Showing posts with label tutur. Show all posts
Showing posts with label tutur. Show all posts

15.3.10

dan Dia Yang Maha Tertawa

Saya punya seorang keponakan. Persisnya, anak dari salah seorang sepupu. Tidak ada yang istimewa dari gadis kecil itu. Kecuali bahwa ia senang tertawa. Entah tentang sesuatu yang lucu, cukup lucu, sedikit lucu atau sama sekali tidak lucu bagi saya. Dia tertawa.

Bagi anda mungkin itu persoalan sepele. Bagi saya, betapa pemurahnya Tuhan menghadiahinya sensor ketawa yang amat sensitif. Kalau pun dia tertawa untuk suatu hal yang tidak lucu, saya merasa tidak berhak untuk menertawai "kebodohannya." Saya malah iri.

Sebahagia itukah hidup gadis kecil itu? Saya berharap dia tetap demikian meski lambat laun semakin dewasa, ia mulai memahami kesulitan hidup keluarganya. Saya harap Tuhan tidak bercanda tentang sensor itu. Soalnya, Dia kan pernah bilang bahwa Ia tidak menciptakan segala sesuatu tanpa tujuan.

Dia tidak suka bercanda, tapi suka ketawa..

22.11.08

elite minority, ing, and friendship

: a tribute to Pak De, Prof. Syafrizal, Former Dean of FE UNAND, d father of Ing

Beliau mungkin hanya seorang dosen biasa. Generasi awal FE Unand. Ayah saya bahkan pernah diajar oleh beliau. Kebetulan menjabat Dekan selama 2 periode. Terakhir, Pak De atau Pak Syaf, diangkat sebagai profesor untuk studi Ekonomi Regional. Entah berapa kali beliau bicara soal AFTA, mengingatkan bahwa disaat batas-batas negara hanya menyangkut soal politik saja, arus tenaga kerja asing adalah efek berikutnya dari globalisasi.

Beliau yang menyelesaikan studi masternya di Filipina, kalau tidak salah pernah mengungkapkan bahwa tenaga kerja Filipina adalah orang-orang cerdas, berbahasa Inggris dengan baik dan yang terpenting, bersedia digaji murah. Nah, mungkin itu sebabnya beliau berinisiatif menciptakan sebuah kelas yang menggunakan bahasa pengantar dan buku teks berbahasa
Inggris. Boleh jadi Kelas Inggris atau sekarang diformat sebagai menjadi Kelas Internasional adalah warisan terpenting era kepemimpinan beliau selama menjabat Dekan.



reuni at Rome ? yuuukk..



Kelas Ing adalah kelas pertama (pionir) berbahasa Inggris di luar fakultas sastra di kampus mana pun di luar Jawa. Dimulai sejak tahun 1997 dengan segala keterbatasan, termasuk kemampuan lisan bahasa Inggris pengajarnya. Karenanya dosen yang mengajar kelas ini tidak banyak. Beberapa dosen pernah mengajar kami 2 -3 untuk mata kuliah berbeda sehingga cukup akrab. Saya sendiri masuk ke kelas ini untuk belajar bahasa Inggris dan yang lebih penting, saya tidak terbiasa dengan kerumunan. Mungkin karena saya tak pandai berkawan. Mungkin karena saya sudah 7 tahun merantau dan asing dengan cara bergaul kampung sendiri. Asing dengan pola bahasanya.


Mungkin juga karena saya tertarik dengan pikiran-pikiran Ahmad Wahib tentang elite minority. Cak Nur, kalau tidak salah ingat, dalam acara Nostalgia, acara puncak Peringatan 70 tahun PM Gontor di tahun 1996 pernah menjelaskan tentang elite minority. Ia menganalogikannya dengan tombol, ruangan dan lampu. Tombol = Elite minority. Ruangan = society / floating mass. Dan lampu = authority. Elit disini tidak sama dengan elitis atau elitism. Elitisme memang jelek karena itu juga semacam eksklusivisme.

Minoritas elit adalah sekumpulan orang berjumlah sedikit yang "berbeda" dengan masyarakat umum. Dalam konteks tertentu mereka punya budaya sendiri atau bisa jadi menantang budaya mainstream: menciptakan budaya tanding. Apa yang diterima secara taken for granted oleh masyarakat umum, belum tentu begitu menurut minoritas elit. Pada akhirnya, karena kemauan berkumpul dan mengembangkan diri secara bersama, mereka merebut otoritas untuk menentukan gelap-terangnya segala sesuatu.

Cina Komunis, pada dasarnya didirikan oleh sekumpulan kaum muda yang giat berdiskusi di sebuah ruangan sempit. Lalu pikiran-pikiran itu diinterpretasikan menjadi aksi. Adam Smith - Karl Marx - Freud - Darwin adalah Yahudi, sebuah bangsa kecil dengan ambisi besar. Merekalah grand designer Dunia Modern yang kita kenal saat ini. Terlepas dari teori konspirasi dan data-data sejarah yang mengendap di ruang-ruang gelap, faktanya Yahudi atau lebih tepatnya gerakan Zionis menguasai pusat-pusat keuangan dunia, mulai dari Frankfurt, Zurich, New York, Singapura, hingga yang teranyar Dubai. George Soros seringkali berhasil bermain uang karena dianggap selalu bisa "mendahului kurva." Menurut saya, itu karena dia selalu punya "informasi" yang mendahului peristiwa-peristiwa.

* * *




Anak-anak Ing seringkali disalahpahami oleh teman-teman reguler. Kami dianggap tidak gaul, eksklusif dan seterusnya. Masalahnya lebih karena jarang bertemu. Yan Iswara baru tahu kalau Debi orangnya malu-maluin. Is - Armen - Pa' Let dkk (Akt Ganjil) baru tau kalau saya cocok berteman dengan mereka ketimbang cowok-cowok Akt Genap yang "rapi-rapi" semacam Alfi - Randi cs. Saya selalu saja ingat olok-olokan tajam si Armen tentang ke-udik-an saya. (Apa tidak sebaliknya, Armen yang udik?). Dan Armen ternyata ingat saya yang nolong dia bikin account Friendster padahal saya sudah lupa tuh. Sialnya, mereka tidak pernah bisa lupa insiden "memory card PS" yang memalukan itu. Tidak memalukan sih, hanya saja saya bertanya ke orang yang salah. Habislah saya diolok-olok.

Overall, kelas Ing menyenangkan. Karena kelas ini bukan semacam floating mass, Ing2000 sebagai sebuah komunitas tetep solid hingga saat ini. Thx for Debi atas kehandalannya menyelesaikan urusan hutang-piutang fotokopian buku dan kontak-mengontak. Thx for Ai, yang seringkali menyediakan rumahnya untuk kumpul-kumpul. For Hesty, our chef. For Didi yang rajin menelpon sana-sini, jadi pusat informasi (dan gosip). For everyone, i cant mention one by one who makes this community colorfull..

8.11.08

johari window

jd inget johari window

years ago, it changed my personality, radically..
not easy change, painful but self-healing n i get a new beginning

i have cycle of 2 - 3 years to
reborn, redefine, remap, renew, reload my human soul
i feel it's time to reborn again

samsara ni'immaahiya !
*o reborn.. how pleasure !*

20.10.08

romantisme sejarah

Sejarah mengajarkanku untuk tidak larut dalam masa silam. Segala sesuatu di kejauhan, entah itu ruang atau waktu, memang cenderung romantik, padahal orang-orang yang hidup di masa itu belum tentu merasa bahwa masa dimana mereka hidup indah dan permai. Seringkali ketika manusia berkunjung kesana ia tak kembali. Terperangkap dalam romantisme.

Seharusnya manusia belajar untuk menghadapi tantangan kekinian dan kedisinian. Kita harus menetapkan garis imajiner antara kita, masa lalu dan masa depan. Tentunya sejarah, sebagaimana masa silam itu sendiri dibutuhkan sebagai pijakan untuk menjelaskan dari mana kita berasal.

Kemarin, aku teringat pesan Debi untuk sesekali menelpon gadis yang tinggal di Jalan Patenggangan Padang itu. Aku memang punya sejarah dengannya. Aku sempat bilang jatuh hati padanya di tahun 2003. Dan bodohnya via SMS (Ada yang lebih bodoh dari nembak via SMS ?). Kata Debi itu NEMBAK namanya. Dan dengan bodohnya lagi aku bertanya nembak itu apa ? ( Tu kan, para filsuf kelupaan mencantumkan nembak dalam KAMUS FILSAFAT )

Dan dengan sukses ia menolakku. Aku sempat nyuekin dia selama 2 - 3 minggu bila ketemu di kampus gara-gara ditolak. Dan dia benar-benar kesal karenanya. Dia bilang aku tidak boleh cuekin dia (walaupun aku ditolaknya). Hubungan macam apa itu ? Oh iya, aku pernah berjanji padanya bahwa apapun yang terjadi di antara kami, aku tetap sayang padanya. (Tu kan, satu lagi janji bodoh yang harus selalu ku tepati)

Dan begitulah, hampir 2 tahun aku tak menelponnya. Nyaris tidak ada yang berubah di antara kami. Aku suka mendengar gaya ketawanya itu. Menurutku, diantara sekian gadis yang ku kenal ketawanya yang paling renyah (untuk tidak menyebut artistik dan serangkaian teori musikal lainnya :)

sekian dulu


bersambung..

19.10.08

my cousin's wedding..

Hari ini seorang gadis manis di sebelah rumahku menikah. Ia selembut Khadijah dan secerdas Aisyah. Tapi perjalanan hidupnya lebih berarti ketabahan Fatimah. Hidup memang tidak begitu mudah baginya, tapi pada akhirnya ia melaluinya.

Segala cobaan hidupnya semoga berakhir di pelaminan itu: dinikahi rekan kerjanya di BPK-RI Jakarta, seorang lelaki Jawa dari keluarga yang lumayan relijius dan mudah berbaur dengan kami. Ah, semoga saja pria itu punya selera humor yang bagus. Hidup yang berat menjadikannya terlalu pendiam bahkan ketika berkumpul di tengah-tengah keluarga.

Aku suka melihatnya tertawa. Aku suka membuatnya tertawa. Hanya itu yang bisa ku lakukan untukmu, sepupuku..

recent post