, ekspor ke Amerika menjadi kurang kompetitif akibat melemahnya dollar terhadap mata uang lainnya.

Nah, jika pelemahan dollar sudah dirasa ikut merugikan Amerika, terutama dalam transaksi dagang yang mengharuskan Amerika menggunakan mata uang kuat Euro atau Yen, yang perlu mereka lakukan hanyalah menerbitkan surat hutang dalam bentuk US Treasury Note, Bill atau Bond. Bagi negara-negara lain, surat hutang Amerika dibutuhkan sebagai cadangan devisa selain dollar itu sendiri. Bagi Amerika, surat hutang hanyalah dollar dalam bentuknya yang lain. Demikianlah lingkaran setan tak berujung. Dan mesin perang Amerika pun didanai dengan mesin uang, disamping dari uang pembayar pajak tentunya.

Lalu kapan Amerika akan bangkrut? Ya, tentu jika dunia mulai berpikir tentang mata uang idaman lain. Eropa sudah menggunakan mata uang Euro dengan bantuan Robert A. Mundell. Dalam forum G20, Cina sudah menyerukan perlunya mata uang global di bawah otoritas lembaga superbodi IMF. Rusia mengajukan ide tentang mata uang global yang di-back up nilainya dengan emas setara. Dan tentu saja bisa ditebak: Obama menolak..


Catatan kecik :
Robert A Mundell adalah peraih nobel ekonomi 1999 dengan teorinya Optimum Currency Area. Teori ini mengandaikan bahwa penggunaan mata uang tunggal untuk suatu kawasan geografis dengan luas tertentu akan menghasilkan optimasi ekonomis. Lebih dari itu, Mundel percaya bahwa emas akan menjadi mata uang global di abad 21 dengan pola yang berbeda dengan yang pernah terjadi di pertengahan abad 20.

Luthfi Hamidi mengajukan pola yang cukup rasional dalam penggunaan emas sebagai mata uang. Menurutnya, setiap negara dapat menggunakan mata uang masing-masing dalam transaksi internalnya. Emas digunakan dalam transaksi dagang antar negara. Dalam suatu skema yang menarik, Luthfi menyatakan bahwa semakin banyak negara yang terlibat dalam penggunaan emas, semakin sedikit emas yang dibutuhkan. Hal ini sekaligus menjawab kritik bahwa penggunaan emas sebagai mata uang akan terhambat karena faktor kelangkaan

Emas sebenarnya bisa saja digunakan saat ini juga dalam transaksi dagang antar negara dengan perjanjian bilateral maupun unilateral. Tidak butuh forum mewah seperti G20. Hanya saja belum ada political will dari para penguasa dan ekonom.

Salah satu hal yang membuat Amerika marah pada Saddam Hussein adalah karena ia meminta penjualan minyak dibayar dengan Euro. Iran di bawah kepemimpinan Ahmadinejad juga melakukan hal yang sama.

Kalau ada yang dituduh bermain Yoyo, seharusnya itu BI. Instrumen SBI yang digunakan BI naik turun guna menahan laju inflasi dan turunnya rupiah. Belum lagi apa yang disebut dengan operasi pasar. Krisis atau pun tidak, bank konvensional lebih suka memarkir duit di SBI atau pun SUN sementara riil economy kekurangan modal kerja. Kalau emas digunakan, permainan baru akan tercipta. Sayangnya, para ekonom sudah terlalu lama keracunan buku teks ekonomi kapitalistik.

Blok Dollar vs Blok Euro. Bisakah kita berharap lahirnya Blok Emas? Sepertinya harus menunggu Cina dan Rusia menyatukan ide, bukan negara-negara OKI yang kumpul-kumpul kayak arisan ibu-ibu. Cipika-cipiki, nggosip dan bubar. Padahal hampir 1/2 duit di Wall Street itu punya mereka :(

Pranala terkait :
*.pdf: Robert A Mundell: The International Monetary System in the 21st Century: Could Gold Make a Comeback?
Gold Dinar: Sistem Moneter Terbaik
China calls new global curreny
Rusia calls global currency backed gold
Obama rejects China's call for global currency





22.3.09

it's just a drama, my dear..

Faisal Basri punya solusi menarik tentang krisis ekonomi Amerika. Dalam sebuah diskusi di bulan Januari 2009 di Freedom Institute, sarang kaum neoliberal, ekonom UI yang punya kecenderungan sosialis demokrat itu menyatakan bahwa tindakan paling logis terhadap perusahaan-perusahaan yang ingin menghindari pailit selain opsi akuisisi / merger adalah opsi JUAL. Dan pembeli potensial berkantong tebal tersebut bisa jadi investor dari Timur Tengah, Cina, Korea Selatan, dan Jepang. Dan krisis akan berlalu. Ekonomi akan mengalami recovery meski tidak instant.

Ide Faisal ini memang kedengaran sederhana. Tapi memang begitulah ilmu ekonomi konvensional (baca: kapitalistik) mengajarkan. Krisis berlalu dan setiap pemain antagonis yang memicu krisis ini mendapatkan ganjaran setimpal: dipecat, didaftarhitamkan, dianggap wan prestasi atau kemungkinan "terbaik" adalah diadili atas aksinya. No drama. Setiap orang bisa menerima akhir cerita: everybody's happy except criminals.

Tapi apa yang kita saksikan saat ini? Kongres Amerika akhirnya menyetujui program bailout (dana talangan) yang hampir mencapai USD 1 Trilyun untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaan multinasional Amerika, baik perusahaan finansial yang memutar duitnya pada aset-aset finansial yang tampak "sophisticated" itu; perusahaan non-finansial yang menginvestasikan idle cash-nya pada marketable securities; atau perusahaan non-finansial yang mengalami penurunan demand yang drastis akibat kontraksi ekonomi. Apa yang dilakukan pemerintah Amerika saat ini benar-benar melawan logika neoliberalisme yang selama ini diagung-agungkannya: deregulasi, privatisasi dan fair open free trade. Yang terjadi adalah nasionalisasi.

Faisal dengan tandas menyatakan bahwa program bailout adalah kezaliman! Tindakan tersebut akan membawa dunia pada krisis yang tidak seorang ekonom pun berani memprediksi seberapa lama akan berlangsung dan seberapa dalam. Dunia sudah lama tergantung pada sistem ekonomi Amerika dan dolar sebagai hard currency.



Lalu, darimana sumber irasionalitas ini? Nyata bagi kita, Amerika tidak hanya menerapkan standar ganda dalam kebijakan politik internasionalnya, tapi juga dalam ekonomi. Bahwa perusahaan-perusahaan Amerika jangan sampai jatuh ke tangan asing. Dan tidak sekali ini saja Amerika berlaku unfair. Kongres Amerika pernah mementahkan kemenangan Dubai Port (DP) World, BUMN Dubai dalam tender pengelolaan 6 pelabuhan di Amerika atas nama keamanan negara (dan sentimen nasionalisme). Padahal privatisasi pelabuhan adalah gejala umum di dunia dan banyak juga perusahaan-perusahaan Barat yang mengelola pelabuhan di negara lain.

Dan tidak hanya Amerika. Nicholas Sarkozy, PM Perancis yang sudah lama dikenal cenderung rasis (dan mengidap islamophobia) , melarang perusahaan atau investor non-Uni Eropa untuk membeli perusahaan-perusahaan Perancis yang terancam pailit. Sudah lama Uni-Eropa menerapkan non-tarrif barrier (protectionism) dengan mengharuskan eksportir udang dari Indonesia untuk mengikuti sertifikasi yang mahal. Dan lelucon yang sering diulang-ulang dalam buku teks dan media massa adalah bagaimana Eruopean Community di awal dekade 90-an menerapkan standar aneh terhadap impor pisang. Pisang yang masuk ke negara-negara UE haruslah mempunyai warna kuning tertentu dan mempunyai bentuk kelengkungan tertentu.

Dan lelucon baru yang kita dengar adalah bagaimana para eksekutif perusahaan yang mengemis dana talangan naik pesawat jet pribadi ke Washington dan berpesta pora dengan mewah setelah mendapat sinyal positif. Ketika tindakan itu dicemooh publik, di kesempatan berikutnya mereka naik bis berbahan bakar hidrogen yang belum atau sama saja tidak ekonomisnya. Dan terakhir, kita mendengar AIG berencana membagi-bagikan jutaan dolar sebagai bonus bagi para eksekutifnya setelah perusahaan itu mendapat milyaran dolar dana talangan.

Atau mungkin sumber irasionalitas ini adalah karena memang film-film Hollywood hampir selalu mensyaratkan akhir tak terduga. Para penonton bisa saja dibuat "berpihak" pada tokoh antogonis. Atau mungkin karena orang Amerika lebih menyukai gaya bertinju Muhammad Ali yang fighter itu ketimbang Mike Tyson yang boxer. Membeli tiket pertandingan Tyson yang mahal bisa amat menjengkelkan karena penantang Tyson terkapar hanya beberapa menit setelah pertandingan dimulai. Sebaliknya, Ali selalu menghadirkan drama dari ronde ke ronde. Drama yang bisa jadi beresiko membuat Ali dipukul jatuh atau malah kalah.

Tapi mungkin juga orang Amerika suka juga menonton sinetron-sinetron Indonesia. Begitu banyak hal irasional dan begitu banyak logika yang diterobos dalam alur cerita. Dan anehnya, kaum hawa pecandu sinetron bisa menangis dibuatnya. Ah, tak ada lagi yang bisa saya katakan. Tidak mudah memahamkan para pecandu sinetron betapa kacaunya logika dalam skenario opera sabun itu. It's just a drama, my dear..  [ ]

Catatan kecik:
Entah kenapa situs Freedom Institute tidak mendokumentasikan diskusi yang menghadirkan Faisal Basri tersebut. Saya menduga karena Faisal Basri dengan gaya bicaranya yang lugu itu mengkritik tajam Amerika dengan neoliberalismenya atau karena Chatib Basri, salah seorang pendiri FI berhalangan hadir sebagai pembicara pembanding. Diskusi itu tidak kalah berbobot dengan hadirnya seorang  ekonom muda dari Belgia sebagai pembicara. 
 

bacaan lanjutan:
Bailout anecdote
Protectionism
Gold Dinar: Sistem Moneter Terbaik

28.12.08

berharap pada Obama? (2)

Sebenernya saya mo cerita tentang diskusi buku "Indonesia Dikhianati" karya Prof. Collins dari Ohio (15 Des, ba'da Isya). Beliau bahkan hadir di acara yang diadakan di Universitas Paramadina itu. Di antara mereka yang hadir, lebih dari 10-an orang mantan mahasiswa beliau yang rata-rata berprofesi sebagai aktivis LSM dan dosen. Anies Baswedan & Emmy Hafild hadir sebagai pembicara. Imam B Prasodjo yang kocak itu tampil sebagai moderator. (Kata dia, orang Indonesia gak bakal nglempar Bush pake sepatu. Sandal sih mungkin tapi tetap aja kejauhan (Irak)

Tapi sepertinya akan panjang kalau saya tuliskan tentang diskusi itu. Sebagai gantinya, saya kutipkan pendapat AB & EH tentang fenomena Obama. Demikian kutipan tidak langsungnya:

EMMY HAFILD:
Tidak ada korelasinya antara Obama menjadi presiden Amerika dengan semakin eratnya hubungan Amerika - Indonesia. Jangan terlalu berharap. Demokrat tidak lebih baik dari Republik. Siapapun presidennya, perhatikan siapa Chief of Economists yang dipilihnya. Larry Summer ! Larry Summer itu mantan orang World Bank. Dia penyokong pasar bebas dan NAFTA (North Amerika Free Trade Area).

ANIES BASWEDAN:
Sedikit menambahkan. World Bank pernah mengeluarkan sebuah memo yang merekomendasikan negara-negara maju untuk membuang limbah berbahayanya ke negara-negara lain. Saat itu Larry Summer bertindak sebagai editor memo itu. Rekomendasinya didasarkan pada penelitian bahwa biaya pengobatan orang-orang yang menderita karena limbah itu di Afrika lebih rendah ketimbang biaya pengobatan masyarakat negara-negara maju.



lihat juga: berharap pada Obama? (1), 9 Juli 08, posting pertama

  • Anies Rasyid Baswedan adalah cucu dari salah seorang founding father Indonesia, anggota BPUPKI, AR Baswedan. Dalam budaya Arab, adalah biasa memberi nama cucu/cicit dengan nama kakek /moyangnya. Dan orang Arab dikenal biasa menghafal silsilah keluarga.
  • Di antara sekian tokoh nasional yang bermukim di Jogja, AR Baswedan, sang kakek, adalah salah satu tokoh yang cukup dekat dengan Ahmad Wahib. Beliau percaya bahwa Soekarno adalah salah satu pembaharu Islam abad 20 karena bisa mensintesakan Islam & Marxisme menjadi Marhaenisme. Ah, kakek yang konyol ! (Lebih jelasnya, baca Kata Pengantar Dawam Rahardjo & Djohan Effendi untuk Catatan Harian Ahmad Wahib, terbitan LP3ES)

20.11.08

at a center of Capitalism (2)

Neoliberalism, Globalization and Bubble - Roller Coaster Economics

Minggu kemarin saya membeli beberapa komputer. Dan menyebalkan bahwa harga barang-barang impor itu berfluktuasi sedemikian cepat. Dua minggu lalu, toko-toko komputer masih menggunakan kurs Rp 11.500 / dollar. Kemarin Rp 12.200 / dollar. Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu pernah membantu teman membeli komputer dalam kurs Rp 8.700 / dollar. Tepat seminggu sesudah itu, kurs mendekati Rp 10.000. Gaji kita secara nominal memang tidak berkurang, tapi secara moneter menurun drastis. Lebih parah lagi, kata ayah saya, di zaman Soekarno nilai mata uang rupiah secara moneter tergunting jadi setengahnya.

Kalau gak salah, saya & teman itu beli komputer di era Rezim Gus Dur, pemerintahan yang tidak hanya tidak mampu menyelesaikan masalah, malah memproduksi masalahnya sendiri. Pemikir konyol semacam itu sebaiknya tidak jadi presiden. Plato salah kalo bilang yang paling pantas jadi presiden itu seorang filsuf. Filsuf itu pertapa, cukuplah ia berada di ketinggian. Tidak usah menghinakan diri dengan menjadi seorang presiden. Seperti Einstein, ia memilih matematika ketimbang jadi presiden Israel.

Saya juga tidak bisa menyalahkan pemilik toko itu. Meski ia membeli saat kurs di bawah Rp 9.000 / dollar, ia tetap saja tidak secure. Dan saya juga tidak bisa menyalahkan diri sendiri karena membutuhkan komputer baru di saat yang tidak tepat. Kami hanyalah korban sebuah struktur. Struktur menindas bernama kapitalisme. Ironisnya lagi, struktur itu mengglobal lewat globalisasi uang dan barang secara ekonomi - politik.

Secara budaya, globalisasi berarti westernisasi, penyeragaman taste. Pada satu titik ia merayakan demokrasi liberal, pasar bebas, inklusivisme, dan kebebasan individu. Tapi di titik lain ia berarti ekslusivisme: modernisasi berarti westernisasi, westernisasi adalah modernisasi. Food, fashion, fun (3F). Mac Donalds, Macintosh, Mac Gyver (3M). Pada satu titik ia menyatakan kebebasan pers adalah pilar keempat demokrasi. Pada titik lain, jejaring korporasi mengkooptasi media lewat kepemilikan oligopolik dan bermain mata dengan Gedung Putih. Parlemen Amerika memang tampak mencerminkan kebebasan berpendapat, tapi ditilik lagi ia hanyalah sebuah sirkus dimana suara-suara kritis terperangkap dalam sunyi. Sejak New Left kehilangan posisi politiknya, Partai Republik dan Demokrat hanyalah 2 pemain sirkus yang bermain mata. Semacam 2 polisi yang memainkan drama "Bad Cop - Good Cop." Dan pesakitannya adalah--siapa yang dalam bahasa hegemonik disebut sebagai--the rest of the world. Sisa dunia. Istilah geopolitis yang mencerminkan eurocentric, chauvinism, machiavellism. Rasis.

* * *

Sudah lama saya jarang membaca koran. TV pun tiada. Cuman radio. Maklum anak kos :) Artinya saya banyak ketinggalan informasi terkini yang mungkin lebih kurang itu berarti FENOMENA terkini. Saya menyerap informasi lebih sering dari mendengarkan obrolan teman-teman; menyimak saat briefing ringan atau acara makan siang dengan Boss. Ia memang berurusan dengan perkara terkini dalam dunia keuangan. Saya beruntung punya Boss seperti dia: menjelaskan fenomena krisis subprime mortgage ; memperkaya ulasannya dengan teori-teori, informasi dari media dan informasi terbatas yang beredar di antara sesama top executive. Ia semacam dosen plus. Plus kemauan untuk tidak textbook dan rajin memperhatikan fenomena.

* * *

Di atas seluruh fenomena krisis subprime mortgage, substansinya tetap sama: bahwa kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi roller coaster, penumpangnya tidak tahu kapan menaik, menurun, menikung. Jangankan penumpang, pengemudinya juga tidak tahu. Prediksi-prediksi analis, kecanggihan ekonometrik, keajaiban compound interest rate, dunia derivatif, ilmu management, marketing yang manipulatif kehilangan wibawanya di tengah krisis ini. Tidak ada lagi yang bisa dipercaya. Jangankan orang awan, orang-orang dunia keuangan selalu was-was, panik, histeria, dan mudah terpengaruh euphoria. Semua logika kapitalisme dan finance benar-benar dihancurkan oleh krisis ini. Homo Homini Lupus, Zero - Sum Game, Time value of money, fungsi uang (alat atau komoditas ?), fiat money, market effeciency, agency problem, moral hazard, dan akhirnya ethic.

Ditambah lagi sejak era Milton Friedman dan Jhon Nash disembah. Bretton Woods System, Washington Consensus dan IMF - World Bank - WTO lahir. Sejak Alan Greenspan menjadi Gubernur The Fed--dan bertampuk bak raja di tengah demokrasi liberal--selama 3 dekade, roaller coaster itu berubah lebih gila: Bubble Economy. Saya kesal bahwa keputusan apapun di Republik merdeka ini harus selalu menunggu pengumuman hasil rapat Dewan Gubernur The Fed. Juga bahwa pers selalu menggunakan istilah GLOBAL terhadap krisis subprime mortgage. The rest of the world do nothing with this crisis !!!

Rasanya baru kemarin dosen saya bilang bahwa investasi terbaik adalah
di bidang properti. Rasanya baru kemarin Francis Fukuyama merayakan
kehancuran Uni Soviet dengan menulis The End of History. Sama halnya
ketika Jhon Naisbitt yang ngaku futorolog itu memuji-muji negara-negara
Asia Tenggara dan Timur Jauh sebagai Macan Asia dan tidak lebih satu
dekade kemudian Krisis Moneter melanda kawasan ini. Dan saat itu tak
ada yang mengatakan krisis itu sebagai krisis GLOBAL.

Kerakusan, keserakahan Amerika lah yang menimbulkan krisis ini. Mereka kira kecanggihan matematika dan kemajuan teknologi komputer bisa menyelamatkan mereka dari akibat keserakahan itu. Sama halnya ketika Karl Marx membumbui Teori-teori Ekonomi-nya dengan persamaan matematika yang bertakik-takik. Seluruh kecanggihan matematis Marx pada akhirnya hanya untuk membuktikan bahwa kesimpulannya salah! Dan masyarakat tanpa kelas hanya utopia. Bagaimana mungkin sebuah dunia yang lebih adil dibangun diatas pembantaian, gunungan mayat-mayat dan bau anyir darah? Revolusi Boshelvik, Maoisme, Killing Field-nya Pol Pot.

Pada akhirnya saya harus menyerang para ekonom. Bahwa otak mereka itu tidak pernah berpikir keluar dari kotak ilmu ekonomi kapitalistik. Senyata-nyatanya teori-teori mereka sudah gagal. Bahwa kapitalisme sudah berulang kali gagal sejak Great Depression hingga era Neoliberalism. Sektor keuangan menggelembung sedemikian besarnya tanpa mampu diikuti perkembangan sektor riil.

Kapitalisme, sejatinya, baru berusia 3 abad sejak Adam Smith menulis The Wealth of Nation. Ekonomi Islam sebagai budaya, belum sebagai sistem pengetahuan, membuktikan kemampuan & keadilannya selama masa keemasan peradaban muslim: 7 abad terhitung sejak Nabi Muhammad menerima wahyu.

Akhirnya, sistem pengetahuan kita harus kembali mengkaji ulang sumber-sumber agama (apa saja) dan kearifan-kearifan lokal (local wisdoms) untuk memperbaiki sistem ekonomi kita. Dan semuanya tentu harus bermuara pada matematika. Sayang, Lintang sudah lama berkubur di jiwaku. Kalau tidak, sudah ku bantai ekonom-ekonom itu !!!


Another perspective: Mimpi by Himawan

Bacaan lanjutan : (googling & wiking aja)
Satanic Finance,
Gold Dinar, Sistem Moneter yang stabil dan berkeadilan
Postcolonial Theory, Dependency Theory
Amartya Sen, Edward W Said, Noam Chomsky, Stiglitz,

recent post