Showing posts with label aku. Show all posts
Showing posts with label aku. Show all posts

8.11.08

johari window

jd inget johari window

years ago, it changed my personality, radically..
not easy change, painful but self-healing n i get a new beginning

i have cycle of 2 - 3 years to
reborn, redefine, remap, renew, reload my human soul
i feel it's time to reborn again

samsara ni'immaahiya !
*o reborn.. how pleasure !*

25.10.08

mengeja kembali Kuntowijoyo

Untuk menjadi seorang intelektual memang harus membuntuti seorang intelektual juga. Role model. Quantum Learning pun setuju dengan pendapat ini. Dari 1993 - 1995, saya berkutat dengan buku-buku terbitan pemikir-pemikir Timur Tengah: Sayyid Qutb dan saudaranya Muhammad Qutb, Hassan Albanna, Fatih Yakn, dll serta beberapa pemikir Pakistan semacam Abul A'la al-Maududi. Boleh dibilang buku-buku khas Gema Insani Press, kanan Islam.

Disamping itu, saya tertarik pada logika out-of-the-box nya Emha Ainun Najib, bapaknya Noe, vokalis Letto. Cak Nun, meski drop out, lebih populer ketimbang nama-nama besar semacam Nurcholis Madjid, Dien Syamsuddin dll. Saya membaca hampir semua bukunya. Cak Nun cukup sering datang ke Gontor. Di antaranya diundang manggung bersama Kelompok Keseniannya, Kyai Kanjeng.

Pada satu titik saya jenuh. Pemikir kanan Islam menggunakan logika sederhana, sementara logika Cak Nun tidak lagi mencukupi. Saya membutuhkan logika yang lebih metodologis, lebih akademik. Maka ketika saya direkrut jadi asisten Pustaka OPPM diumur menjelang 15 tahun, dengan cepat saya melahap buku-buku Nurcholish Madjid. Sejak saat itu saya banyak membaca buku-buku terbitan Mizan Pustaka, Penerbit Pustaka, Bentang, Pustaka Pelajar, Paramadina dan genre sejenis. Saya bahkan hafal pembuat sampul buku Mizan & Pustaka Pelajar. Pustaka Pelajar seringkali menggunakan font-font besar dan cantik. Seperti kata Daniel Purba, teman dari teman saya Bowo di Penerbit Erlangga: "Judge books by their cover !"

Pun, kemudian karena perbedaan pendapat saya dengan Cak Nur, terutama soal sekularisasi dan Teologi Inklusif, disamping saya membutuhkan pemikiran yang tidak hanya normatif tapi empiris, saya tertarik pada tulisan-tulisan Dawam Raharjo. Mas Dawam-lah yang memperkenalkan saya pada ide, bahwa ilmu-ilmu sosial harus dikuasai secara holistik, tidak parsial. Disamping saya kagum pada antusiasme Dawam yang sarjana ekonomi itu pada dunia pesantren dan ilmu tafsir.

Akan tetapi, masalahnya, Dawam hanyalah epigon Cak Nur. Ia hampir tak punya tema besar atau grand design-nya sendiri

Suatu ketika, di tahun 1997, saya melihat seorang senior ITQAN membawa sebuah buku bersampul merah berjudul Paradigma Islam. Ia mungkin senior tercanggih di angkatan 697. Sayang, saya lupa namanya. Dengan cepat saya tertarik terhadap Kuntowijoyo. Meski sedikit terlambat.

Akhirnya saya memilih membuntuti Kuntowijoyo. Sementara Suhartono TB teman saya, membuntuti Jalaluddin Rakhmat gara-gara guru pembimbingnya di Kursus Bahasa Inggris sekaligus mentor FP2WS juga membuntuti Kang Jalal, intelektual sekaligus pakar komunikasi itu. Satu tahun kemudian saya baru tahu bahwa teman seangkatan saya, Zulkarnain Nurhasan, membuntuti Emha Ainun Nadjib.

Lucunya, saat ini Zulkarnain menjadi amat sufistik gara-gara Cak Nun yang nyleneh itu. Agak nggak nyambung :) Suhartono mungkin saat ini sudah bertikai dengan pemikiran Kang Jalal. Tapi jangan ragukan keampuhan teknik komunikasi pemimpin PKS di masa depan ini. Juga saya tak meragukan pengaruh sufistik Kang Jalal tetap membekas dalam dirinya.

Di Mesir, ia bahkan didaulat menjadi Ketua PPMI 2004, organisasi yang membawahi hampir 5000 pelajar & mahasiswa Indonesia. Hanya saja ia lemah dalam tulis-menulis. Tapi syukurlah, ia memilih bidang studi yang agak berbeda ketimbang kebanyakan mahasiswa Indonesia di Mesir: Sejarah. Entah mungkin gara-gara saya menyukai Kuntowijoyo :) Yang pasti, saya tertarik dengan Kang Jalal gara-gara dia.


bersambung...

21.10.08

homesick




 

children of heaven..

20.10.08

19.10.08

full time labor, part time intellectual

Aku ingin menuliskan banyak hal di blog ini. Melampaui catatan harian Ahmad Wahib & Soe Hok Gie. Keduanya hidup di tahun 1970-an sedangkan aku meresapi alaf baru ini. Tentu saja aku percaya mampu mengatasi keduanya..

Tapi hidupku saat ini terjerambab pada pilihanpilihan sulit: buruh purna waktu sekaligus intelektual paruh waktu. Ah hidupku selalu berada di antara magnit-magnit. Dulu aku hidup antara pustaka yg hening; ITQAN yang penuh suara mesin ketik dan printer dot matrix yang saling kejar mengejar mengakali deadline terbit; FP2WS yang penuh dengan pemikiranpemikiran yang bersilang singkarut; dan Tunis kamar 1 yang penuh warna: anakanak teater gila, persistensi para kaligrafer menghasilkan 1 karya / per minggu (bahkan lukisan cat minyak ! ), anakanak LIMIT yang diam khusyuk mencipta karya seni yang riang. ( Apa aku ini bunglon yang bisa berganti warna sesuai tempat dan kemestian ? )

Di Padang, aku menemukan dunia baru setelah ku ucapkan "selamat tinggal dunia pergerakan mahasiswa ! Nyaris tak ada yang bisa kupelajari disini. Membosankan !" aku menemukan dunia baru: dunia para geek, berkenalan dengan orang-orang warnet yang aneh-aneh: si raja chatting yang bisa 3 hari 3 malam chatting di depan komputer nyaris tanpa jeda ( "lihai sekali dia bicara; nakal sekali menendang-nendang chatter lain keluar dari chatroom; mencuri password orang-orang seakan emak dia yang bikin internet" ); si tukang carding yang ngerasa semua orang cuman minjam kartu kredit dia; si hacker yang keluar masuk pintu belakang situs-situs tanpa salam; si tukang webdesign; si gamer sejati yang jadi bosan karena gak ada lagi yang bisa dikalahkannya. Orang-orang individualis yang sebaiknya jangan diganggu: "dont f**k with us. We save your *ss while u sleep !" [ Click here for NEW HACKER MANIFESTO ]

Di sini, aku bertemu lagi dengan keasyikan lama: kanan - tengah - kiri Islam ? ;
dan keasyikan baru: Kapitalisme; Sosialisme; Welfare State atau solusi Islam ?

Tapi hidupku saat ini tak memberiku waktu sejenak untuk MENGETIK. Mengeksplorasi, mengelaborasi gagasangagasanku, entah itu orisinil atau tidak.


Ah, rasanya baru kemarin hari terakhirku di PLMPM--ketika wawancara post-training--Pak Ridlo & alm. Pak Budi bertanya:

"kamu mau jadi intelektual atau entreprenuer ?"


dengan bodoh ku jawab: keduanya, Pak !

"Suatu saat kamu harus memilih salah satu di antara keduanya..."




lewat 9 tahun aku masih bingung...

recent post