Showing posts with label politik. Show all posts
Showing posts with label politik. Show all posts

11.4.09

arah koalisi pilpres dan sekularisme

Postingan ini hanya penegasan dari posting konstelasi politik pilpres 2009 yang ditulis di awal tahun ini. Orang-orang rame bicara soal arah koalisi. Skenario ini dan itu. Padahal, petunjuknya sudah jelas. Golkar, sekali lagi, akan menunjukkan gaya berpolitiknya yang pragmatis, terlepas dari faksi-faksi yang bertarung dalam tubuh Golkar. Mereka tidak pernah bisa membayangkan menjadi oposan. Entah itu akan rujuk dengan SBY atau dengan Mega. Pokoknya harus ada dalam koalisi yang berpeluang besar memerintah.

PKS & PBB sudah jelas tidak akan mau berkoalisi dengan PDI-P. Entah itu karena faktor ideologi yang berbeda diametral atau karena faktor Megawati. Jusuf Kalla memberikan pilihan yang sulit bagi kedua partai ini ketika ia mulai menggandeng PDI-P. Gerindra dan Hanura masing mungkin berada dalam satu koalisi, menilik bila kedua mantan jenderal itu melihat SBY sebagai common enemy. Retorika iklan kampanye keduanya sudah jelas memposisikan pemerintah saat ini sebagai yang bersalah terhadap kondisi bangsa saat ini, padahal warisan pemerintahan Megawati tidak sedikit menyumbang masalah.

PPP & PKB entah itu bisa disebut fleksibel atau pragmatis, tetap akan menggambarkan cara berpolitik yang cenderung established, mempertahankan status quo. Partai-partai Islam atau yang secara inheritant bermassa muslim akhirnya hanya akan memberikan cek kosong. Islam politik sudah berada di depan jurang. Entah itu karena retorika politik yang membingungkan, atau karena masyarakat sudah semakin sekuler. Agama bukan lagi konsideran yang penting dalam hidup manusia. Sekularisasi, kata alm. Prof. Selo Soemardjan, adalah proses yang tidak bisa dihindari. Bagi saya, kalau dunia dilihat secara positivistik, bukan normatif, kayaknya emang begitu. Teori, dalam dunia modern, dibuat pertama kali untuk menjelaskan apa yang terjadi, bukan mengangankan apa yang seharusnya terjadi. Posmodern pun begitu. Ahli agama sejak awal sudah curiga bahwa posmo hanya perpanjangan dari modernism. Bedanya, posmo hanya kelihatan sedikit lebih sophisticated.

Yup, Pilihannya adalah antara theis, agnost, dan atheis. Sekularisme tidak mengangankan manusia menjadi atheis. Ia hanya akan memberikan pilihan antara selembar tipis keimanan dan selembar KTP. Spritualisme minus organized religion? Oh, tawaran posmodernism itu kan hanya bentuk lain dari gejala agnostik. Perrenialism? Lagi-lagi hanya soal pecanggihan..




8.4.09

Catatan Pemilu 2009

Pemilu 2009 adalah pemilihan umum ke-3 paska rezim Orde Baru. Pemilu kali ini adalah pemilu ke-2 dimana presiden akan dipilih langsung oleh rakyat dan untuk pertama kalinya wakil rakyat akan dipilih berdasarkan suara terbanyak. Demokrasi bisa berarti kekuasaan di tangan mayoritas dan akomodasi terhadap minoritas. Ia juga bisa berarti perayaan sekaligus penghargaan terhadap kapasitas individu, baik individu pemilih maupun yang dipilih. Sebagai bagian dari proses konsolidasi demokrasi, ada baiknya kita catat pernak perniknya.

Rekruitmen Politik
Caleg vs kursi
 
Caleg
Kursi
% Kursi/Caleg
DPR
11.215
560
5,0
DPD
1.109 
132
11,9
DPRD Prop
112.000
1.998
1,8
DPRD Kab/Kota
1.500.000
15.750
1,1
Diolah dari djombang.com

Data diatas bisa ditafsirkan macam-macam. Negara yang mengalami emerging democracy memang selalu menghadirkan partisipasi politik yang antusias. Tapi di sisi lain, kita melihat lemahnya rekruitmen politik di tingkat partai politik. Akhirnya, rakyat yang diminta untuk "menyaring" orang-orang yang layak mewakili mereka. Di tengah kebingungan menentukan pilihan, agaknya pemilih akan cenderung memilih partai ketimbang individu caleg. Di kemudian hari, mungkin dibutuhkan penyederhanaan jumlah partai.

Ongkos politik
Menurut VIVANews.com, biaya paling murah untuk menjadi caleg adalah Rp 210 juta. Hermawan Kartawijaya dari Mark Plus bahkan menyebut angka minimal sebesar Rp 500 juta. Survey AC Nielsen menyebutkan bahwa biaya iklan caleg dan partai politik sudah mencapai Rp 3 Trilyun. Pertanyaannya kemudian, apakah kita bisa berharap bahwa legislator yang menanggung ongkos politik sebegitu besar bisa bersih dari penyelewengan?

Survey pemenang pemilu
Lembaga Survey Indonesia mengumumkan hasil survey per Februari 2009. Partai Demokrat akan mendapat 22,2%; PDI-P 17,3%; P-Golkar 15,4%; PKS 5,3%; PPP 5,3% kemudian berturut-turut PAN, Hanura dan Gerindra dibawah 5%. SBY masih berpotensi kuat memerintah kembali. Selengkapnya baca disini

Hasil survei LSN tentang tingkat elektabilitas 12 partai papan atas PD 19,3%, PDIP 16,2%, Partai Gerindra 15,6%, Golkar 14,0%, PKS 6,6%, PAN 4,3%, PPP 4,1%, PKB 4,0%, Hanura 2,1%, PKNU 1,2% dan PDS 1,0%. Selengkapnya baca disini

Hasil survei yang dilakukan oleh LP3ES pada 9-20 Februari 2009 menunjukkan bahwa Demokrat tertinggi (21,52%), disusul PDIP (15,51%) dan Golkar (14,27%). Yang lulus threshold adalah PPP, PKS, PKB, PAN dan Gerindra. Sekitar 22,83% menyatakan belum tahu. Sampel responden adalah 2.957 yang diambil secara acak. Ringkasnya klik disini. Klik disini untuk Pernyataan Pers

Seberapa akurat?

Platform, janji-janji politik, dan pragmatisme
Janji Megawati hanya 3 poin: sembako murah; lapangan kerja dan kesejahteraan rakyat. Terkesan sederhana dan tidak menarik. Soetrisno Bachir menjanjikan anggaran Rp 1 Milyar per desa per tahun. Sementara PKS, menjanjikan DPR yang bersih.

Dari sekian janji-janji politik, agaknya janji Prabowo-lah yang paling manis. Delapan poin janji politiknya benar-benar lengkap! Mulai dari pemihakan pada petani, buruh dan nelayan; penghijauan 59 juta hektar hutan; harga pupuk; sekolah gratis; moratorium hutang; hingga layanan kesehatan yang lebih baik. Mereka yang menolak neo-kapitalisme bakal tergiur. Tapi yang agak di luar akal sehat yaitu pertumbuhan ekonomi 12% dan 1 juta laptop gratis per tahun. Mungkin saya bisa percaya pada lokomotifnya, tapi saya ragu dengan gerbongnya.

Masalahnya adalah bagaimana jika Prabowo urung mencalonkan diri atau tak terpilih jadi presiden dan Gerindra menjadi komponen minoritas dalam suatu koalisi yang memerintah. Apakah janji-janjinya terhapus dengan sendirinya? Tidakkah janji-janji itu adalah bagian dari platform yang harus dipertahankan dalam kondisi apapun.

Dia lagi presiden kita?
Pastinya saya tidak akan memilih capres yang pernah menjual BCA dan Indosat dan dengan harga murah pula; melego kontrak Blok Tangguh dan menjual kapal tanker VLCC Pertamina dengan harga jauh di bawah harga pasar maupun harga beli. Saya juga tidak akan memilih capres yang pernah melego Blok Cepu kepada pihak asing padahal Pertamina bisa mengurusnya. Juga karena di kabinetnya diisi oleh ekonom-ekonom neo-liberal. Ia memang menggalakkan pemberantasan KKN (padahal hanya rimah-rimah saja); mengakomodasi aspirasi umat lewat UU AP. Ia berpolitik "cantik".
Masalahnya, tidak ada capres alternatif. What a pity protest voter..

31.3.09

the almighty dollar

Para ahli ekonomi sependapat bahwa krisis kapitalisme saat ini lebih dalam ketimbang Great Depression di paruh ketiga abad 20. Krisis ini diperparah dengan tingginya biaya perang Amerika di Afghanistan dan Irak serta program bailout. Selain anggaran yang selalu defisit, neraca perdagangan Amerika selalu defisit bahkan selisihnya secara konstan hampir 20 persen. Jadi seberapa pun kuatnya Amerika menggenjot ekspor, hasilnya toh tetap defisit.

Pengangguran naik dari 851.000 menjadi 12,5 juta orang pada Februari 2009 dengan persentase naik menjadi 8,1%. Lima juta pengangguran tercipta dalam kurun 12 bulan terakhir atau dalam persentase sebesar 3,3%. Hutang Amerika saat ini melonjak dari $5,2 Trilyun di tahun 1998 menjadi $10,9 Trilyun. Sementara GNP Amerika berjumlah $13,8 Trilyun. Bayangkan jika keseluruhan GNP digunakan untuk membayar hutang. Atau bagaimana bisa seorang yang memiliki penghasilan Rp 1.300 bisa berhutang sebesar Rp 1.100

Secara matematis, seharusnya Amerika sudah bangkrut. Setidaknya mereka tidak lagi memiliki modal cair untuk menjalankan ekonominya. Dan kaum sosialis pun boleh bermimpi tentang tatanan dunia baru tanpa Amerika sebagai negara adidaya.



in the world without dollar, who needs america ?

Namun apa yang lazim bagi negara lain, belum tentu terjadi di Amerika. Kurva-kurva moneter dalam buku teks tidak bekerja dalam ekonomi Amerika. Lebih kurang 60% dari total transaksi dagang di seluruh dunia menggunakan mata uang dollar. Hampir keseluruhan transaksi migas menggunakan dollar. Menurut A. Riawan Amin dalam Satanic Finance, jika Amerika membutuhkan dana tambahan, yang perlu mereka lakukan hanyalah mencetak uang dengan biaya 6 cent per lembar (bukan per dollar). Dan lazimnya semakin banyaknya uang primer yang beredar, semakin tinggi angka inflasi. Tapi jika yang mengalami inflasi itu Amerika, efeknya sampai ke seluruh dunia karena ketergantungan terhadap dollar. Di samping itu, ekspor ke Amerika menjadi kurang kompetitif akibat melemahnya dollar terhadap mata uang lainnya.

Nah, jika pelemahan dollar sudah dirasa ikut merugikan Amerika, terutama dalam transaksi dagang yang mengharuskan Amerika menggunakan mata uang kuat Euro atau Yen, yang perlu mereka lakukan hanyalah menerbitkan surat hutang dalam bentuk US Treasury Note, Bill atau Bond. Bagi negara-negara lain, surat hutang Amerika dibutuhkan sebagai cadangan devisa selain dollar itu sendiri. Bagi Amerika, surat hutang hanyalah dollar dalam bentuknya yang lain. Demikianlah lingkaran setan tak berujung. Dan mesin perang Amerika pun didanai dengan mesin uang, disamping dari uang pembayar pajak tentunya.

Lalu kapan Amerika akan bangkrut? Ya, tentu jika dunia mulai berpikir tentang mata uang idaman lain. Eropa sudah menggunakan mata uang Euro dengan bantuan Robert A. Mundell. Dalam forum G20, Cina sudah menyerukan perlunya mata uang global di bawah otoritas lembaga superbodi IMF. Rusia mengajukan ide tentang mata uang global yang di-back up nilainya dengan emas setara. Dan tentu saja bisa ditebak: Obama menolak..


Catatan kecik :
Robert A Mundell adalah peraih nobel ekonomi 1999 dengan teorinya Optimum Currency Area. Teori ini mengandaikan bahwa penggunaan mata uang tunggal untuk suatu kawasan geografis dengan luas tertentu akan menghasilkan optimasi ekonomis. Lebih dari itu, Mundel percaya bahwa emas akan menjadi mata uang global di abad 21 dengan pola yang berbeda dengan yang pernah terjadi di pertengahan abad 20.

Luthfi Hamidi mengajukan pola yang cukup rasional dalam penggunaan emas sebagai mata uang. Menurutnya, setiap negara dapat menggunakan mata uang masing-masing dalam transaksi internalnya. Emas digunakan dalam transaksi dagang antar negara. Dalam suatu skema yang menarik, Luthfi menyatakan bahwa semakin banyak negara yang terlibat dalam penggunaan emas, semakin sedikit emas yang dibutuhkan. Hal ini sekaligus menjawab kritik bahwa penggunaan emas sebagai mata uang akan terhambat karena faktor kelangkaan

Emas sebenarnya bisa saja digunakan saat ini juga dalam transaksi dagang antar negara dengan perjanjian bilateral maupun unilateral. Tidak butuh forum mewah seperti G20. Hanya saja belum ada political will dari para penguasa dan ekonom.

Salah satu hal yang membuat Amerika marah pada Saddam Hussein adalah karena ia meminta penjualan minyak dibayar dengan Euro. Iran di bawah kepemimpinan Ahmadinejad juga melakukan hal yang sama.

Kalau ada yang dituduh bermain Yoyo, seharusnya itu BI. Instrumen SBI yang digunakan BI naik turun guna menahan laju inflasi dan turunnya rupiah. Belum lagi apa yang disebut dengan operasi pasar. Krisis atau pun tidak, bank konvensional lebih suka memarkir duit di SBI atau pun SUN sementara riil economy kekurangan modal kerja. Kalau emas digunakan, permainan baru akan tercipta. Sayangnya, para ekonom sudah terlalu lama keracunan buku teks ekonomi kapitalistik.

Blok Dollar vs Blok Euro. Bisakah kita berharap lahirnya Blok Emas? Sepertinya harus menunggu Cina dan Rusia menyatukan ide, bukan negara-negara OKI yang kumpul-kumpul kayak arisan ibu-ibu. Cipika-cipiki, nggosip dan bubar. Padahal hampir 1/2 duit di Wall Street itu punya mereka :(

Pranala terkait :
*.pdf: Robert A Mundell: The International Monetary System in the 21st Century: Could Gold Make a Comeback?
Gold Dinar: Sistem Moneter Terbaik
China calls new global curreny
Rusia calls global currency backed gold
Obama rejects China's call for global currency





22.3.09

it's just a drama, my dear..

Faisal Basri punya solusi menarik tentang krisis ekonomi Amerika. Dalam sebuah diskusi di bulan Januari 2009 di Freedom Institute, sarang kaum neoliberal, ekonom UI yang punya kecenderungan sosialis demokrat itu menyatakan bahwa tindakan paling logis terhadap perusahaan-perusahaan yang ingin menghindari pailit selain opsi akuisisi / merger adalah opsi JUAL. Dan pembeli potensial berkantong tebal tersebut bisa jadi investor dari Timur Tengah, Cina, Korea Selatan, dan Jepang. Dan krisis akan berlalu. Ekonomi akan mengalami recovery meski tidak instant.

Ide Faisal ini memang kedengaran sederhana. Tapi memang begitulah ilmu ekonomi konvensional (baca: kapitalistik) mengajarkan. Krisis berlalu dan setiap pemain antagonis yang memicu krisis ini mendapatkan ganjaran setimpal: dipecat, didaftarhitamkan, dianggap wan prestasi atau kemungkinan "terbaik" adalah diadili atas aksinya. No drama. Setiap orang bisa menerima akhir cerita: everybody's happy except criminals.

Tapi apa yang kita saksikan saat ini? Kongres Amerika akhirnya menyetujui program bailout (dana talangan) yang hampir mencapai USD 1 Trilyun untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaan multinasional Amerika, baik perusahaan finansial yang memutar duitnya pada aset-aset finansial yang tampak "sophisticated" itu; perusahaan non-finansial yang menginvestasikan idle cash-nya pada marketable securities; atau perusahaan non-finansial yang mengalami penurunan demand yang drastis akibat kontraksi ekonomi. Apa yang dilakukan pemerintah Amerika saat ini benar-benar melawan logika neoliberalisme yang selama ini diagung-agungkannya: deregulasi, privatisasi dan fair open free trade. Yang terjadi adalah nasionalisasi.

Faisal dengan tandas menyatakan bahwa program bailout adalah kezaliman! Tindakan tersebut akan membawa dunia pada krisis yang tidak seorang ekonom pun berani memprediksi seberapa lama akan berlangsung dan seberapa dalam. Dunia sudah lama tergantung pada sistem ekonomi Amerika dan dolar sebagai hard currency.



Lalu, darimana sumber irasionalitas ini? Nyata bagi kita, Amerika tidak hanya menerapkan standar ganda dalam kebijakan politik internasionalnya, tapi juga dalam ekonomi. Bahwa perusahaan-perusahaan Amerika jangan sampai jatuh ke tangan asing. Dan tidak sekali ini saja Amerika berlaku unfair. Kongres Amerika pernah mementahkan kemenangan Dubai Port (DP) World, BUMN Dubai dalam tender pengelolaan 6 pelabuhan di Amerika atas nama keamanan negara (dan sentimen nasionalisme). Padahal privatisasi pelabuhan adalah gejala umum di dunia dan banyak juga perusahaan-perusahaan Barat yang mengelola pelabuhan di negara lain.

Dan tidak hanya Amerika. Nicholas Sarkozy, PM Perancis yang sudah lama dikenal cenderung rasis (dan mengidap islamophobia) , melarang perusahaan atau investor non-Uni Eropa untuk membeli perusahaan-perusahaan Perancis yang terancam pailit. Sudah lama Uni-Eropa menerapkan non-tarrif barrier (protectionism) dengan mengharuskan eksportir udang dari Indonesia untuk mengikuti sertifikasi yang mahal. Dan lelucon yang sering diulang-ulang dalam buku teks dan media massa adalah bagaimana Eruopean Community di awal dekade 90-an menerapkan standar aneh terhadap impor pisang. Pisang yang masuk ke negara-negara UE haruslah mempunyai warna kuning tertentu dan mempunyai bentuk kelengkungan tertentu.

Dan lelucon baru yang kita dengar adalah bagaimana para eksekutif perusahaan yang mengemis dana talangan naik pesawat jet pribadi ke Washington dan berpesta pora dengan mewah setelah mendapat sinyal positif. Ketika tindakan itu dicemooh publik, di kesempatan berikutnya mereka naik bis berbahan bakar hidrogen yang belum atau sama saja tidak ekonomisnya. Dan terakhir, kita mendengar AIG berencana membagi-bagikan jutaan dolar sebagai bonus bagi para eksekutifnya setelah perusahaan itu mendapat milyaran dolar dana talangan.

Atau mungkin sumber irasionalitas ini adalah karena memang film-film Hollywood hampir selalu mensyaratkan akhir tak terduga. Para penonton bisa saja dibuat "berpihak" pada tokoh antogonis. Atau mungkin karena orang Amerika lebih menyukai gaya bertinju Muhammad Ali yang fighter itu ketimbang Mike Tyson yang boxer. Membeli tiket pertandingan Tyson yang mahal bisa amat menjengkelkan karena penantang Tyson terkapar hanya beberapa menit setelah pertandingan dimulai. Sebaliknya, Ali selalu menghadirkan drama dari ronde ke ronde. Drama yang bisa jadi beresiko membuat Ali dipukul jatuh atau malah kalah.

Tapi mungkin juga orang Amerika suka juga menonton sinetron-sinetron Indonesia. Begitu banyak hal irasional dan begitu banyak logika yang diterobos dalam alur cerita. Dan anehnya, kaum hawa pecandu sinetron bisa menangis dibuatnya. Ah, tak ada lagi yang bisa saya katakan. Tidak mudah memahamkan para pecandu sinetron betapa kacaunya logika dalam skenario opera sabun itu. It's just a drama, my dear..  [ ]

Catatan kecik:
Entah kenapa situs Freedom Institute tidak mendokumentasikan diskusi yang menghadirkan Faisal Basri tersebut. Saya menduga karena Faisal Basri dengan gaya bicaranya yang lugu itu mengkritik tajam Amerika dengan neoliberalismenya atau karena Chatib Basri, salah seorang pendiri FI berhalangan hadir sebagai pembicara pembanding. Diskusi itu tidak kalah berbobot dengan hadirnya seorang  ekonom muda dari Belgia sebagai pembicara. 
 

bacaan lanjutan:
Bailout anecdote
Protectionism
Gold Dinar: Sistem Moneter Terbaik

29.1.09

konstelasi politik pilpres 2009

Rakernas PDI-P di Solo berakhir antiklimaks. Tidak ada calon definitif yang akan mendampingi Megawati sebagai calon wakil presiden. Cukup logis, mengingat fragmentasi politik Indonesia tidak memungkinkan sebuah partai menang mutlak dalam pilpres. Pasangan capres - cawapres haruslah mencermikan aliansi politik identitas / aliran (ideologis).

Hidayat Nur Wahid tidak hanya terikat dengan aturan formal partainya, tapi secara ideologis sulit untuk beraliansi dengan PDIP di tingkat kenegaraan. Kepemimpinan negara oleh wanita masih merupakan polemik besar bagi mereka. Sutiyoso sama sekali bukan calon yang menjanjikan. Keberhasilannya memimpin DKI Jakarta masih debatable. Pun, polarisasi konstituen ibukota yang tercermin dari pilgub kemarin adalah preseden buruk bagi Sutiyoso. Bad political capital.


Akbar Tandjung sudah redup karir politiknya. Prabowo yang berhasil menggandeng anak kedua Bung Hatta dalam partai Gerindra bukan calon yang menjanjikan. HKTI sebagai basis konstituen Gerindra tidak bisa dibilang mengakar hingga ke tingkat petani di berbagai pelosok. Lembaga tersebut tidak pernah benar-benar berhasil mewakili kepentingan petani. Ia lebih merupakan wahana politik elitis guna mendapatkan bargain power. Pun, petani adalah pemilih tradisional yang mempunyai hambatan psikologis untuk memilih partai baru dengan muka-muka baru.

Menariknya, muncul nama Surya Paloh dalam bursa cawapres. Sudah menjadi kebiasaan bahwa pasangan capres-cawapres hendaknya mencerminkan perimbangan (sentimen) politik Jawa - Luar Jawa. Surya Paloh lumayan, meski konstituennya tidak mudah dihitung. Setidaknya, SP sudah lama membangun citra publiknya dengan cukup baik: orang pers (menurut MetroTV), orator ulung ala Soekarno, terpelajar, berwibawa sekaligus akomodatif. Namun sulit menantang pengaruh JK di tubuh Golkar sejak Akbar Tandjung lengser.

Bakal calon lain yang menarik adalah Sri Sultan HB X. Hanya saja tidak terlihat perimbangan Jawa - Luar Jawa. Sultan boleh jadi calon yang bisa diterima di berbagai kalangan: priyayi, abangan, santri. Belakangan, penolakannya terhadap RUU APP akan menegaskan posisi politiknya yang berseberangan dengan santri. Saya kira, ketegangan antara priyayi yang santri dan priyayi yang abangan akan kembali meruyak sejak ia pertama kali mengemuka pada Perang Diponegoro. Priyayi memang lebih identik dengan abangan ketimbang santri. Artinya, sebagaimana kaum abangan, priyayi lebih mengasosiasikan diri dengan identitas kultural (Jawa) ketimbang identitas keagamaan.

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, duet Megawati-Sultan cukup dilematis karena keduanya mencerminkan konstituen politik yang hampir serupa. Artinya kehadiran Sultan tidak banyak membantu Mega mendulang suara dari konstituen baru. Mega boleh dibilang priyayi-abangan karena mewarisi darah aristokrat Soekarno.

NASIONALIS - ISLAMIS
Dengan demikian pilpres 2009 tidak akan menghadirkan nuansa politik baru. Politik identitas atau politik aliran belum akan mencair. Mega-SP atau Mega-Sultan mencerminkan identitas politik nasionalis abangan/sekular sementara SBY-JK mencerminkan nasionalis santri/agamis. Dua pasangan capres 2009 ini tampaknya yang paling berpeluang. Lalu bagaimana dengan kalangan Islamis atau santri murni?

Kekuatan politik Islamis hingga saat ini belum signifikan untuk menawarkan capres sendiri. Mereka masih terfragmentasi sedemikian rupa hingga sulit menawarkan pasangan capres tunggal.

PKS mencerminkan lapisan baru kalangan islamis yang merevitalisasi identitas relijiusnya mengatasi identitas budaya. Identitas relijius tersebut tersambung dengan concern mereka terhadap gerakan Islam di Timur Tengah, terutama Ikhwanul Muslimin. Jadi, meski puritan, mereka mampu mengorganisir diri dengan baik sehingga cukup menjanjikan sebagai partai modern yang mengusung nilai-nilai islam yang berdialektika dengan modernitas. Kepemimpinan kolegial, rekrutmen politik ketat, kaderisasi, integritas kader dst cukup tercermin dalam semboyan "peduli, bersih, profesional." Di satu sisi mereka adalah anak-anak pemikiran Hassan Al-Banna, di sisi lain mereka juga anak-anak pikiran Natsier. Hanya saja, mereka belum mampu menjangkau demografi konstituen yang luas. Masih ada hambatan-hambatan psikologis dan ortodoksi penafsiran keagamaan yang harus mereka pecahkan terlebih dahulu.

Partai-partai islam yang mencerminkan aliran politik lama sudah mulai tergerus suaranya atau mereka saling berebut konstituen yang sama: pemilih tradisional. PBB, PPP, PKNU, PPNUI. PKB yang berasas Pancasila dan PAN yang telah berganti asas menjadi islam tidak lebih baik nasibnya.

Di sisi lain, gerakan islam radikal semakin mampu mengorganisir dirinya. Suara mereka sebenarnya cukup signifikan menambah perolehan partai-partai islam. Namun mereka menolak sistem demokrasi yang dianggap bertentangan dengan ajaran islam. Bagi mereka, yang ada hanya konsep syura, bukan konsep demokrasi. Sebahagian mencita-citakan syariah menjadi hukum positif negara, sebahagian lain lebih jauh dari itu, mencita-citakan khilafah dengan mengambil Turki Ustmani sebagai model. Di atas semua itu, pemikiran politik mereka boleh dibilang belum matang atau tidak ada satu metodologi atau teori politik tertentu yang bisa merinci pemikiran politik mereka secara analitik.

Terlepas dari fragmentasi di atas, kaum islamis, baik yang berada di atas panggung politik maupun yang menolak sistem demokrasi akan sangat menentukan di putaran kedua pilpres 2009. Meski bertengkar sesamanya, mereka akan menjegal Megawati menjadi presiden meski raport SBY-JK selama memerintah tidak lebih baik, kecuali PKB yang masih kuat pengaruh Gus Dur di dalamnya. Tidak hanya karena Megawati perempuan, tapi karena haluan politik yang teramat berseberangan.

Di titik ini, sulit mengharapkan pemilu sebagai ajang kontestasi yang "menghukum" rezim yang punya track record jelek. Sulit mengharapkan perubahan signifikan dalam pola pemerintahan. Sekali lagi, kalangan islamis akan memberikan cek kosong dan dikecewakan. [ ]


Catatan kecik :
  • Etnis Jawa merupakan 42% populasi. Megawati-Sultan akan amat efektif mendulang suara mereka terlepas dari kecenderungan pemilih tradisional partai-partai lama lainnya.
  • LKiS pernah menerbitkan buku karya seorang NU Liberal yang mencurigai PKS mempunyai hidden agenda merubah dasar negara Pancasila menjadi Islam. Saya kira analisa itu lebih berbau propaganda ketimbang akademik. Pertama, kader PKS berbeda dengan kalangan islamis yang menolak demokrasi. Keputusan untuk menegakkan partai dalam alam demokrasi adalah sikap akomodatif dan kemauan mereka memahami realitas politik yang kompleks. Kedua, meski fungsi Pancasila di era kapitalistik ini tidak jelas atau tidak lebih dari sekedar pajangan yang tergantung di ruang tamu, tidak mudah menggusurnya :)

memahami fatwa rokok dan golput

MUI sudah bertindak bijaksana ketika mengeluarkan fatwa bahwa rokok dan golput haram. Polemik yang timbul meski mencerminkan realitas masyarakat yang kontradiktif, bagi saya, hanyalah permainan media. Debat di tvOne kemarin tidak menjernihkan masalah, tapi membuatnya kusut. Tulisan ini hanya bermaksud mendudukkan persoalan di tempat seharusnya.

Debat sesi pertama
Sesi pertama menghadirkan aktivis Majelis Mujahidin Indonesia dan wakil ketua komisi fatwa MUI. Aktivis Islam fundamentalis itu pada dasarnya tidak mempermasalahkan fatwa MUI secara partikular tapi lebih mempermasalahkan eksistensi MUI dalam negara Indonesia yang menggunakan sistem demokrasi yang dianggapnya sekular. Bagi mereka, seharusnya MUI tidak hanya membimbing umat (menghadapi dunia modern ini), tapi lebih jauh menyatakan pemihakan pada agenda menjadikan syariah sebagai hukum positif. Inilah seharusnya titik pusat debat yang menggelinding tidak jelas arah itu.

Harapannya terlalu berlebihan terhadap MUI. Sebagai organisasi ulama yang terdiri dari wakil-wakil ormas-ormas besar Islam, tentu saja satu-satunya posisi yang bisa diambil MUI adalah moderat. Satu-satunya jalur yang paling logis untuk memperjuangkan syariat Islam adalah strategi politik dan itu menuntut akomodasi terhadap demokrasi. Di titik inilah sebenarnya dilema terbesar kalangan islam fundamentalis. Perjuangan dari pinggir panggung politik hanya bisa dilakukan dalam kerangka strategi budaya dan mobilitas sosial. Dan itu berarti perjuangan jangka panjang. Jika kedua saluran perjuangan ini ingin mendapatkan posisi politisnya, mau tidak mau, ia harus menerima konsep demokrasi.


Bagi saya, agenda yang paling mungkin adalah menjadikan syariat Islam sebagai sumber hukum alternatif terhadap sistem hukum yang kita warisi dari kolonial Belanda saat ini. Dalam kasus UU yang mengatur wilayah privat warga negara, sedikit banyak hukum Islam sudah terkodifikasi ke dalam hukum positif. Saya cukup optimis dengan prospeknya.

Debat sesi kedua
Sesi kedua menghadirkan Fadjroel Rahman dan Lukman Syaefuddin. Fadjroel, mantan aktivis mahasiswa ITB era 90-an, pernah mendekam di bui rezim Soeharto, sosialis demokrat dan capres independen pilpres 2009. Syaefuddin, legislator dari PPP dan mantan anggota Youth Islamic Study Club (YISC) Masjid Agung Al-Azhar.
Saefuddin menerangkan bahwa fatwa lahir dari pertanyaan masyarakat awam terhadap fenomena kekinian. Dan MUI telah menjalankan fungsinya membimbing umat dengan mengeluarkan fatwa. Jadi, fatwa bersifat bimbinngan. Bagi Fadjroel, fatwa MUI adalah kudeta konstitusi. Menurutnya, konstitusi tidak pernah melarang untuk golput dan MUI bertindak terlalu jauh dengan mengharamkannya. Fadjroel juga mengungkit-ngungkit bahwa MUI juga pernah mengeluarkan fatwa serupa di era Orde Baru. (Saya tidak yakin dengan kebenaran statemen terakhir ini. Hanya saja, memang paska kepemimpinan Hamka, MUI melempem)

Kompleksitas Islam
Menurut saya, istilah kudeta konstitusi kedengaran menyakitkan. Saya kira Fadjroel awam terhadap agamanya sendiri. Pertama, tidak ada keharusan bagi MUI untuk mengakomodasi konstitusi negara. Ketika membahas fatwa, sumber-sumber hukum Islamlah yang menjadi rujukan, bukan konstitusi sekular. Kedua, Islam adalah agama yang kompleks dan integral. Ia tidak hanya mengatur wilayah privat, tapi juga publik. Disamping itu, tidak seperti Barat yang mengalami sekularisme dan Revolusi Perancis, sejarah umat Islam tidak mengenal ketegangan ekstrim antara agama dan negara sehingga wilayah politik pun tak luput dari urusan agama. Tidak ada dikotomi absolut antara agama dan negara. Ketegangan yang pernah terjadi dalam sejarah Islam hanyalah dalam soal memilih mazhab resmi negara, seperti yang terjadi di era raja Ma'mun dari Dinasti Abbasiyyah.

Ketiga, yang tidak dipahami oleh kebanyakan orang adalah kecenderungan hukum Islam yang dinamis sehingga tetap relevan dengan zaman. Syariat atau sumber-sumber hukum Islam diformulasikan dalam Ushul Fiqh. Bila fiqh adalah produk hukum Islam, maka Ushul Fiqh adalah metodologi untuk menghasilkan fiqh. Tidak hanya perbedaan dalam memahami Al-Quran dan Sunnah, perbedaan penafsiran terhadap Kaidah-kaidah Ushuliyyah akan menghasilkan produk hukum atau fiqh yang berbeda. Karenanya perbedaan adalah hal yang lumrah dalam islam. Hanya saja memang terdapat konsep-konsep yang relatif baku untuk menjaga formulasi fiqh untuk tidak rancu. Seperti konsep tsubut-taghayyur (tetap dan berubah). Munqathi'-mustasyaabihaat (jelas dan abu-abu). Fatwa dan ijtihad dibutuhkan dalam wilayah taghayyur dan mutasyaabihat.

Keempat, fatwa, ijtihad atau produk hukum Islam tidak lahir dari ruang hampa (emptiness). Ia berinteraksi dengan realitas kekinian. Misalnya, secara umum, hukum merokok ditafsirkan sebagai makruh. Tapi MUI melihat realitas sosial sudah sedemikian meresahkan. Indonesia adalah surga bagi para perokok. Bahkan melebihi Barat yang sekuler, rokok disini murah, mudah didapatkan dan begitu bebas merokok dimana saja tanpa peduli hak non-perokok. Ironisnya, konsumen terbesar rokok adalah rakyat miskin. Artinya, sebahagian pendapatan mereka menguap menjadi asap. Pun bahwa anak-anak sudah berkenalan dengan rokok dalam usia dini. Dan memang masalah rokok tidak selesai begitu saja dengan fatwa. Perlu kepedulian negara dan peran masyarakat.

MUI bukan kependetaan
Islam adalah satu-satunya agama yang tidak mengenal kependetaan dan hirarki otoritas keagamaan. Ungkapan paling populer dalam buku-buku adalah Laa rahbaniyah fil Islam. Tidak ada kerahiban dalam Islam. Ulama (secara kolektif) memang pewaris para nabi sesuai hadits Nabi. Al-ulamaa waratsatul anbiyaa. Mereka mewarisi otoritas keilmuan bukan kenabian itu sendiri. Karenanya fatwa MUI tidak mengikat dan tidak ada keharusan setuju dengan fatwa MUI. Ia hanya bersifat bimbingan dari kalangan yang berkutat pada kajian keagamaan (tafaqquh fid diin) ke kalangan awam.

Dampak politis fatwa golput
Tentu saja fatwa tentang kehidupan politik mempunyai konsekuensi politik tertentu. Partai-partai Islam bersuka cita dengan fatwa ini karena memberikan tambahan konstituen dari kalangan yang mengikatkan relijiusitasnya dengan MUI. Kalangan sekular tidak begitu banyak diuntungkan dengan fatwa tersebut. Sesuai kaidah ushuliyyah: "ma laa yudraku kulluhu la yutraku kulluhu." Apa-apa yang tidak dipahami sepenuhnya, tidak boleh ditinggalkan sepenuhnya juga.

Mari pilih calon pemimpin yang terbaik di antara yang jelek-jelek :)

31.12.08

SBY, Raja Jawa modern

Sejak Susilo Bambang Yudhoyono masuk ke dalam bursa capres, saya semakin was-was dengan orang ini. Track record-nya hampir tanpa cacat. Tulisan-tulisannya sering muncul di koran-koran, termasuk di Republika, bacaan utama saya. Pilihan untuk menulis di Republika, menurut saya untuk menjangkau pemirsa yang Islamis, salah satu konstituen politik penting di negeri ini. Karenanya dia dikenal sebagai militer intelektual. Agum Gumelar pun juga sering menulis di koran, tapi tidak sebagus tulisan SBY. Dan lagi, gaya bicara SBY lebih padat dan berisi, sementara gaya bicara Agum lebih informal. 

Karir militernya lebih banyak berhubungan dengan strategi militer. Ia sempat belajar di Sekolah Militer West Point. Kata kuncinya: strategi, intelejen, intelektual. Ia harusnya ikut dimintai pertanggungjawaban menyangkut krisis Timor Timur karena sempat menjabat Kepala Staf Teritorial, jabatan yang bertanggungjawab untuk urusan strategi dan intelejen. Dan kenyataannya ia bisa lolos dari lubang jarum itu.

Dalam militer sendiri terdengar friksi-friksi yang memuncak saat pra dan paska gerakan reformasi. Kubu Prabowo, anak begawan ekonomi Sumitro, menantu Soeharto, perwira muda cerdas yang rajin baca buku sekaligus ahli di medan perang. Ayah dalam konteks tertentu adalah intelektual pengkhianat. Dulunya ia anggota Partai Sosialis Indonesia lalu membangun jejaring dengan melakukan kontak-kontak dengan Soe Hok Gie. Ketika rezim Orde Baru lahir ia bekerja untuk Soeharto sementara Gie memilih kembali ke kampus. Sumitro bertanggungjawab dengan cetak biru ekonomi Orba yang digambarkan Dawam sebagai Kapitalisme Kuno atau Kapiltalisme bermazhab Klasik/Liberal (Adam Smith). Anak-anak begawan itu ikut kecipratan "kue pembangunan," sebagaimana anak-anak Soeharto

Juga ada Kubu Wiranto, mantan ajudan Soeharto, pernah menjabat panglima, yang selalu membanggakan ketidakmauannya merebut kekuasaan di saat chaos dan status quo 1998. Padahal menurut saya, kalkulasi politiknya menyimpulkan jejaring Wiranto di tubuh militer tidak memadai untuk sukses melaksanakan kup. Juga ada kubu Agum tapi tidak terlalu diperhitungkan. Berbeda dengan Wiranto vs Prabowo yang terlihat bersaing frontal, kubu SBY amat taktis berhadapan kubu-kubu lain.

Mengenai gerakan reformasi, militer tidak bisa dibilang mendukung reformasi. SBY termasuk setia di belakang Soeharto. Kalau pun kemudian dia kelihatan sebagai perwira reformis itu hanya karena mengikuti kemana angin berhembus kencang. Pragmatis - oportunis.

Saya sempat menaruh harapan ketika SBY meraih gelar doktor bidang ekonomi pertanian dari IPB menjelang pemilu, kalau toh ia akhirnya jadi presiden setidaknya ia peduli pada pertanian. Tapi nyatanya disertasi doktoralnya hanya sampah dari mulut yang berbusa-busa bicara tentang keberpihakan pada petani. Aktivis-aktivis LSM masih berteriak soal reformasi agraria; tercaploknya peruntukan lahan untuk pertanian yang paling produktif dan subur sekalipun untuk kepentingan lainnya; krisis benih dst. Meski petani adalah profesi mayoritas di negeri ini tapi masalah mereka jarang menjadi headline koran. Di saat krisis minyak dan kebutuhan dunia akan bahan bakar nabati yang berujung pada krisis pangan, pertanian kembali dilirik. Sayangnya, Indonesia tidak bisa mengantisipasinya. Itu kan tugas para ekonom untuk memproyeksi masa depan.

Dan terakhir, SBY berusaha mereduksi pengaruh Sri Sultan Hamengkubowono X yang maju dalam pilpres 2009. Keduanya bersaing dengan bahasa yang halus. Dahulunya, Soeharto berhasil meredam pengaruh Sri Sultan HB IX dengan menjadikan beliau wakil presiden. Ketika pihak Kraton Jogja menolak Ibu Tien dimakamkan di kompleks pemakaman mereka, Soeharto mendekati Kraton Surakarta dan berhasil membangun kompleks pemakaman Keluarga Cendana di dekat kompleks pemakaman
Kraton Surakarta. Kraton Surakarta sendiri sejak zaman Belanda memang sudah berkhianat pada negeri ini.

Kandidat terkuat yang akan menggusur SBY memang Sri Sultan. Megawati cukup kuat karena dalam darahnya masih mengalir keturunan priyayi Jawa - Bali. Akan tetapi Mega sudah lama tidak diterima di kalangan Islamis karena kecendrungan Kejawen dan sekularnya yang tidak berhasil disembunyikan.

Kalau kita membaca tindak-tanduk SBY dalam Kosmologi Jawa, sebagaimana yang pernah digunakan untuk memahami perilaku Soeharto, bisa disimpulkan bahwa ia Raja Jawa baru yang dalam konteks tertentu sama menakutkannya dengan Soeharto. Bahkan dalam beberapa hal ia lebih maju dari Soeharto. Dalam alam reformasi saat ini, basis pengetahuan strategi militernya amat mendukungnya untuk menjadi versi baru dari Raja Jawa. Raja Jawa modern !

30.12.08

Otonomi Palestina vs Palestina Merdeka



Indonesia, meski miskin, punya bargain power kuat di dunia Internasional sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim. Sayangnya tidak digunakan. Sudah jelas masyarakat Indonesia ingin presidennya bicara tegas tentang isu nuklir Iran & Palestina. Ah, presiden kita melempem ! Penakut ! Sok taktis !

Bisanya cuman abstain soal Iran. Dan mengutuk soal teror Israel terhadap Palestina. SBY merekomendasikan resolusi DK PBB untuk mengutuk Israel.

Oh, PBB? Penting ga sih? Hanya butuh beberapa resolusi untuk meng-invasi Irak dan sudah puluhan resolusi yang mengecam Israel, toh rezim kolonial & apartheid itu melenggang aja. Kalo Amerika boleh pake jalur UNILATERAL, kenapa kita tidak?





pranala dalam terkait: Perempuan Palestina






28.12.08

berharap pada Obama? (2)

Sebenernya saya mo cerita tentang diskusi buku "Indonesia Dikhianati" karya Prof. Collins dari Ohio (15 Des, ba'da Isya). Beliau bahkan hadir di acara yang diadakan di Universitas Paramadina itu. Di antara mereka yang hadir, lebih dari 10-an orang mantan mahasiswa beliau yang rata-rata berprofesi sebagai aktivis LSM dan dosen. Anies Baswedan & Emmy Hafild hadir sebagai pembicara. Imam B Prasodjo yang kocak itu tampil sebagai moderator. (Kata dia, orang Indonesia gak bakal nglempar Bush pake sepatu. Sandal sih mungkin tapi tetap aja kejauhan (Irak)

Tapi sepertinya akan panjang kalau saya tuliskan tentang diskusi itu. Sebagai gantinya, saya kutipkan pendapat AB & EH tentang fenomena Obama. Demikian kutipan tidak langsungnya:

EMMY HAFILD:
Tidak ada korelasinya antara Obama menjadi presiden Amerika dengan semakin eratnya hubungan Amerika - Indonesia. Jangan terlalu berharap. Demokrat tidak lebih baik dari Republik. Siapapun presidennya, perhatikan siapa Chief of Economists yang dipilihnya. Larry Summer ! Larry Summer itu mantan orang World Bank. Dia penyokong pasar bebas dan NAFTA (North Amerika Free Trade Area).

ANIES BASWEDAN:
Sedikit menambahkan. World Bank pernah mengeluarkan sebuah memo yang merekomendasikan negara-negara maju untuk membuang limbah berbahayanya ke negara-negara lain. Saat itu Larry Summer bertindak sebagai editor memo itu. Rekomendasinya didasarkan pada penelitian bahwa biaya pengobatan orang-orang yang menderita karena limbah itu di Afrika lebih rendah ketimbang biaya pengobatan masyarakat negara-negara maju.



lihat juga: berharap pada Obama? (1), 9 Juli 08, posting pertama

  • Anies Rasyid Baswedan adalah cucu dari salah seorang founding father Indonesia, anggota BPUPKI, AR Baswedan. Dalam budaya Arab, adalah biasa memberi nama cucu/cicit dengan nama kakek /moyangnya. Dan orang Arab dikenal biasa menghafal silsilah keluarga.
  • Di antara sekian tokoh nasional yang bermukim di Jogja, AR Baswedan, sang kakek, adalah salah satu tokoh yang cukup dekat dengan Ahmad Wahib. Beliau percaya bahwa Soekarno adalah salah satu pembaharu Islam abad 20 karena bisa mensintesakan Islam & Marxisme menjadi Marhaenisme. Ah, kakek yang konyol ! (Lebih jelasnya, baca Kata Pengantar Dawam Rahardjo & Djohan Effendi untuk Catatan Harian Ahmad Wahib, terbitan LP3ES)

20.11.08

at a center of Capitalism (2)

Neoliberalism, Globalization and Bubble - Roller Coaster Economics

Minggu kemarin saya membeli beberapa komputer. Dan menyebalkan bahwa harga barang-barang impor itu berfluktuasi sedemikian cepat. Dua minggu lalu, toko-toko komputer masih menggunakan kurs Rp 11.500 / dollar. Kemarin Rp 12.200 / dollar. Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu pernah membantu teman membeli komputer dalam kurs Rp 8.700 / dollar. Tepat seminggu sesudah itu, kurs mendekati Rp 10.000. Gaji kita secara nominal memang tidak berkurang, tapi secara moneter menurun drastis. Lebih parah lagi, kata ayah saya, di zaman Soekarno nilai mata uang rupiah secara moneter tergunting jadi setengahnya.

Kalau gak salah, saya & teman itu beli komputer di era Rezim Gus Dur, pemerintahan yang tidak hanya tidak mampu menyelesaikan masalah, malah memproduksi masalahnya sendiri. Pemikir konyol semacam itu sebaiknya tidak jadi presiden. Plato salah kalo bilang yang paling pantas jadi presiden itu seorang filsuf. Filsuf itu pertapa, cukuplah ia berada di ketinggian. Tidak usah menghinakan diri dengan menjadi seorang presiden. Seperti Einstein, ia memilih matematika ketimbang jadi presiden Israel.

Saya juga tidak bisa menyalahkan pemilik toko itu. Meski ia membeli saat kurs di bawah Rp 9.000 / dollar, ia tetap saja tidak secure. Dan saya juga tidak bisa menyalahkan diri sendiri karena membutuhkan komputer baru di saat yang tidak tepat. Kami hanyalah korban sebuah struktur. Struktur menindas bernama kapitalisme. Ironisnya lagi, struktur itu mengglobal lewat globalisasi uang dan barang secara ekonomi - politik.

Secara budaya, globalisasi berarti westernisasi, penyeragaman taste. Pada satu titik ia merayakan demokrasi liberal, pasar bebas, inklusivisme, dan kebebasan individu. Tapi di titik lain ia berarti ekslusivisme: modernisasi berarti westernisasi, westernisasi adalah modernisasi. Food, fashion, fun (3F). Mac Donalds, Macintosh, Mac Gyver (3M). Pada satu titik ia menyatakan kebebasan pers adalah pilar keempat demokrasi. Pada titik lain, jejaring korporasi mengkooptasi media lewat kepemilikan oligopolik dan bermain mata dengan Gedung Putih. Parlemen Amerika memang tampak mencerminkan kebebasan berpendapat, tapi ditilik lagi ia hanyalah sebuah sirkus dimana suara-suara kritis terperangkap dalam sunyi. Sejak New Left kehilangan posisi politiknya, Partai Republik dan Demokrat hanyalah 2 pemain sirkus yang bermain mata. Semacam 2 polisi yang memainkan drama "Bad Cop - Good Cop." Dan pesakitannya adalah--siapa yang dalam bahasa hegemonik disebut sebagai--the rest of the world. Sisa dunia. Istilah geopolitis yang mencerminkan eurocentric, chauvinism, machiavellism. Rasis.

* * *

Sudah lama saya jarang membaca koran. TV pun tiada. Cuman radio. Maklum anak kos :) Artinya saya banyak ketinggalan informasi terkini yang mungkin lebih kurang itu berarti FENOMENA terkini. Saya menyerap informasi lebih sering dari mendengarkan obrolan teman-teman; menyimak saat briefing ringan atau acara makan siang dengan Boss. Ia memang berurusan dengan perkara terkini dalam dunia keuangan. Saya beruntung punya Boss seperti dia: menjelaskan fenomena krisis subprime mortgage ; memperkaya ulasannya dengan teori-teori, informasi dari media dan informasi terbatas yang beredar di antara sesama top executive. Ia semacam dosen plus. Plus kemauan untuk tidak textbook dan rajin memperhatikan fenomena.

* * *

Di atas seluruh fenomena krisis subprime mortgage, substansinya tetap sama: bahwa kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi roller coaster, penumpangnya tidak tahu kapan menaik, menurun, menikung. Jangankan penumpang, pengemudinya juga tidak tahu. Prediksi-prediksi analis, kecanggihan ekonometrik, keajaiban compound interest rate, dunia derivatif, ilmu management, marketing yang manipulatif kehilangan wibawanya di tengah krisis ini. Tidak ada lagi yang bisa dipercaya. Jangankan orang awan, orang-orang dunia keuangan selalu was-was, panik, histeria, dan mudah terpengaruh euphoria. Semua logika kapitalisme dan finance benar-benar dihancurkan oleh krisis ini. Homo Homini Lupus, Zero - Sum Game, Time value of money, fungsi uang (alat atau komoditas ?), fiat money, market effeciency, agency problem, moral hazard, dan akhirnya ethic.

Ditambah lagi sejak era Milton Friedman dan Jhon Nash disembah. Bretton Woods System, Washington Consensus dan IMF - World Bank - WTO lahir. Sejak Alan Greenspan menjadi Gubernur The Fed--dan bertampuk bak raja di tengah demokrasi liberal--selama 3 dekade, roaller coaster itu berubah lebih gila: Bubble Economy. Saya kesal bahwa keputusan apapun di Republik merdeka ini harus selalu menunggu pengumuman hasil rapat Dewan Gubernur The Fed. Juga bahwa pers selalu menggunakan istilah GLOBAL terhadap krisis subprime mortgage. The rest of the world do nothing with this crisis !!!

Rasanya baru kemarin dosen saya bilang bahwa investasi terbaik adalah
di bidang properti. Rasanya baru kemarin Francis Fukuyama merayakan
kehancuran Uni Soviet dengan menulis The End of History. Sama halnya
ketika Jhon Naisbitt yang ngaku futorolog itu memuji-muji negara-negara
Asia Tenggara dan Timur Jauh sebagai Macan Asia dan tidak lebih satu
dekade kemudian Krisis Moneter melanda kawasan ini. Dan saat itu tak
ada yang mengatakan krisis itu sebagai krisis GLOBAL.

Kerakusan, keserakahan Amerika lah yang menimbulkan krisis ini. Mereka kira kecanggihan matematika dan kemajuan teknologi komputer bisa menyelamatkan mereka dari akibat keserakahan itu. Sama halnya ketika Karl Marx membumbui Teori-teori Ekonomi-nya dengan persamaan matematika yang bertakik-takik. Seluruh kecanggihan matematis Marx pada akhirnya hanya untuk membuktikan bahwa kesimpulannya salah! Dan masyarakat tanpa kelas hanya utopia. Bagaimana mungkin sebuah dunia yang lebih adil dibangun diatas pembantaian, gunungan mayat-mayat dan bau anyir darah? Revolusi Boshelvik, Maoisme, Killing Field-nya Pol Pot.

Pada akhirnya saya harus menyerang para ekonom. Bahwa otak mereka itu tidak pernah berpikir keluar dari kotak ilmu ekonomi kapitalistik. Senyata-nyatanya teori-teori mereka sudah gagal. Bahwa kapitalisme sudah berulang kali gagal sejak Great Depression hingga era Neoliberalism. Sektor keuangan menggelembung sedemikian besarnya tanpa mampu diikuti perkembangan sektor riil.

Kapitalisme, sejatinya, baru berusia 3 abad sejak Adam Smith menulis The Wealth of Nation. Ekonomi Islam sebagai budaya, belum sebagai sistem pengetahuan, membuktikan kemampuan & keadilannya selama masa keemasan peradaban muslim: 7 abad terhitung sejak Nabi Muhammad menerima wahyu.

Akhirnya, sistem pengetahuan kita harus kembali mengkaji ulang sumber-sumber agama (apa saja) dan kearifan-kearifan lokal (local wisdoms) untuk memperbaiki sistem ekonomi kita. Dan semuanya tentu harus bermuara pada matematika. Sayang, Lintang sudah lama berkubur di jiwaku. Kalau tidak, sudah ku bantai ekonom-ekonom itu !!!


Another perspective: Mimpi by Himawan

Bacaan lanjutan : (googling & wiking aja)
Satanic Finance,
Gold Dinar, Sistem Moneter yang stabil dan berkeadilan
Postcolonial Theory, Dependency Theory
Amartya Sen, Edward W Said, Noam Chomsky, Stiglitz,

2.11.08

fundamentalisme, Pancasila, Orde Baru dan 911

[ tentang Intelektualisme Nol ]


Ini bukan sekedar passion in debate. Debat bkn tujuan, hny alat. Aku ingin menginspirasi dia dg menggunakan teori konflik atau lebih jauh lg teori dekonstruksi Derrida. Lagian dia & temannya di Klub Bahas Unand bljr kedua teori ini, entah cukup dlm atau tidak.

Kedua pisau bedah ini seharusnya tdk hny digunakan u membedah apa yg di seberang lautan, tp bedahlah diri sendiri, tancapkan dlm2 ke tubuh, bunuhlah diri sendiri, jadilah manusia baru !

Aku membaca diskursus fundamentalisme sebelum era reformasi '98 dan jauh sbl peristiwa 911. Jd pandanganku cukup bersih dr pengaruh2 artifisial yg diakibatkan kedua peristiwa ini thd diskursus fundamentalisme.

Fundamentalisme di setiap agama tentu ada. Pun, harus dibedakan fundamentalisme & budaya kekerasan yg ditimbulkannya. Harus diteliti dulu apakah kekerasan itu inherent dlm fundamentalisme atau hny akibat dari benturan dengan faktor-faktor eksternal.

Pada dasarnya, budaya kekerasan bukan atau belum menjadi bagian dari fundamentalisme di Indonesia. Berbeda dg di Timur Tengah & Mesir misalnya dimana rezim terlalu menekan kaum fundamentalis shgg menimbulkan konflik terbuka.


Di sekolahku, Gontor, tdk pernah diajarkan Pendidikan Moral Pancasila. Jangankan indoktrinasi itu, lagu Garuda Pancasila tdk pernah (dan tdk akan pernah) dikumandangkan di Gontor. Singkatnya, aku merasa persoalan kompatibilitas dg Pancasila tdk penting. Jd kata2 "awas & waspada" itu jgn2 hanyalah hasil indoktrinasi yg dilakukan Orde Baru. Orba berhasil menciptakan mitos ttg Pancasila. Kesaktian Pancasila, SARA, dll hanyalah sebagian dari kosa kata yg berhasil dibenamkan Orba k kepala setiap org di negeri ini.

Menurut Fachry Ali, Orba tdk hanya mengangkangi kekayaan negeri ini, lebih jauh ia merusak dunia simbolik, menciptakan tanda & penanda sendiri yg menciptakan, mengutip Kang Jalal, Homo Orbaicus, mirip Homo Sovieticus, atau orang-orang Polandia, the biggest liars in the world. (Lebih jauh, baca Rekayasa sosial: Reformasi atau Revolusi ?, Jalaluddin Rachmat, Rosdakarya, 1999)

Di acara pembukaan Simposium & Lokakarya Seminar Internasional Antropologi di Auditorium Universitas Andalas yang diadakan oleh Jurnal Antropologi Indonesia beberapa tahun yang lalu, Taufik Abdullah mengatakan bahwa hanya ada 2 daerah yang mampu mempertahankan kelanggengan kearifan lokal-nya dari daya rusak Orde Baru: Bali & Minangkabau. Local Wisdom versus Homo Orbaicus !

Terakhir, Republik ini tdk dibangun atas konsensus bulat thd Pancasila, tp lebih kepada keinginan u membuatkan wadah bg bangsa yg dinamakan Indonesia. Nation - State. Diperkuat lagi dg konsensus bernama Mosi Integral yg diusulkan Natsier th 1950. Natsier - Soekarno di tahun 1930-an pernah berpolemik panjang ttg asas negara. Di atas segala perbedaan, mereka bahu membahu urun mendirikan Republik ini.


Catatan kecik :

Benedict Anderson punya pandangan unik tentang negara - bangsa & nasionalisme lewat bukunya Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism

22.8.08

Berpikir merdeka !

Apakah anda pernah membayangkan bahwa Idham Kholid, Nurcholish Madjid, Hidayat Nur Wahid, Dien Syamsuddin, Hasyim Muzadi, Maftuh Basuni, Kholil Ridwan dan Abu Bakar Baa'syir berasal dari sekolah yang sama ? Salah seorang kyai pendiri pesantren mereka pernah belajar ke Minangkabau, saat daerah itu menerima pengaruh pembaharuan pemikiran Islam dari Mesir (Muhammad Abduh) sekaligus terbuka terhadap politik etis / balas budi Belanda.

Jumlah sekolah-sekolah Belanda di Minangkabau saat itu hampir sama banyaknya dengan keseluruhan jumlah sekolah-sekolah Belanda dari pesisir Barat Jawa hingga Pesisir Timurnya. Setelah era pembaharuan Kaum Paderi, Minangkabau menerima gagasan-gagasan Muhammad Abduh, murid Bapak Pan-Islamisme abad 19, Jamaluddin al-Afghany. Itu juga lah salah satu faktor kenapa gerakan puritan Muhammadiyyah mudah diterima di Ranah Minang. Tidak seperti di Jawa yang berkelindan mistik dan klenik sekaligus, ilalang-ilalang syirik sudah dibabat dan dirambah sejak zaman Kaum Paderi. Perguruan Thawalib dan non-Thawalib menjadi mercusuar pencerahan. Anak-anak Minangkabau, meski bersekolah di sekolah-sekolah Belanda, tapi sebahagian hidupnya, termasuk tidur, ada di surau.

Maka pada dasarnya mereka yang disebutkan diatas adalah orang-orang yang dididik secara Timur dan Barat sekaligus. Motto Pesantren mereka: Berbudi Tinggi; Berbadan Sehat; Berwawasan Luas dan Berpikiran Bebas. Panca Jiwa yang menjadi ruh sekolah ini: keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah islamiyah dan kebebasan.

Mungkin timbul satu pertanyaan: kenapa mereka memilih jalan yang berbeda-beda. Idham Kholid di zaman Soekarno sempat menjadi wakil Perdana Menteri Kabinet Syafruddin Prawiranegara. Saat ini ikut mendirikan PKNU, berhadapan frontal dengan Gus Dur yang nyaris dikultuskan. Nurcholish Madjid, doktor filsafat dari Universitas Chicago adalah lokomotif Islam Liberal, meski di akhir hayatnya terlihat inkonsistensi pemikirannya. Hidayat NW, selepas memegang gelar doktor dari Universitas Madinah di tahun 1994, empat tahun kemudian ikut memimpin pendirian PKS. Maka jangan heran, kalau Hidayat sering terlihat akrab dengan almarhum.

Dien Syamsuddin, meski bergelar doktor di bidang politik, adalah ketua PP Muhammadiyah sekaligus anggota MUI. Hasyim Muzadi yang hanya seorang doktorandus adalah ketua PB NU, yang dengan sistematis mereduksi pengaruh Gus Dur di tubuh NU, memperbaiki manajemen organisasi NU yang terlalu sibuk bertengkar sesamanya dan berpolitik (dan tak pandai-pandai pula :) Maftuh Basuni, meski drop-out, dipercaya juga jadi Menteri Agama, walaupun kinerjanya dikritik keras oleh rekan-rekan se-almamaternya sebagai me-ma-lu-kan! Kholil Ridwan, salah seorang yang berada di belakang layar Partai Bintang Bulan, murid setia almarhum Mohammad Natsier yang pernah terlibat polemik panjang dengan Nurcholish Madjid, sang mantan Natsier Muda yang gagal. Abu Bakar Ba'asyir mewakili tipikal paling kanan dalam garis kontinuum keislaman.

Mereka adalah cerminan dari sekolah mereka. Mereka mungkin masih ingat ketika bertanya tentang argumentasi mazhab fiqh mana yang paling benar. Dan guru-guru mereka menjawab: terserah kalian!

Mereka adalah orang-orang yang dididik untuk santun sekaligus berpikir bebas. Berpikir merdeka !


Catatan kecik:

  • Cak Nur berasal dari keluarga NU dengan afiliasi politik unik: Masyumi-nya Natsier. Karenanya dulu ia digadang-gadang sebagai Natsir Muda, meski akhirnya mengecewakan.
  • Dien sewaktu sekolah dipercaya sebagai staf Bagian Penerangan / Informasi karena kecakapannya dalam 2 bahasa internasional.
  • Hidayat NW sewaktu sekolah tampangnya culun abis :D Tipikal anak cerdas yang lucu lugu.
  • Hanya anak-anak NU yang tidak dididik secara NU yang berani sama Gus Dur, putra mahkota NU. Diantaranya Syukron Makmun dan Hasyim Muzadi.
  • Cak Nur mendirikan SMU Boarding School Madania di Parung Bogor, Hidayat mendirikan Yayasan al-Haramain, Dien memperbaiki mutu pesantren di bawah Muhammadiyah, Hasyim mendirikan Pesantren Mahasiswa "Al-Hikam" di Malang. Kholil Ridwan mendirikan Pesantren Husnayain, Pekayon, Jakarta Timur. Abu Bakar Baa'syir mendirikan Pesantren Ngruki yang terkenal (radikal) itu. Sedikit banyak, mereka semua telah menunaikan pesan kyai mereka.
  • Hanya orang-orang tolol saja yang memperuncing perbedaan mazhab fiqh. Imam Syafii dan Imam Malik pernah berguru pada guru yang sama: Imam Hanafi. Imam Syafii terkenal dengan ucapannya: "jika ada pendapat yang lebih baik dari pendapatku, tinggalkan pendapatku, ikutilah pendapat itu. Imam Malik dalam sebuah majelis pernah ditanya dengan 40 pertanyaan. Satu dijawabnya dan sisanya dijawab dengan "saya tidak tahu!" Pernah juga seorang khalifah di masa hidupnya berkeinginan menggunakan mazhab Maliki sebagai mazhab resmi negara. Imam Malik dengan tegas menolak. Mereka, para Imam Mazhab itu adalah orang-orang yang berpikir merdeka ! [ ]

19.8.08

gaya bicara Obama

Hari libur kadang memuakkan. Apalagi kalo pusat perbelanjaan (dan toko buku) sampe musium-musium pada tutup. Alhasil, kalo komputer lagi nggak ada dibawa, saya nonton tv. Setelah pencet-pencet remote (tanpa harus putar2 antena spt yg dbilang Iwa K :) akhirnya saya tertambat di CNN. Soalnya ada Presidential Forum yang menghadirkan Barack Husein Obama yang tengah diwawancarai pastur Rick Warren di Saddleback Curch, California yang gedenya minta ampyun :) Yang nonton ada ribuan sih.

Kita semua mungkin sudah tahu pandangan-pandangan progresif-liberal Obama tentang berbagai isu. Yang menarik dari keseluruhan dialog ini adalah seputar isu-isu etik dan agama, mengingat ia berhadapan dengan seorang pastur yang tentu saja ortodoks / konservatif.

Nah, disini menjawab isu-isu semacam Jesus in your life, aborsi, perkawinan sesama jenis, dan pendanaan riset kloning jadi lebih penting untuk menarik dukungan pemilih ketimbang isu perang Irak, perlambatan ekonomi dan penurunan pajak. Isu etis keliatan lebih sulit dijawab ketimbang isu-isu profan.

Dari gaya bicara Obama yang keliatan tersendat-sendat ketika menjawab isu-isu etis saya jadi bertanya-tanya apakah itu karena ia sedang bersikap sopan di depan seorang pastur konservatif atau kah pada dasarnya ia seorang peragu dan hanya mengikuti pendapat mainstream di masyarakat Amerika.

Saya jadi ingat sebuah diktat training terbitan World Assembly of Youth Moslem (WAMY). Pemimpin bisa dibagi dua: Pemimpin yang benar-benar memimpin dengan integritas dan kepercayaan diri; serta Pemimpin yang selalu meliat barisan di belakangnya apakah barisan itu terus mengikutinya atau tidak. Sehingga pada dasarnya pemimpin ini mengikuti barisan di belakangnya. Saya kira Obama termasuk yang kedua. Ah.. Amerika (dan dunia) jadi tak lebih baik.. [ ]


Klik disini untuk transkrip Presidential Forum


recent post